Liputan6.com, Jakarta - Radiator coolant merupakan cairan penting yang berfungsi menjaga suhu mesin tetap stabil. Cairan ini mengandung Ethylene Glycol, yang berperan mengatur tingkat penguapan sekaligus meningkatkan efektivitas kerja sistem pendingin, menyesuaikan dengan teknologi mesin yang digunakan.
Glycol menjadi komponen utama dalam radiator coolant, dengan komposisi yang disesuaikan pada jenis mesin kendaraan.
Advertisement
Mesin modern seperti direct injection, turbocharged, hybrid, hingga listrik membutuhkan cairan radiator khusus agar tidak mudah menguap dan tetap optimal dalam menjaga suhu mesin.
"Keandalan radiator coolant tidak hanya dilihat dari kemampuan melepaskan panas mesin. Cairan ini juga harus memiliki kemampuan dalam menekan timbulnya karat dalam sirkulasi radiator. Karat dapat muncul karena beberapa hal, seperti penggunaan air biasa atau air keran rumahan yang mengandung mineral dan klorin yang dapat memicu korosi pada logam. Kombinasi panas tinggi dari mesin dan kandungan oksigen dalam air turut mempercepat oksidasi logam," jelas President Director PT Autochem Industry (AI) Henry Sada di Jakarta.
Karat pada sistem pendingin bisa muncul dari berbagai faktor, mulai dari penggunaan air biasa, jarang mengganti coolant, hingga kerusakan pada tutup radiator yang memungkinkan oksigen masuk.
Selain itu, cairan radiator juga memiliki masa pakai. Jika tidak diganti secara berkala, aditif anti korosi akan habis sehingga komponen logam lebih mudah berkarat.
Secara umum, aditif anti karat pada radiator coolant terbagi menjadi dua jenis, yaitu IAT (In-organic Acid Technology) dan OAT (Organic Acid Technology).
IAT merupakan teknologi lama yang efektif melindungi logam, terutama pada radiator berbahan tembaga dan kuningan.
Aditif ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam, sehingga cocok untuk mesin lawas dengan jalur pendingin yang lebih besar.
Namun, IAT memiliki kelemahan karena menggunakan bahan anorganik seperti fosfat, nitrit, borat, dan silikat yang mudah terurai.
Akibatnya, usia pakainya lebih pendek, yakni sekitar 2-3 tahun atau 40.000 km, serta berisiko menimbulkan kerak yang dapat menyumbat saluran radiator.
Sementara itu, OAT merupakan teknologi yang lebih modern. Aditif ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung mikroskopis hanya pada area logam yang membutuhkan perlindungan.
Tanpa kandungan anorganik, risiko endapan menjadi sangat kecil dan usia pakainya jauh lebih panjang, mencapai 5-10 tahun atau hingga 100.000 km, tergantung kadar glycol.
Pilihan Radiator Coolant
Selain itu, OAT dinilai lebih ramah lingkungan dan tidak meninggalkan kerak yang dapat mengganggu sirkulasi cairan. Teknologi ini juga cocok digunakan pada mesin modern yang umumnya sudah menggunakan material aluminium pada radiator.
Meski begitu, penting untuk tidak mencampur coolant berbasis IAT dan OAT. Kedua jenis aditif ini dapat saling menetralkan, sehingga sistem pendingin kehilangan perlindungan. Bahkan, pencampuran keduanya berisiko menimbulkan endapan berupa lumpur atau gel yang justru menghambat sirkulasi radiator.
"Sebelum mengganti radiator coolant, ada baiknya Anda memilih produk yang tepat. MASTER Radiator Coolant dirancang agar mampu memberikan performa maksimal pada mesin kendaraan yang beroperasi di iklim tropis. Kandungan aditif yang digunakan telah disesuaikan supaya memiliki kemampuan transfer heat yang cepat dan maksimal, serta titik didih yang lebih tinggi dari air murni. Sehingga, suhu mesin tetap stabil di berbagai kondisi berkendara, termasuk memastikan karat tidak menyerang radiator," tambah Henry Sada.
Master Radiator Coolant sendiri hadir dalam kondisi siap pakai, dengan kualitas air yang sudah terjaga tanpa kandungan mineral penyebab karat.
Produk ini diklaim mampu menjaga performa mesin tetap optimal, sekaligus membantu efisiensi bahan bakar karena suhu mesin lebih stabil.
Tersedia dalam tiga varian, yakni Master Radiator Cool, Radiator Coolant Premix, dan Radiator Coolant Gold, masing-masing dirancang sesuai kebutuhan teknologi dan spesifikasi mesin kendaraan.