Liputan6.com, Jakarta - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memperkuat perannya sebagai mitra strategis bagi pelaku ekspor nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang turut menekan kinerja perdagangan internasional.
Kepala Divisi NIA & Strategic Assignment LPEI, Berlianto Wibowo, menegaskan bahwa Eximbank hadir dengan mandat khusus dari pemerintah untuk memberikan dukungan yang tidak dimiliki perbankan komersial. Mandat tersebut diwujudkan melalui skema National Interest Account (NIA) yang menjadi instrumen intervensi negara dalam menjaga keberlangsungan ekspor nasional.
Advertisement
“Mungkin dari Indonesia Eximbank kami menyampaikan detail bahwa salah satu bukti negara hadir memang kita sebut punya mandat khusus. Nah pemerintah ini memberikan salah satu program yang memang diberikan kepada hanya di Indonesia Eximbank ini berbeda dengan Komersial Bank,” ujarnya dalam acara Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dorong Pertumbuhan Ekonomi, di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026).
Dalam praktiknya, Eximbank tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga aktif memberikan pendampingan kepada debitur dan calon debitur melalui edukasi terkait kondisi pasar global yang terus berubah. Edukasi ini mencakup pemahaman terhadap dinamika makroekonomi, identifikasi negara tujuan yang terdampak, hingga strategi yang dapat ditempuh eksportir untuk tetap bertahan.
Berlianto menjelaskan, di tengah kondisi ekspor yang “tidak baik-baik saja”, pendekatan edukasi menjadi langkah awal untuk membantu pelaku usaha memahami situasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Selain itu, diskusi rutin dengan eksportir juga dilakukan untuk memperbarui informasi terkait risiko di berbagai negara tujuan.
Di sisi lain, Eximbank juga mendorong strategi diversifikasi pasar sebagai salah satu kunci menghadapi perlambatan di pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan China. Melalui program penugasan khusus ekspor, pelaku usaha didorong untuk menjajaki pasar non-tradisional seperti Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa Timur, hingga Amerika Latin.
“Nah salah satu program yang memang berimpact kepada langsung pelaku ekspor adalah bagaimana mereka mendiversifikasi market. Kalau kondisi market sedang tidak baik-baik saja kita punya yang namanya program penugasan khusus ekspor,” tuturnya.
Penugasan Khusus
Berlianto mengungkapkan, Eximbank memiliki sembilan program penugasan khusus ekspor yang dirancang untuk menjawab berbagai kebutuhan pelaku usaha, termasuk program yang secara spesifik menyasar pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Melalui program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM, Eximbank mendorong peningkatan daya saing produk agar mampu menembus pasar global.
Tak hanya dari sisi ekspansi pasar, perlindungan terhadap risiko transaksi juga menjadi perhatian utama. Dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, potensi gagal bayar dari mitra dagang di luar negeri menjadi salah satu risiko terbesar bagi eksportir.
Untuk itu, Eximbank menghadirkan fasilitas trade credit insurance yang berfungsi melindungi tagihan eksportir dari risiko gagal bayar. Skema ini didukung oleh basis data yang dimiliki Eximbank untuk memetakan tingkat risiko di masing-masing negara tujuan ekspor.
“Apakah kita perlu, nah yang terakhir kita punya yang namanya trade credit insurance. Itu kita sebut dengan asuransi bagaimana ketika nanti ada bayar yang gagal bayar itu kita jaga.”
Dengan kombinasi antara edukasi, diversifikasi pasar, dukungan pembiayaan, serta perlindungan risiko, Eximbank berupaya memastikan pelaku ekspor nasional tetap memiliki ruang untuk tumbuh meski dihadapkan pada tekanan global. Pendekatan ini sekaligus menegaskan peran Eximbank tidak hanya sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga sebagai mitra yang aktif mendampingi eksportir dalam menyusun strategi bisnis yang adaptif dan berkelanjutan.