Jepang Cari Pasokan Energi Alternatif di Tengah Ketidakpastian Global Akibat Krisis Selat Hormuz

Jepang menggencarkan upaya dalam mencari pemasok energi alternatif seperti minyak dan gas untuk menjaga stabilitas negara di tengah konflik Iran.

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 19 Maret 2026, 12:05 WIB
Dalam foto yang dirilis pada hari Rabu, 2 Agustus 2023 oleh Sepahnews dari Garda Revolusi Iran, speedboat Garda berpartisipasi dalam latihan di Teluk Persia. Militer AS sedang mempertimbangkan untuk menempatkan personel bersenjata di kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, dalam tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang bertujuan untuk menghentikan Iran dari menyita dan mengganggu kapal-kapal sipil, empat pejabat Amerika mengatakan kepada The Associated Press pada hari Kamis, 3 Agustus 2023. (Sepahnews via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan Pemerintah Jepang tengah berupaya mencari pemasok bahan mentah dan sumber energi alternatif di tengah krisis energi di Selat Hormuz akibat konflik yang terjadi di Iran.

Takaichi juga menyatakan kesiapan untuk menerapkan langkah tambahan secara fleksibel guna mendukung masyarakat dan ekonomi nasional jika kenaikan harga berlangsung berkepanjangan.

"Kami bekerja sama dengan para menteri untuk mengamankan sumber pasokan alternatif bagi barang yang berpotensi tidak tersedia," ujar Takaichi dalam Rapat Komite Anggaran Majelis Tinggi Parlemen Jepang, melansir Antara, Rabu 18 Maret 2026.

Ia mengatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai skenario mengingat situasi di Timur Tengah masih belum pasti. Langkah tersebut diambil demi menjaga kesejahteraan masyarakat.

"Jika krisis berlanjut, kami akan mengambil langkah fleksibel untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga," ucap Takaichi.

Pemerintah Jepang telah memutuskan menggunakan sisa dana cadangan untuk menjaga harga bahan bakar, sementara subsidi akan mulai berlaku pada 19 Maret. Selain itu, pemerintah juga sudah mulai melepas cadangan minyak.

Langkah ini diharapkan mampu meredam dampak lonjakan harga energi global terhadap sektor industri dan rumah tangga di Jepang.

Pemerintah terus memantau perkembangan situasi geopolitik dan dinamika pasar energi internasional secara berkala untuk memastikan semuanya berjalan dengan aman.

Koordinasi dengan negara mitra dan organisasi internasional, kata Takaichi, turut diperkuat untuk menjaga stabilitas pasokan dan meminimalkan risiko gangguan energi.

Harga Minyak Meningkat

Harga minyak dunia diperkirakan akan terus beranjak naik. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Dalam debat parlemen, oposisi memperingatkan krisis berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan minyak serta bahan baku penting untuk industri kimia, pupuk, dan semikonduktor.

Takaichi mengakui kenaikan harga minyak bisa saja berdampak ke sektor pertanian, termasuk mendorong kenaikan harga pupuk.

"Pemerintah akan memantau perkembangan harga dan mengambil langkah tambahan untuk mendukung produsen serta melindungi konsumen," ucap dia.

Selain pada minyak, dampak kenaikan harga juga berpotensi merambat ke sektor transportasi dan logistik yang pada akhirnya memengaruhi harga barang pokok di tingkat konsumen.

Pemerintah Jepang menilai kondisi ini perlu diantisipasi secara menyeluruh agar tidak menekan daya beli masyarakat secara signifikan.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Jalur Pengiriman Minyak dan Gas Diblokade

Dalam gambar yang dirilis oleh situs web resmi Angkatan Darat Iran pada hari Jumat, 30 Desember 2022, helikopter tiba di pantai dalam latihan tahunan di wilayah pesisir Teluk Oman dan dekat Selat Hormuz yang strategis. (Angkatan Darat Iran melalui AP)

Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

Akibat serangan tersebut, Iran membalas dengan menyerang balik wilayah Israel dan fasilitas militer AS di seluruh Timur Tengah.

Eskalasi di kawasan itu menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, sebagai jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Selain itu, gangguan tersebut juga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi terganggunya pasokan energi dalam jangka panjang. 

Sejumlah negara importir minyak mulai meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Berdasarkan analisis, jika ketegangan tidak segera mereda, harga minyak dunia berpotensi terus mengalami kenaikan yang signifikan. 

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, namun juga dapat menekan pertumbuhan ekonomi global akibat meningkatnya biaya produksi dan distribusi di berbagai sektor industri.

Infografis Mengapa Selat Hormuz Penting? (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya