Netanyahu Perintahkan Serangan Intensif ke Hizbullah, Gencatan Senjata Kian Terancam

Perintah Netanyahu langsung diikuti serangan baru Israel di wilayah Lebanon selatan.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 26 April 2026, 17:04 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu saat memberikan pidato di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS) pada Rabu (24/7/2024). (Dok. AP Photo/Julia Nikhinson)

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militernya untuk melancarkan serangan intensif terhadap target Hizbullah di Lebanon, hanya dua hari setelah perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu disepakati.

Perintah tersebut segera diikuti serangan baru Israel di wilayah Lebanon selatan. Otoritas kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya enam orang tewas pada Sabtu akibat serangan di sejumlah lokasi, termasuk di kota Yohmor al-Shaqeef, distrik Nabatieh, serta Safad al-Battikh di distrik Bint Jbeil. Selain korban tewas, belasan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Militer Israel, Israel Defense Forces, menyatakan telah “mengeliminasi” sejumlah anggota Hizbullah yang disebut tengah membawa senjata dan dianggap mengancam pasukan mereka di lapangan, dikutip dari BBC, Minggu (26/4/2026).

IDF juga melaporkan adanya “target udara mencurigakan” di wilayah Malkia yang dinilai sebagai pelanggaran tambahan terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan balasan dengan menargetkan kendaraan militer Israel di Lebanon selatan, sebagai respons atas serangan sebelumnya.

Pertukaran serangan lintas batas ini menunjukkan rapuhnya gencatan senjata yang sebelumnya diperpanjang setelah perundingan di Washington. Meski kesepakatan tersebut sempat menurunkan intensitas konflik, bentrokan bersenjata masih terus terjadi.

 

Serangan di Lebanon Selatan

Dengan menggunakan 50 jet tempur, serangan Israel menghantam 100 target dalam waktu hanya 10 menit. Tampak dalam foto, para pekerja pertahanan sipil Lebanon dan sebuah ekskavator membersihkan puing-puing di lokasi bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel sehari sebelumnya di pusat kota Beirut, Lebanon, Kamis 9 April 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Media pemerintah Lebanon melaporkan serangan lanjutan Israel terjadi di beberapa wilayah lain di Lebanon selatan, termasuk distrik Bint Jbeil, Tyre, dan Nabatieh, menyusul instruksi langsung dari Netanyahu.

IDF menegaskan operasi militernya menyasar infrastruktur yang disebut sebagai fasilitas militer Hizbullah. Mereka menyatakan akan terus bertindak tegas terhadap ancaman yang ditujukan kepada warga sipil Israel maupun pasukan mereka.

Di tengah meningkatnya eskalasi, kelompok advokasi internasional Media Freedom Coalition mengecam kekerasan terhadap jurnalis di Lebanon. Pernyataan bersama yang dipimpin Inggris dan Finlandia menegaskan bahwa serangan terhadap pekerja media tidak dapat diterima.

Kecaman ini muncul setelah seorang jurnalis Lebanon, Amal Khalil, tewas dalam serangan udara Israel pada Rabu lalu, sementara fotografer lepas Zeinab Faraj mengalami luka-luka. Pejabat Lebanon menuding para jurnalis tersebut menjadi target saat berlindung di sebuah rumah pasca-serangan awal.

Namun, IDF membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak menargetkan jurnalis dalam operasinya.

Situasi di Lebanon selatan hingga kini masih tegang, dengan Israel dilaporkan tetap mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah dan terus melakukan operasi yang disebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman keamanan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya