Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia kembali melanjutkan kenaikan pada Kamis, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global.
Lonjakan harga ini terjadi setelah serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut memperburuk situasi yang sudah memanas akibat konflik Iran dan Israel.
Advertisement
Dikutip dari CNBC, Kamis (19/3/2026), Qatar pada Rabu mengungkapkan bahwa serangan rudal Iran telah merusak fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) utama milik negara tersebut. Serangan ini terjadi setelah Teheran memperingatkan akan menargetkan fasilitas energi di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, sebagai respons atas serangan Israel terhadap fasilitas pemrosesan gas di Iran.
Di pasar energi, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik 4,5% menjadi USD 112,19 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk April juga naik lebih dari 1% ke level USD 97,32 per barel.
Kerusakan Besar di Fasilitas LNG Qatar
Pemerintah Qatar menyebut serangan rudal Iran menyebabkan “kerusakan besar” pada Ras Laffan Industrial City, yang merupakan fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia.
Tim darurat langsung diterjunkan untuk menangani kebakaran di lokasi tersebut. QatarEnergy melalui media sosial menyampaikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Kementerian Dalam Negeri Qatar kemudian memastikan api telah berhasil dikendalikan.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” dan “pelanggaran kedaulatan yang mencolok.” Mereka juga memperingatkan bahwa insiden ini mengancam keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Qatar menegaskan pihaknya memiliki hak untuk merespons sesuai hukum internasional.
Ancaman Gangguan Pasokan Global
Ketegangan di kawasan juga membuat Arab Saudi dan Uni Emirat Arab meningkatkan kewaspadaan, terutama setelah Israel menyerang fasilitas pemrosesan gas di Iran.
Sebelumnya, Qatar bahkan telah menghentikan produksi LNG sejak 2 Maret akibat serangan drone Iran di Ras Laffan dan Mesaieed Industrial City.
Sebagai eksportir LNG terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, Qatar menyumbang hampir 20% pengiriman global, menurut data Kpler.
Serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah berisiko memperparah guncangan pasokan yang sudah terjadi akibat konflik Iran. Selain itu, pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz—jalur yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia—kini sebagian besar terhambat.
Risiko Lonjakan Harga Ekstrem
Penasihat energi senior Gulf Oil, Tom Kloza, memperingatkan pasar bisa memasuki kondisi “tanpa kepastian” jika konflik meluas ke luar kawasan Teluk dan mulai menargetkan fasilitas energi di wilayah lain seperti Eropa atau Amerika Serikat.
“Bisakah Anda membayangkan respons dunia jika Iran menargetkan sesuatu di luar Teluk Persia, seperti kilang di Rotterdam atau fasilitas di Amerika Serikat? Saat itulah situasi menjadi tidak terkendali dan harga bisa melonjak sangat ekstrem,” ujarnya.
Kondisi tersebut akan menandai perubahan dari risiko geopolitik yang masih terkendali menjadi krisis pasokan global. Dalam situasi seperti ini, model harga dan asumsi risiko yang biasa digunakan tidak lagi relevan.
Kekhawatiran terhadap gangguan besar pada proses penyulingan dan distribusi bahan bakar dapat memicu volatilitas ekstrem, dengan harga minyak dan gas melonjak tajam karena pelaku pasar berebut mengamankan pasokan.
Pendiri sekaligus CIO Pickering Energy Partners, Dan Pickering, mengatakan, “Kita sedang bergerak dari masalah rantai pasok menjadi potensi masalah pasokan. Itu perbedaan besar. Masalah rantai pasok bisa diperbaiki dengan cepat.”
“Namun jika kemampuan produksi LNG atau minyak terganggu, dan volume pasokan tidak lagi tersedia seperti sebelumnya, ini jelas merupakan eskalasi serius,” tegasnya.