Contoh Khutbah Jumat Syawal Lengkap dengan Doa-doanya

Contoh khutbah Jumat Syawal singkat tentang menjaga istiqamah dan konsistensi ibadah setelah Ramadhan.

oleh Andre Kurniawan KristiDiterbitkan 02 April 2026, 15:07 WIB
ilustrasi khutbah (Image Bank Liputan6)

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Syawal sering kali dipandang sebagai masa perayaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, namun sesungguhnya ia juga merupakan momentum penting untuk menguji sejauh mana kualitas keimanan yang telah dibangun selama Ramadhan mampu bertahan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang mampu meningkatkan ibadah saat Ramadhan, tetapi tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga semangat tersebut tetap hidup ketika suasana sudah kembali normal.

Oleh karena itu, khutbah Jumat di bulan Syawal menjadi sangat relevan untuk mengingatkan umat Islam agar tidak kembali kepada kebiasaan lama yang kurang baik, melainkan terus meningkatkan kualitas diri dengan menjaga shalat, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Syawal bukan akhir dari ibadah, melainkan awal dari perjalanan istiqamah yang sesungguhnya.

Khutbah Jumat Syawal 1

Judul: Syawal, Bulan Istiqamah Setelah Ramadhan

Khutbah Pertama

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan semesta alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan dari kejahatan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar takwa. Bertakwalah kepada-Nya dalam keadaan terang maupun tersembunyi, dalam ucapan maupun perbuatan, dalam kesendirian maupun di tengah keramaian, karena takwa adalah bekal terbaik untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita kini berada di bulan Syawal, bulan yang datang setelah Ramadhan. Ramadhan telah mengajarkan kita banyak hal: menahan lapar dan dahaga, memperbanyak ibadah, menjaga lisan, menundukkan pandangan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta membangun kedekatan yang lebih kuat dengan Allah. Namun pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah semangat itu tetap hidup setelah Ramadhan berlalu?

Bulan Syawal sejatinya adalah bulan ujian. Banyak orang mampu taat ketika Ramadhan, tetapi tidak sedikit yang mulai longgar setelah Ramadhan usai. Padahal keberhasilan seorang hamba bukan hanya diukur dari semangatnya saat musim ibadah, melainkan dari istiqamahnya setelah musim itu berlalu. Orang yang beriman bukan hanya baik di bulan Ramadhan, tetapi juga tetap berusaha menjaga kebaikan di bulan-bulan berikutnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

“Karena itu tetaplah engkau beristiqamah sebagaimana engkau diperintahkan.” (QS. Hud: 112)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa istiqamah adalah perintah besar. Tidak mudah menjaga amal baik secara konsisten, tetapi justru itulah tanda keimanan yang kuat. Setelah Ramadhan, mari kita jadikan Syawal sebagai bulan untuk melanjutkan kebiasaan baik yang telah kita bangun.

Jamaah sekalian,

Salah satu amalan besar di bulan Syawal adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berpuasa Ramadhan lalu melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa setahun penuh. Ini menunjukkan bahwa Syawal bukan bulan untuk kembali lalai, tetapi bulan untuk melanjutkan kesungguhan dalam beribadah.

Namun, makna Syawal tidak hanya terbatas pada puasa enam hari. Syawal juga menjadi momentum untuk menjaga shalat lima waktu, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, melanjutkan sedekah, menjaga silaturahmi, serta memperbaiki akhlak dan tutur kata. Jangan sampai kita menjadi orang yang rajin ibadah ketika Ramadhan, tetapi meninggalkannya setelah Ramadhan. Jangan sampai masjid yang sebelumnya penuh menjadi kembali sepi dari kita. Jangan sampai hati yang sebelumnya lembut kembali keras karena jauh dari zikir dan Al-Qur’an.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Syawal mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan ketika kita selesai berpuasa, tetapi ketika kita berhasil menjaga bekas Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Tanda diterimanya amal bukanlah ketika seseorang merasa bangga, melainkan ketika setelah beramal ia menjadi semakin rendah hati, semakin takut kepada Allah, dan semakin ingin memperbaiki diri.

Karena itu, marilah kita jadikan Syawal sebagai bulan untuk memulai lagi dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan amal yang lebih konsisten. Mari kita jaga shalat berjamaah, kita lanjutkan kebiasaan membaca Al-Qur’an, kita biasakan bangun malam meski hanya dua rakaat, kita lanjutkan puasa sunnah, dan kita jaga lisan dari dusta, ghibah, serta perkataan yang sia-sia.

Ingatlah, amal yang kecil tetapi terus-menerus jauh lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya sesaat. Maka jangan meremehkan kebaikan yang tampak sederhana. Satu ayat yang dibaca setiap hari, satu sedekah walau sedikit, satu istighfar yang tulus, dan satu shalat sunnah yang dijaga dengan istiqamah, semuanya bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Mari kita tutup khutbah pertama ini dengan memperbanyak istighfar kepada Allah, memohon agar Dia menerima amal-amal kita selama Ramadhan, mengampuni dosa-dosa kita, dan meneguhkan kita di atas jalan istiqamah.

