IHSG Berpotensi Menuju Level Segini Usai Lebaran, Awal Perdagangan 25 Maret 2026 jadi Penentu

Berikut prediksi kisaran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai libur Lebaran 2026.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 24 Maret 2026, 08:15 WIB
Pembukaan kembali perdagangan Bursa Efek Indonesia pada 25 Maret 2026 setelah libur Lebaran menjadi momentum penting bagi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pembukaan kembali perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 25 Maret 2026 setelah libur Lebaran menjadi momentum penting bagi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah mengalami tekanan sebelum libur panjang Nyepi dan Lebaran, pasar kini dinilai memiliki peluang untuk bergerak naik dalam jangka menengah.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai, jika sentimen global mulai stabil, IHSG berpeluang kembali bergerak menuju area 7.200 hingga 7.300 dalam jangka menengah.

"IHSG berpotensi kembali bergerak menuju area 7.200 hingga 7.300 dalam jangka menengah,” ujar Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (24/3/2026).

Dia menuturkan, hari pertama perdagangan setelah libur panjang kerap menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek. Aktivitas beli yang kembali meningkat berpotensi mendorong IHSG keluar dari fase konsolidasi.

Hendra menilai, koreksi yang terjadi sebelum Lebaran lebih banyak dipicu oleh faktor teknikal, terutama kebutuhan likuiditas investor. Dengan berakhirnya periode tersebut, tekanan jual diperkirakan mulai berkurang.

Meski demikian, ia mengingatkan, pergerakan awal usai libur tetap berpotensi volatil, mengingat pelaku pasar masih menyesuaikan posisi portofolio mereka.

Sentimen Global Masih Jadi Penentu Arah

Di sisi lain, arah pergerakan IHSG masih sangat dipengaruhi oleh faktor global. Ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga Amerika Serikat, yang berada di bawah kepemimpinan Jerome Powell, menjadi perhatian utama investor.

Selain itu, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga energi global juga turut memengaruhi sentimen pasar. Jika tekanan global mereda, maka peluang penguatan IHSG akan semakin terbuka.

"Jika harga minyak kembali stabil, nilai tukar rupiah mampu menjaga stabilitasnya, serta arus dana asing kembali masuk ke pasar domestik, maka IHSG berpotensi kembali bergerak,” pungkasnya.

 

Pengamat: Efek Libur Lebaran IHSG Berpeluang Rebound

Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, pasar saham Indonesia diperkirakan memiliki peluang untuk bangkit setelah periode libur panjang Lebaran. Secara historis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap mengalami technical rebound usai tekanan yang terjadi menjelang libur panjang, seiring kembalinya aktivitas investor ke pasar.

"Setelah periode libur panjang Lebaran, peluang terjadinya rebound tetap terbuka," kata Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana, kepada Liputan6.com, Senin (23/3/2026).

Namun, kondisi tahun ini dinilai berbeda. Sejumlah sentimen global dan domestik masih membayangi pergerakan pasar, membuat investor cenderung bersikap hati-hati dan memilih menunggu arah yang lebih jelas sebelum kembali agresif masuk ke pasar saham.

Hendra Wardana menilai, fase saat ini masih tergolong sensitif, sehingga meskipun peluang rebound terbuka, pergerakan IHSG tetap berpotensi volatil dalam jangka pendek.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tekanan global menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pemulihan pasar. Konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga oleh Jerome Powell masih menjadi perhatian utama investor global.

"Pasar saham Indonesia saat ini memang sedang berada dalam fase yang cukup sensitif. Tekanan global dari konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga oleh Jerome Powell di Federal Reserve menjadi faktor eksternal yang membebani pasar," ujarnya.

Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya kehati-hatian investor asing dalam menempatkan dana di emerging market, termasuk Indonesia. Mereka cenderung menunggu kepastian arah kebijakan moneter global sebelum kembali masuk secara signifikan.

 

Pola Rebound Usai Lebaran Masih Relevan

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski tekanan masih kuat, peluang rebound pasca Lebaran tetap terbuka. Dalam banyak kasus sebelumnya, koreksi yang terjadi menjelang libur panjang sering kali bersifat teknikal, dipicu kebutuhan likuiditas investor.

Setelah libur usai, tekanan tersebut biasanya mereda, sehingga membuka ruang bagi IHSG untuk bergerak naik kembali. Aktivitas investor yang kembali normal juga menjadi katalis penting bagi pemulihan pasar.

Namun demikian, Hendra menekankan bahwa rebound kali ini kemungkinan tidak akan berlangsung agresif. Investor cenderung masih dalam mode “wait and see”, sambil mencermati perkembangan global dan stabilitas ekonomi domestik.

 

Investor Disarankan Tetap Selektif

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, investor disarankan untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Pembelian saham secara agresif dinilai belum tepat dilakukan ketika volatilitas masih tinggi.

Strategi yang lebih rasional adalah melakukan akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental kuat, terutama ketika harga berada di area support yang menarik. Selain itu, menjaga porsi kas juga menjadi langkah penting untuk mengantisipasi potensi koreksi lanjutan.

"Hal yang sebaiknya dihindari adalah melakukan panic selling ketika pasar mengalami penurunan tajam, karena dalam banyak kasus koreksi yang terjadi menjelang periode libur panjang sering kali bersifat teknikal akibat kebutuhan likuiditas dari investor," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya