Liputan6.com, Jakarta - PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencatat pendapatan Rp5,7 triliun pada 2025. Hal ini didorong kinerja solid lintas lini serta adaptasi berkelanjutan menghadapi disrupsi teknologi industri transportasi nasional.
"Pada tahun buku 2025, kami mencatatkan kinerja keuangan tertinggi sejak disrupsi teknologi. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 5,7 triliun, tumbuh 13,2 persen secara tahunan (yoy)," kata Direktur Utama Blue Bird Andre Djokosoetono dikutip dari Antara, Rabu (1/4/2026).
Advertisement
Dia menyampaikan kinerja yang solid di seluruh lini bisnis, baik taksi maupun non-taksi, yang secara kolektif berkontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan.
Dari sisi profitabilitas, perusahaan itu mencatat EBITDA sebesar Rp1,34 triliun dan laba bersih sebesar Rp643,4 miliar, masing-masing tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dia tidak menyebutkan jumlah EBITDA maupun laba bersih di tahun sebelumnya.
Hanya saja, dia menegaskan kinerja tersebut menunjukkan perseroan tidak hanya berhasil beradaptasi di tengah disrupsi industri, tetapi juga mampu tumbuh melampaui capaian pada era sebelum kehadiran ride-hailing, melalui konsistensi kualitas layanan sebagai fondasi utama bisnis.
Menurut dia, pencapaian itu mencerminkan konsistensi kinerja di tengah investasi berkelanjutan untuk peremajaan armada, peningkatan kesiapan layanan, serta pengembangan kapabilitas digital.
"Saat ini, kami secara kontinyu melakukan akselerasi untuk memperkuat posisi sebagai perusahaan mobility-as-a-service yang menghadirkan solusi mobilitas multimoda," ujarnya.
Perusahaan itu juga mengoptimalkan kapasitas layanan melalui penambahan sekitar 1.800 armada sepanjang 2025, sehingga total armada mencapai lebih dari 26.000 unit termasuk armada listrik.
Ekspansi jaringan operasional turut dilakukan melalui peningkatan jumlah pool menjadi 58 lokasi serta perluasan pangkalan yang kini telah mencapai lebih dari 1.300 titik strategis di berbagai kota.
Fokus Pengembangan Bisnis
Perseroan akan fokus mempercepat pengembangan bisnis melalui ekspansi yang lebih adaptif ke kota-kota strategis, sekaligus memperkuat ekosistem layanan sesuai dengan karakter masing-masing wilayah.
Bluebird juga akan mengembangkan model layanan yang lebih fleksibel untuk menjangkau spektrum kebutuhan pelanggan yang semakin beragam, dengan tetap mempertahankan standar keamanan dan kenyamanan.
"Strategi ini tidak berfokus pada kompetisi harga, melainkan pada perluasan relevansi layanan," ucapnya.
Dengan kapabilitas yang telah dibangun, Bluebird juga akan mendorong penciptaan permintaan baru melalui optimalisasi berbagai saluran distribusi, baik melalui kanal digital milik sendiri maupun kemitraan yang diperluas melalui platform digital dan titik layanan di lokasi strategis.
Seluruh upaya ini ditopang oleh peran para garda terdepan, termasuk pengemudi dan tim customer response, yang menghadirkan pengalaman layanan berbasis human connection dan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pelanggan.