Astaghfirullāh al-‘azhīm li walakum, faghfirūhu innahu huwal ghafūrur rahīm.

Khutbah Kedua

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah atas nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk bertemu kembali dengan hari Jumat ini. Kita memuji-Nya atas segala karunia yang tidak terhitung jumlahnya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Sekali lagi, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketakwaan itulah sebaik-baik bekal. Ketakwaan itulah yang akan menuntun kita ketika sendiri, menjaga kita ketika lapang, dan meneguhkan kita ketika diuji.

Jamaah sekalian,

Di bulan Syawal ini, mari kita berdoa agar Allah menerima seluruh amal ibadah kita. Kita memohon agar Allah menerima puasa kita, salat kita, sedekah kita, tilawah kita, doa kita, dan seluruh amal kebaikan kita selama Ramadhan. Kita juga memohon agar setelah Ramadhan, Allah tidak mencabut hidayah yang telah diberikan kepada kita.

Ada orang yang sangat baik saat Ramadhan, namun setelah itu berubah kembali seperti semula. Maka kita memohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang yang hanya mengenal ketaatan secara musiman. Jadilah hamba yang mencintai Allah di setiap musim, bukan hanya di bulan tertentu.

Marilah kita lanjutkan semangat Ramadhan dengan memperbanyak amal saleh. Jadikan Syawal sebagai pintu menuju keberlanjutan kebaikan, bukan pintu menuju kelalaian. Siapa pun yang sungguh-sungguh menjaga ibadah setelah Ramadhan, maka ia sedang menapaki jalan orang-orang yang dicintai Allah.

Allahumma a’innahum ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya.

Allahumma taqabbal minnā shiyāmanā wa qiyāmanā wa shadaqātinā wa a‘mālanā.Ya Allah, terimalah puasa kami, salat malam kami, sedekah kami, dan amal-amal kami.

Allahumma aṣliḥ lanā dīnana alladzī huwa ‘iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānā allatī fīhā ma‘āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanā allatī ilaihā ma‘ādunā.Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat hidup kami, dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami.

Rabbanā ātinā fid-dunyā hasanah wa fil-ākhirati hasanah wa qinā ‘adzāban-nār.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, kebaikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Allah memberikan pelajaran kepada kalian agar kalian selalu ingat.

Fa’udzkurullāha al-‘azhīma yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni’amihi yadzidkum, waladzikruLlahi akbar.

Khutbah Jumat Syawal 2

Judul: Menjaga Ukhuwah dan Saling Memaafkan di Bulan Syawal

Khutbah Pertama

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan Syawal. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan amal kita.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jamaah sekalian,

Kita telah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan dan rahmat. Kini kita berada di bulan Syawal, bulan yang identik dengan silaturahmi dan saling memaafkan. Tradisi saling bermaafan bukan sekadar budaya, tetapi memiliki nilai yang sangat mulia dalam Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan sesama manusia. Tidaklah sempurna iman seseorang jika ia masih menyimpan dendam, kebencian, atau permusuhan terhadap saudaranya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu?”(QS. An-Nur: 22)

Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan orang lain adalah jalan untuk mendapatkan ampunan Allah. Oleh karena itu, di bulan Syawal ini, mari kita buka hati kita untuk memaafkan kesalahan orang lain, baik yang disengaja maupun tidak.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Silaturahmi juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Dengan silaturahmi, hubungan yang renggang bisa kembali erat, yang jauh bisa menjadi dekat, dan yang berselisih bisa kembali rukun.

Rasulullah bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi. Ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga membawa keberkahan dalam hidup.

Namun, perlu kita ingat bahwa memaafkan bukan hanya di lisan, tetapi juga di hati. Jangan sampai kita mengucapkan maaf, tetapi masih menyimpan sakit hati. Jadikan Syawal ini sebagai momentum untuk benar-benar membersihkan hati, sebagaimana kita berharap Allah membersihkan dosa-dosa kita.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Mari kita manfaatkan bulan Syawal ini untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menjaga hati dari penyakit seperti iri, dengki, dan kebencian.

Astaghfirullāh al-‘azhīm li walakum, faghfirūhu innahu huwal ghafūrur rahīm.

Khutbah Kedua

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Saya berwasiat kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah.

Di bulan Syawal ini, mari kita jadikan diri kita sebagai pribadi yang lebih baik, tidak hanya dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan dengan sesama manusia. Perbanyak silaturahmi, jaga lisan, dan hindari perpecahan.

Mari kita saling mendoakan, saling menguatkan, dan saling membantu dalam kebaikan. Jangan biarkan ego dan kesombongan merusak persaudaraan yang telah kita bangun.

