Trump Ungkap Kisah Ibunya Pernah Naksir Raja Charles III

Sambutan Trump terhadap raja dan ratu Inggris berlangsung dalam suasana cair, meski pemerintahan AS dan Inggris sedang berseberangan dalam sejumlah isu.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 April 2026, 13:02 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump bersama Raja Inggris Charles III dan Ratu Camilla berfoto di dekat sarang lebah Gedung Putih, Washington, Senin (27/4/2026). (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut kunjungan kenegaraan Raja Charles III di Gedung Putih pada Selasa (28/4/2026), dengan gaya khasnya.

Setelah band militer memberikan penghormatan diplomatik tertinggi yang dapat diberikan AS kepada kepala negara yang berkunjung, Trump naik ke podium dan berkata, "Betapa indahnya hari khas Inggris seperti ini", merujuk pada cuaca hujan hari itu—kontras dengan kondisi cerah dan panas di Washington, DC, sehari sebelumnya.

Trump kemudian memuji Raja Charles III atas aksennya yang indah, sambil bercanda bahwa hal itu akan membuat semua orang sangat iri, yang disambut tawa hadirin. Ia melanjutkan dengan penghormatan terhadap hubungan sejarah antara AS dan Inggris, termasuk kata-kata hangat untuk mendiang Ratu Elizabeth II, ibunda Raja Charles III, yang menunjukkan kekagumannya terhadap keluarga kerajaan dan seremoni yang menyertainya.

Pidato presiden AS tersebut disampaikan pada saat pemerintahan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Trump semakin terpecah terkait perang Iran, pertahanan, dan aliansi NATO.

Namun, Trump tidak menyinggung perbedaan tersebut dalam pidatonya.

Sebaliknya, ia memuji "hubungan khusus" antara Washington dan London dan menggambarkan kunjungan ini sebagai simbol dari ikatan sejarah, budaya, dan militer yang mendalam antara kedua negara, walaupun AS merayakan kemerdekaannya dari Inggris sejak 1776.

Sikap Trump dipandang ironi karena menghormati seorang raja Inggris di tengah monumen George Washington dan Thomas Jefferson—para pendiri negara—di ambang peringatan 250 tahun kemerdekaan AS.

Namun, ia menilai tidak ada penghormatan yang lebih tepat.

"Jauh sebelum orang Amerika memiliki sebuah negara atau konstitusi, kami terlebih dahulu memiliki budaya, karakter, dan keyakinan," kata Trump seperti dikutip dari laporan TRT. "Para patriot Amerika yang mempertaruhkan hidup mereka untuk kemerdekaan pada 1776 adalah pewaris dari warisan agung ini. Darah mereka mengalir dengan keberanian Anglo-Saxon dan hati mereka berdetak dengan keyakinan yang berakar dari Inggris."

Trump menelusuri akar kebebasan bersama dari penandatanganan Magna Carta di Runnymede hingga jalan-jalan di Philadelphia, menegaskan bahwa perjuangan kebebasan bukanlah "penemuan intelektual tahun 1776", melainkan puncak dari perjuangan berabad-abad di kedua sisi Atlantik.

Ia juga menunjuk pada pohon yang ditanam oleh mendiang Ratu Elizabeth II di halaman Gedung Putih sebagai simbol hubungan tersebut.

"Seperti negara kami sendiri, pohon itu ditanam dengan tangan Inggris, tetapi tumbuh di tanah Amerika," ujar Trump.

"Kini pohon itu berdiri tinggi dan kokoh… dan pagi ini mengingatkan kita bahwa pohon yang paling besar, seperti negara yang paling besar, harus berakar pada fondasi yang paling kuat dan paling dalam."

Kisah Pribadi ke Hubungan Bersejarah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump bersama Raja Inggris Charles III dan Ratu Camilla berbincang dengan asisten pastry chef Gedung Putih, Carlo Figarella, saat melihat sebuah pajangan di taman Gedung Putih di South Lawn, Washington, Senin, 27 April 2026. (Dok. AP/Alex Brandon)

Trump kemudian menyinggung hubungan pribadinya dengan Inggris melalui ibunya, Mary Anne MacLeod Trump, yang lahir di Stornoway, Skotlandia. Ia mengenang kekaguman ibunya terhadap keluarga kerajaan, khususnya Ratu Elizabeth II dan Raja Charles III saat muda.

"Ia datang ke Amerika pada usia 19 tahun, bertemu ayah saya yang luar biasa. Kami mencintainya, kami mencintai ayah saya. Fred (Frederick Christ Trump), dan mereka menikah selama... 63 tahun," kisah Trump.

Trump lalu berhenti sejenak, menoleh kepada Ibu Negara Melania Trump yang berdiri di samping Ratu Camilla dan berkata, "Itu bukan rekor yang bisa kita capai, sayang. Maaf—sepertinya tidak akan terjadi seperti itu."

Ia kemudian mengatakan bahwa ibunya menghormati keluarga kerajaan dan sang ratu.

"Ia benar-benar mencintai keluarga itu, tetapi saya juga ingat ia pernah bilang dengan sangat jelas, Charles, lihat, Charles muda, dia sangat tampan. Itu ibu saya. Ibu saya naksir Charles. Bisa Anda bayangkan? Luar biasa... apa yang sedang ia pikirkan sekarang," ujarnya.

Trump juga merujuk pada pertemuan era Perang Dunia II antara Perdana Menteri Winston Churchill dan Presiden Franklin D. Roosevelt di atas kapal HMS Prince of Wales—gelar yang pernah disandang Charles lebih lama dibanding pewaris takhta sebelumnya.

Ia menyebut patung Churchill yang baru dikembalikan ke Ruang Oval sebagai pengingat lain dari aliansi tersebut.

Beberapa jam setelah acara, Raja Charles III menjadi raja Inggris pertama yang berbicara di sidang gabungan Kongres AS—kesempatan yang menurut Trump ingin ia hadiri meskipun terhalang protokol.

"Di sana, keturunan langsung Raja George III akan berbicara kepada penerus langsung dari lembaga yang berkumpul di Independence Hall pada 4 Juli 1776. Jika John Adams dan George Washington atau leluhur kelima raja tersebut, dapat melihat pemandangan itu, mereka mungkin akan sangat terkejut. Namun mungkin hanya sesaat."

Trump menambahkan, "Mereka akan sangat terharu mengetahui bahwa para tentara yang dahulu saling menyebut redcoat (tentara Inggris) dan Yankee (tentara Amerika), kemudian menjadi Tommies dan GI, yang bersama-sama menyelamatkan dunia bebas, sebagai saudara seperjuangan dan saudara selamanya dan tidak ada yang bertempur lebih baik bersama daripada kita berdua."

Ia menutup pidatonya dengan memuji AS dan Inggris sebagai dua negara paling luar biasa yang pernah ada di dunia, serta menyerukan kelanjutan kerja sama dalam membela kebebasan.

Empat jet tempur AS melintas di atas Gedung Putih dalam atraksi flypast yang disaksikan oleh Trump, Raja Charles III, Ratu Camilla, dan Melania setelah pidato tersebut.

Kunjungan pasangan kerajaan Inggris ke AS berlangsung dengan pengamanan ketat, beberapa hari setelah insiden penembakan terkait acara White House Correspondents Dinner yang dihadiri Trump, yang oleh pemerintah disebut sebagai upaya pembunuhan ketiga terhadap presiden dalam dua tahun terakhir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya