Strategi BI Redam Ancaman Inflasi Usai BBM Nonsubsidi Naik

Bank Indonesia tegaskan inflasi Maret 2026 terjaga di 3,48%. BI siapkan strategi antisipasi lonjakan harga akibat BBM, cuaca ekstrem, dan jaga pasokan pangan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 23 April 2026, 11:45 WIB
Selain itu, harga Bahan Bakkar Minyak (BBM) dan tarif angkutan antarkota juga turut memberi tekanan inflasi. Tampak dalam foto, aktivitas pedagang dan pembeli di pasar tradisional di Palmerah Jakarta, Jumat (3/4/2026). (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyiapkan serangkaian jurus untuk meredam potensi lonjakan inflasi pasca kenaikan harga BBM nonsubsidi. Deputi Gubernur Ricky Perdana Gozali memastikan, hingga Maret 2026 inflasi masih terkendali di level 3,48% secara tahunan (year on year), atau tetap berada dalam target 2,5% ±1%.

"Saya sampaikan bahwa alhamdulillah inflasi kita untuk bulan Maret ini 2026 inflasi IHK kita ini tercatat masih terjaga 3,48% year on year ini masih di dalam kisaran yang kita tetapkan yang kita targetkan 2,5% plus minus 1," kata Ricky dalam Konferensi Pers RDG April 2026, ditulis Kamis (23/4/2026).

Namun, BI mengakui tekanan ke depan tidak bisa dihindari. Kenaikan harga energi global, jalur perdagangan, hingga risiko cuaca ekstrem seperti El Nino menjadi faktor yang dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa dalam negeri.

"Mengenai harga BBM memang ini akan mempengaruhi terutama dari harga-harga yang ada, terutama kalau lihat dari pergembangan global tentunya akan berpengaruh dari jalur perdagangan dan jalur harga komoditas," ujarnya.

Selain itu, BI juga mengoptimalkan peran 46 kantor perwakilan dalam negeri untuk memantau langsung perkembangan harga di daerah. Langkah ini penting agar respons kebijakan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

"Untuk itu Bank Indonesia melalui 46 kantor perwakilan dalam negeri ini siap merespon potensi tekanan inflasi dari global khususnya dari kenaikan harga energi atau BBM," ujarnya.

 

Jaga Pasokan dan Distribusi Pangan

Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanudin dalam rilisnya pada 1 Juli 2025 mengatakan berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,09 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Strategi berikutnya adalah memastikan kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi pangan. BI mendorong kerja sama antar daerah, khususnya antara wilayah surplus dan defisit komoditas pangan.

Program distribusi pangan diperkuat agar tidak terjadi kelangkaan yang bisa memicu lonjakan harga. Selain itu, operasi pasar murah juga digencarkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

"Program fasilitas distribusi pangan, kemudian kita tingkatkan kerjasama antar daerah di daerah yang surplus dan daerah yang defisit. Kemudian, gerakan pasar murah. Ini semuanya untuk menjaga dari kecukupan pasokan kemudian juga kelancaran dari distribusi serta stabilitas harga pangan di berbagai daerah," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya