Bahan Baku Plastik Melonjak, Begini Jurus YPAS Jaga Produksi

Kenaikan harga bahan baku plastik dan terganggunya rantai pasok global menjadi tantangan utama yang dihadapi Yanaprima Hastapersada (YPAS).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 16 April 2026, 17:11 WIB
PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi tekanan berat di industri plastik yang dipicu lonjakan harga dan kelangkaan bahan baku. (Dok. Liputan6.com/Dyra Daniera)

Liputan6.com, Jakarta - PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi tekanan berat di industri plastik yang dipicu lonjakan harga dan kelangkaan bahan baku.

Di tengah situasi yang menekan dari sisi hulu hingga hilir, perseroan berupaya menjaga keberlangsungan bisnis melalui kombinasi kebijakan operasional dan finansial. Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata menuturkan, kenaikan harga bahan baku yang signifikan serta terganggunya rantai pasok global menjadi tantangan utama yang dihadapi perusahaan saat ini.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi dan permintaan pasar. Salah satu langkah utama yang diambil perseroan adalah melakukan penyesuaian harga jual produk secara bertahap. Kebijakan ini ditempuh sebagai respons atas lonjakan harga bahan baku yang tidak terhindarkan, sekaligus untuk menjaga margin usaha tetap terjaga di tengah tekanan biaya.

"Untuk strategi perseroan yang akan diambil di antaranya saat ini perseroan telah melakukan penyesuaian harga secara bertahap sebagai akibat dari kenaikan dan kelangkaan bahan baku," kata Rinawati dalam Public Expose YPAS, Kamis (16/4/2026).

Namun, penyesuaian harga tidak dilakukan secara agresif. Perseroan tetap mempertimbangkan kondisi pasar, mengingat tidak semua konsumen dapat langsung menerima kenaikan harga. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi menekan volume permintaan. Strategi Lainnya

Selain dari sisi harga, YPAS juga fokus menjaga stabilitas produksi dan pasokan. Perseroan berupaya memastikan ketersediaan bahan baku sesuai kebutuhan, meskipun di tengah keterbatasan pasokan yang terjadi saat ini.

"Perseroan tetap berusaha menjaga kemampuan produksi dan supply," ujarnya. Dari sisi keuangan, perusahaan mengambil langkah restrukturisasi term of payment kepada pelanggan. YPAS memperpendek jangka waktu pembayaran serta meminta sebagian konsumen untuk menyesuaikan skema pembayaran guna menjaga kesehatan arus kas perusahaan.

 

Laba YPAS Melonjak 220% meski Produksi Turun

Ilustrasi laporan keuangan (Foto: Isaac Smith/Unsplash)

Sebelumnya, PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) mencatat lonjakan laba signifikan sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,5 miliar atau mencapai 220% dari target yang telah ditetapkan.

"Dari segi profitabilitas, peningkatan pendapatan perseroan yang diiringi dengan pencapaian efisiensi biaya-biaya berpengaruh terhadap pencapaian profit perseroan sebesar 220% dari target yang telah ditetapkan, yaitu terdapat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 5,5 miliar," kata Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata, dalam Public Expose, Kamis (16/4/2026).

Kinerja tersebut tidak lepas dari strategi perseroan yang lebih selektif dalam menentukan pasar dan harga jual, dengan fokus pada segmen produk bernilai tinggi (high value). Langkah ini terbukti mampu menjaga profitabilitas di tengah dinamika permintaan pasar.

Rinawati mengungkapkan perseroan secara aktif mengarahkan penjualan ke segmen dengan margin lebih tinggi, termasuk produk untuk kebutuhan food grade dan ekspor.

"Sepanjang tahun 2025, perseroan merambah ke pasar yang memiliki high value untuk fasilitas food grade," ujarnya.

Sepanjang 2025, penjualan perseroan mencapai Rp 362,4 miliar atau 101% dari target Rp 360 miliar. Angka ini juga tumbuh 5,4% dibandingkan realisasi 2024.

Penopang Peningkatan Pendapatan YPAS 2025

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh penyesuaian harga jual sepanjang tahun serta pergeseran fokus ke pasar dengan nilai tambah lebih tinggi. Dari sisi segmen, penjualan karung plastik mencatat kenaikan 13,5% menjadi Rp 159,2 miliar. Selain itu, segmen roasted dan sandwich melonjak signifikan hingga 147% seiring ekspansi pasar ekspor.

Sebaliknya, segmen kantong semen mengalami penurunan 21,2% menjadi Rp 131,9 miliar akibat melemahnya permintaan domestik. Namun, perseroan tetap menjaga kinerja dengan mengalihkan fokus ke segmen yang lebih menguntungkan.

"Dari segmen kantong semen, tahun 2025 mengalami penurunan 21,2% atau sebesar Rp 131,9 miliar dibandingkan tahun 2024 yang mencatat penjualan sebesar Rp 167,4 miliar," ujarnya.

Efisiensi Biaya

Selain strategi penjualan, peningkatan laba YPAS juga ditopang oleh efisiensi biaya dan penurunan harga bahan baku. Hal ini mendorong margin laba kotor perseroan naik sebesar 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, laba kotor tercatat sebesar Rp 32,4 miliar, meningkat dari Rp 24,7 miliar pada 2024. Sementara itu, laba usaha juga mengalami kenaikan sebesar 2,1%.

"Sepanjang tahun 2025 laba kotor perseroan tercatat Rp 32,4 miliar dan Rp 24,7 miliar. Laba usaha perseroan juga mengalami kenaikan 2,1% di tahun 2025. Sehingga perolehan laba tahun terjalan mencapai Rp 5,5 miliar," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya