Liputan6.com, Jakarta - Volatilitas global akibat konflik Iran mulai menekan pasar penawaran umum perdana (IPO) di India, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pasar IPO tersibuk di dunia.
Melansir CNBC International. Senin (23/3/2026), keputusan aplikasi pembayaran PhonePe pada Senin untuk menghentikan rencana pencatatan saham menegaskan meningkatnya tekanan di pasar, seiring melemahnya minat investor di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Advertisement
Sejak Januari, indeks acuan India telah turun lebih dari 12%, dengan penurunan tajam terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Konflik Iran memicu gangguan pada pasokan energi dan perdagangan, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi serta menekan kinerja perusahaan.
Di sisi lain, pelemahan rupee terhadap dolar belum mampu meredam tekanan. Investor institusional asing tercatat telah melepas saham senilai lebih dari USD 8 miliar sepanjang bulan ini, berdasarkan data NSDL.
Kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini mengurangi likuiditas di pasar primer, sehingga peluang IPO untuk meraih valuasi premium semakin terbatas.
Sejumlah perusahaan teknologi dan konsumen India pun menunda rencana IPO, termasuk PhonePe yang didukung Walmart, Zepto, Flipkart, serta jaringan hotel Oyo. CEO Anand Rathi Advisors, Samir Bahl, menyebut penundaan ini dipicu ketidaksesuaian valuasi di tengah kondisi pasar.
Sebelumnya, Zepto dilaporkan mengajukan IPO secara rahasia pada Desember dengan target menghimpun lebih dari USD 1,2 miliar. Oyo juga melakukan langkah serupa pada periode yang sama.
Menanggapi hal ini, Zepto menyatakan bahwa mereka "tetap konsisten dengan penasihat sebelumnya, tunduk pada peraturan pasar." Perusahaan juga disebut menargetkan IPO sekitar Juni.
Tunggu Pasar Membaik
Sementara itu, juru bicara PhonePe mengatakan penundaan IPO dilakukan karena "konflik geopolitik dan volatilitas pasar saat ini."
Bahl memperkirakan sejumlah IPO besar, seperti dari NSE, Reliance Jio, dan SBI Mutual Fund, kemungkinan akan dilanjutkan setelah kondisi pasar membaik. Ia menekankan bahwa "waktu dan harga akan membutuhkan kalibrasi yang cermat."
“IPO India dan aktivitas penggalangan dana lainnya merupakan fungsi dari tingkat pasar,” kata Mahesh Nandurkar dari Jefferies.
Ia menambahkan, aktivitas IPO mulai melambat sejak konflik Iran pecah pada 28 Februari karena minat investor menurun.
Sejumlah lembaga keuangan global juga memangkas proyeksi pasar. Nomura menurunkan target indeks Nifty 50 akhir tahun sebesar 15% menjadi 29.300, sementara Citi memangkas proyeksinya menjadi 27.000 dari sebelumnya 28.500, seiring kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan.
Direktur pelaksana Nuvama, Shouvik Purkayastha, menilai likuiditas yang dibutuhkan untuk menyerap IPO besar saat ini belum tersedia dan kecil kemungkinan pulih dalam waktu dekat.
Investor ritel mulai menjauh
Dalam dua tahun terakhir, pasar IPO India mencatat lonjakan aktivitas dengan 367 IPO sepanjang 2025, menurut laporan EY.
Namun, kinerja yang kurang memuaskan belakangan ini membuat investor ritel dan individu dengan kekayaan tinggi mulai menarik diri. Data bursa menunjukkan, delapan dari 11 IPO sejak awal tahun diperdagangkan di bawah harga penawaran.