Allahumma ighfir lanā dzunūbanā, wa kaffir ‘annā sayyiātinā, wa tawaffanā ma‘al abrār.Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskan kesalahan kami, dan wafatkan kami bersama orang-orang yang saleh.

Allahumma allif baina qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta baininā.Ya Allah, satukanlah hati kami dan perbaikilah hubungan di antara kami.

Rabbanā ātinā fid-dunyā hasanah wa fil-ākhirati hasanah wa qinā ‘adzāban-nār.

Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan...

Fa’udzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum.

Khutbah Jumat Syawal 3

Judul: Syukur dan Bahaya Kembali kepada Maksiat Setelah Ramadhan

Khutbah Pertama

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dan kini bulan Syawal. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan amal kita.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa bukan hanya ucapan di lisan, tetapi harus tercermin dalam amal nyata sehari-hari.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita telah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Banyak di antara kita yang selama Ramadhan rajin shalat berjamaah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, serta menjauhi maksiat.

Namun, yang perlu kita renungkan adalah: apakah perubahan itu akan terus kita jaga, atau justru kita tinggalkan setelah Ramadhan berlalu?

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benangnya yang sudah dipintal dengan kuat…”(QS. An-Nahl: 92)

Ayat ini menggambarkan orang yang telah bersungguh-sungguh beramal, tetapi kemudian merusaknya kembali. Betapa meruginya orang yang telah berjuang menahan diri selama Ramadhan, namun setelah itu kembali kepada kebiasaan lama yang penuh dosa.

Jamaah sekalian,

Kembali kepada maksiat setelah Ramadhan adalah tanda bahwa seseorang belum sepenuhnya memahami makna ibadah. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan.

Jika setelah Ramadhan kita kembali meninggalkan shalat, kembali lalai dari Al-Qur’an, kembali pada kebiasaan buruk, maka itu tanda bahwa kita belum berhasil memetik hikmah Ramadhan.

Sebaliknya, tanda diterimanya amal Ramadhan adalah ketika seseorang menjadi lebih baik setelahnya. Ia lebih menjaga shalat, lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih ringan dalam bersedekah, dan lebih dekat kepada Allah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Oleh karena itu, mari kita isi bulan Syawal ini dengan rasa syukur yang nyata. Syukur bukan hanya dengan ucapan “Alhamdulillah”, tetapi dengan menjaga ketaatan kepada Allah.

Syukur itu diwujudkan dengan:

Menjaga shalat lima waktu tepat waktuMelanjutkan kebiasaan membaca Al-Qur’anMenjauhi maksiat sekecil apa punMemperbanyak amal saleh meski sedikit

Ingatlah, Allah akan menambah nikmat bagi orang yang bersyukur, tetapi juga memberikan peringatan keras bagi orang yang kufur terhadap nikmat-Nya.

Mari kita jadikan Syawal sebagai awal dari kehidupan yang lebih baik, bukan kembali ke kehidupan lama yang penuh kelalaian.

Astaghfirullāh al-‘azhīm li walakum, faghfirūhu innahu huwal ghafūrur rahīm.

Khutbah Kedua

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,

Saya kembali berwasiat kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jamaah sekalian,

Di bulan Syawal ini, mari kita berdoa agar Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Kita memohon agar Allah menjaga hati kita agar tetap istiqamah dan tidak kembali kepada maksiat.

Jangan sampai kita termasuk orang yang rajin beribadah hanya di waktu tertentu, tetapi lalai di waktu lainnya. Jadilah hamba Allah yang konsisten dalam kebaikan, karena Allah mencintai amal yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.

Mari kita perbanyak doa:

Allahumma taqabbal minnā shiyāmanā wa qiyāmanā.Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami.

Allahumma tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik.Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.

Allahumma a‘inna ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik.

Rabbanā ātinā fid-dunyā hasanah wa fil-ākhirati hasanah wa qinā ‘adzāban-nār.

Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, kebaikan, dan memberi kepada kerabat serta melarang perbuatan keji dan mungkar...

Fa’udzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apa tema khutbah yang cocok di bulan Syawal? Tema yang umum adalah istiqamah, silaturahmi, syukur, dan menjaga amal setelah Ramadhan.

2. Berapa durasi ideal khutbah Jumat? Biasanya sekitar 10–15 menit untuk kedua khutbah agar tidak terlalu panjang.

3. Apa amalan utama di bulan Syawal? Puasa 6 hari, menjaga shalat, dan memperbanyak amal kebaikan.

4. Mengapa penting menjaga ibadah setelah Ramadhan? Karena itu menjadi tanda diterimanya amal selama Ramadhan.

5. Apa kesalahan yang sering terjadi setelah Ramadhan? Kembali lalai dalam ibadah dan meninggalkan kebiasaan baik yang sudah dibangun.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya