Laporan Media Asing Ungkap Dugaan Keterkaitan China dan Iran di Tengah Konflik

Sejumlah media asing mengungkap keterlibatan China dalam perang Iran.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 27 April 2026, 12:16 WIB
Media lokal Iran melaporkan kebakaran besar terjadi di Teheran dan mengonfirmasi bahwa kilang minyak dan fasilitas penyimpanan minyak terkena dua rudal serangan udara. Tampak dalam foto, empat pria berjalan berlatar kepulan asap tebal dari serangan gabungan AS-Israel terhadap fasilitas penyimpanan minyak pada Sabtu 7 Maret 2026 malam yang membubung ke langit di Teheran, Minggu, 8 Maret 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Beijing - China menghadapi sorotan internasional setelah sejumlah laporan media mengungkap dugaan keterlibatannya dalam mendukung Iran di tengah konflik Timur Tengah, meskipun Beijing secara resmi menyatakan netral dan menyerukan perdamaian.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa China tidak hanya memiliki hubungan lama dalam kerja sama militer dengan Iran, tetapi juga diduga terus memasok teknologi dan material strategis yang berpotensi memperkuat kemampuan tempur Teheran. Hubungan tersebut bahkan disebut telah berlangsung selama beberapa dekade, termasuk praktik barter minyak dengan persenjataan untuk menghindari sanksi internasional, dikutip dari laman The Diplomat, Senin (27/4/2026).

Laporan Financial Times pada 15 April mengungkap bahwa perusahaan China diduga menyediakan satelit pengintai komersial kepada Iran. Satelit tersebut disebut mampu memberikan data penargetan presisi terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam laporan itu, perusahaan China Earth Eye Co disebut membangun dan meluncurkan satelit TEE-01B serta menyediakan layanan operasional di orbit. Perusahaan lain, Emposat, juga dilaporkan memasok data satelit dan sistem kendali kepada Iran. Dukungan ini dinilai berpotensi meningkatkan akurasi serangan Iran terhadap target militer.

Selain itu, perusahaan teknologi China lainnya, MizarVision, disebut turut berperan melalui penyediaan citra satelit dengan penandaan lokasi sejumlah fasilitas militer AS, bahkan sebelum dan selama konflik berlangsung.

 

Laporan CNN

Serangan ini menandai eskalasi terbaru konflik di kawasan tersebut. Tampak dalam foto, pasukan keamanan Israel dan tim penyelamat memeriksa lokasi serangan rudal Iran di Tel Aviv, Israel, Selasa, 24 Maret 2026. (AP Photo/Oded Balilty)

Sementara itu, laporan CNN pada 12 April menyebut China diduga akan mengirimkan sistem pertahanan udara jarak pendek kepada Iran. Sistem rudal anti-pesawat portabel tersebut dinilai tetap berbahaya, terutama bagi helikopter dan pesawat yang terbang rendah. Namun, Beijing membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak terlibat dalam pengiriman senjata.

Dugaan dukungan juga mencakup pasokan bahan kimia untuk bahan bakar rudal balistik. Laporan The Telegraph pada awal April menyebut sejumlah kapal yang berangkat dari pelabuhan Zhuhai Gaolan di China mengangkut natrium perklorat, bahan utama propelan roket berbahan bakar padat, menuju Iran. Jumlah yang dikirim disebut cukup untuk memproduksi ratusan rudal balistik.

Temuan ini sejalan dengan laporan The Wall Street Journal yang sebelumnya mengungkap pengiriman sekitar 1.000 ton bahan serupa, cukup untuk ratusan rudal jarak menengah milik Iran.

Tak hanya itu, laporan Reuters juga menyebutkan bahwa China dan Iran hampir mencapai kesepakatan penjualan rudal jelajah anti-kapal CM-302. Rudal dengan jangkauan sekitar 290 kilometer tersebut merupakan versi ekspor dari sistem YJ-12 buatan China.

Selain transfer material militer, China juga dilaporkan berkontribusi dalam pengembangan program drone Iran serta teknologi pendukung lainnya, yang dinilai semakin memperkuat kapabilitas militer negara tersebut.

Keterlibatan ini memicu kekhawatiran baru di tengah konflik kawasan, terutama karena China, bersama Rusia dan Iran, dinilai memiliki kepentingan strategis yang lebih luas dalam menantang dominasi Amerika Serikat dalam tatanan global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya