Rupiah Sentuh 17.400 terhadap Dolar AS, Airlangga Ungkap Penyebabnya

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, pelemahan mata uang terhadap dolar Amerika Serikat tidak hanya dialami rupiah.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 05 Mei 2026, 17:30 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih di kisaran 17.400 pada Selasa, (5/5/2026). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak terjadi secara khusus di Indonesia, melainkan juga dialami banyak negara lain.

Dia menilai, tekanan terhadap dolar AS cenderung meningkat pada periode tertentu, termasuk saat musim ibadah haji. Pada fase ini, kebutuhan masyarakat terhadap valuta asing, khususnya dolar AS, biasanya ikut terdorong naik. Selain itu, memasuki kuartal kedua, permintaan dolar juga meningkat seiring dengan periode pembayaran dividen oleh sejumlah perusahaan.

"Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS dan biasanya juga pada saat ibadah haji demand terhadap dolar itu meningkat,” ujar Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (5/5/2026).

Pemerintah, lanjut dia, terus memantau dinamika tersebut, termasuk membandingkan pergerakan mata uang di berbagai negara untuk melihat apakah tekanan yang terjadi bersifat global atau domestik.

"Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan tersebut dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen jadi demand terhadap dolar tinggi dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain,” jelasnya.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa, 5 Mei 2026 turun 30 poin atau 0,17% menjad 17.424 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 17.394 per dolar AS.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa ini juga susut ke level 17.425 per dolar AS dari sebelumnya 17.368 per dolar AS.

Purbaya Tepis Isu Fiskal Goyah Jadi Penyebab Rupiah Melemah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Peresmian Program PINTAR Reksa Dana, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (27/4/2026). (Liputan6.com/Tira)

Sebelumnya, isu pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan kondisi fiskal Indonesia mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh data, terutama jika melihat kekuatan fundamental ekonomi nasional, termasuk ketahanan energi.

Purbaya menegaskan bahwa dalam konteks global yang penuh tekanan, Indonesia justru berada dalam posisi relatif kuat dibanding banyak negara lain. Ia merujuk pada sejumlah kajian internasional yang menempatkan Indonesia dalam jajaran teratas ketahanan energi saat menghadapi potensi krisis global.

“Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah. Maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti tanya BI ya, jangan tanya saya, mereka yang berhak menjawab. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat.” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers, Selasa (5/5/2026).

Ia juga menyinggung perbandingan posisi Indonesia dengan negara besar lain, yang menurutnya menunjukkan daya tahan ekonomi domestik masih solid di tengah risiko global.

“Itu nomor dua tuh. Perbandingan ketahanan energi terhadap krisis energi global. Kalau ada krisis global, Kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain,” ujarnya.

Purbaya membantah narasi yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini justru masih berada dalam fase ekspansi dan akselerasi, berbeda jauh dengan kondisi resesi yang terjadi sebelum krisis 1998.

Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada spekulasi yang tidak berbasis data, serta menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil dan terkendali.

 

Rupiah Tembus Rp 17.400, BI Ambil Langkah Ini

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara terkait pelemahan rupiah yang kini telah menembus Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS). BI menegaskan, pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.

Erwin mengatakan BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan BI, Selasa (5/5/2026).

Menurut BI, Rupiah tidak melemah sendirian, melainkan nilai tukar mata uang negara tetangga seperti Philippine Peso melemah sebesar 6,58%, Thailand Baht melemah 5,04%, India Rupee melemah 4,32%, demikian pula dengan Chile Peso (-4,24%), Indonesia Rupiah (-3,65%), dan Korea Won (-2,29%).

Erwin mengatakan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global.

"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," pungkasnya. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya