4 ABK WNI Jadi Korban Pembajakan Kapal di Somalia, Kemlu Intensifkan Upaya Pembebasan

Pembajakan kapal yang ditumpangi 4 ABK WNI ini terjadi pekan lalu.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 27 April 2026, 15:31 WIB
Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah pada Rabu (8/4/2026) di Jakarta, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap WNI di Timur Tengah. (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Liputan6.com, Mogadishu - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan koordinasi intensif dan langkah lanjutan telah ditempuh untuk memastikan keamanan dan keselamatan anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban pembajakan kapal di Somalia.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengonfirmasi pihaknya telah menindaklanjuti laporan pembajakan kapal MT Honour 25 yang terjadi di perairan sekitar Hafun, Somalia, pada Rabu (22/4) lalu.

"KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia," kata Heni kepada ANTARA di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Ia menyampaikan bahwa upaya saat ini difokuskan pada tindak lanjut penanganan yang melibatkan otoritas pemerintah setempat, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha terkait.

"KBRI Nairobi akan terus memantau perkembangan situasi secara saksama melalui koordinasi intensif dan terukur dengan seluruh pihak terkait lainnya untuk memastikan proses penanganan berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan para ABK WNI," ucap Heni.

Heni menambahkan bahwa menurut informasi yang diperoleh, di dalam kapal tersebut terdapat empat WNI, kemudian 10 WN Pakistan, seorang WN India, dan seorang WN Myanmar.

Pada Minggu (26/4), keluarga korban pembajakan MT Honour 25 meminta pemerintah RI dan Presiden Prabowo Subianto agar segara menyikapi kasus tersebut demi keselamatan para ABK.

Sitti Aminah, ibu kandung Kapten kapal Honour 25 Ashari Samadikun, menyebut kapal yang dinakhodai anaknya mengangkut komoditas minyak dan berlayar dari Oman sejak awal tahun ini.

Sementara itu, istri korban, Santi Sanjaya, menuturkan masih dapat berkomunikasi dengan suaminya sebelum kapal tersebut diambil alih bajak laut Somalia. Dalam komunikasi terakhir, korban sempat menyebut kapalnya akan diserang perompakan.

Santi mengisahkan setelah berhasil terhubung kembali dengan suaminya di atas kapal, diketahui para ABK dalam kondisi baik, tetapi mereka menghadapi tekanan psikologis karena situasi yang berubah-ubah.

Ia juga mengungkapkan para perompak meminta tebusan uang.

Menurut pemberitaan sebelumnya, diketahui keempat WNI di kapal tersebut terdiri dari dua warga Sulawesi Selatan dan dua lainnya asal Jawa Barat dan Jawa Tengah

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya