Iran Menolak Tunduk pada Ancaman Setelah Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz

Apa alasan Trump tiba-tiba mengumumkan blokade Selat Hormuz?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 April 2026, 09:18 WIB
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam perjalanannya ke Islamabad mengamati foto dan barang anak-anak Iran yang tewas pada 28 Februari 2026. (Dok. X/@mb_ghalibaf)

Liputan6.com, Teheran - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada ancaman setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan Ghalibaf kepada wartawan setelah kembali ke Teheran dari Islamabad, Pakistan, usai memimpin perundingan damai dengan AS yang berakhir tanpa kesepakatan. Sejumlah kantor berita Iran melaporkan pernyataan tersebut pada Minggu (12/4/2026).

"Jika mereka berperang, kami akan berperang. Jika mereka datang dengan logika, kami akan merespons dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi agar kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar," ujar Ghalibaf seperti dikutip dari Al Arabiya.

Sementara itu, Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani menyatakan bahwa Angkatan Laut Iran terus memantau seluruh pergerakan militer AS di kawasan. Menurutnya ancaman blokade laut tersebut tidak serius.

"Ancaman presiden AS untuk memblokade Iran di laut sangat konyol dan menggelikan," katanya seperti dikutip televisi pemerintah Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dua minggu dengan AS dan akan ditindak secara keras dan tegas.

Dalam pernyataan resmi yang dilaporkan media pemerintah, IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali dan "manajemen cerdas" Angkatan Laut Iran. Iran tetap membuka jalur itu bagi kapal non-militer yang mematuhi aturan tertentu.

Trump mengaku memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz karena Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya.

"Jadi, begitulah adanya, pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu poin yang paling penting, NUKLIR, tidak," ujar Trump merujuk pada perundingan di Pakistan. "Mulai saat ini, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz."

 

Ancaman Trump

Dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan pada Minggu, Trump kembali mengancam infrastruktur energi Iran. Ia bahkan menyatakan bahwa AS mampu melumpuhkan seluruh fasilitas energi Iran dalam satu hari. Selain itu, ia mengancam akan mengenakan tarif 50 persen terhadap impor China jika Beijing membantu militer Iran.

Ketegangan meningkat setelah perundingan tingkat tinggi antara kedua negara—yang merupakan pertemuan paling signifikan sejak Revolusi Islam 1979—gagal mencapai kesepakatan. Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

"Saya selalu mengatakan, sejak awal, dan bertahun-tahun lalu, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujarnya.

Ia menyebut bahwa blokade akan segera dimulai dan melibatkan negara-negara lain, meski tidak merinci pihak-pihak tersebut.

Setelah perundingan, Vance menyatakan bahwa Washington telah memberikan "penawaran terakhir dan terbaik" kepada Teheran dan kini menunggu apakah Iran akan menerimanya.

Adapun Ghalibaf menanggapi bahwa ia telah mengajukan inisiatif konstruktif dalam perundingan, namun pihak AS tidak mampu membangun kepercayaan Iran.

Kegagalan perundingan ini meningkatkan kekhawatiran akan kembalinya konflik bersenjata, yang dapat mendorong kenaikan harga energi global serta mengganggu sektor pelayaran dan fasilitas minyak serta gas.

Selaku mediator, Pakistan mendesak kedua negara untuk terus menghormati gencatan senjata yang telah disepakati.

Blokade Berlaku Mulai 13 April

Komando Pusat AS, United States Central Command (CENTCOM), pada Minggu mengumumkan akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April.

"CENTCOM akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April pukul 10.00 waktu Timur AS, sesuai dengan proklamasi presiden," demikian bunyi pernyataan CENTCOM via X.

Jika dikonversikan maka blokade dimulai hari ini pukul 21.00 WIB.

CENTCOM menegaskan bahwa blokade akan diberlakukan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Blokade itu juga mencakup seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

"Pasukan CENTCOM tidak akan menghambat kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan non-Iran," tambahnya.

Komando tersebut menyatakan pula akan memberikan pemberitahuan kepada kapal-kapal komersial sebelum blokade diberlakukan. Seluruh kapal di Teluk Oman dan Selat Hormuz diimbau untuk memantau siaran maritim dan menghubungi pasukan Angkatan Laut AS jika diperlukan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya