Liputan6.com, Teheran - Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani, yang semakin berpengaruh sejak awal perang di Timur Tengah, diklaim tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat (AS). Informasi tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Selasa (17/3/2026). Namun, hingga kini otoritas Iran belum mengonfirmasi kabar ini.
Di tengah klaim ini, akun X Larijani mengunggah tulisan tangannya. Menurut laporan Dawn, tulisan tangan dalam bahasa Farsi itu berbunyi:
Advertisement
"Dalam rangka upacara pemakaman para martir pemberani dari Angkatan Laut Republik Islam Iran:
Kenangan mereka akan selamanya hidup di hati bangsa Iran dan pengorbanan mereka akan memperkuat fondasi Angkatan Bersenjata Republik Islam untuk tahun-tahun mendatang dalam struktur militer negara.
Saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menganugerahkan derajat tertinggi bagi para martir yang mulia ini."
Sosok Larijani muncul sebagai tokoh kunci setelah serangan pada 28 Februari, yang menandai awal perang, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Sejak itu, ia memainkan peran lebih menonjol dibandingkan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang belum terlihat di hadapan publik sejak ditunjuk menggantikan ayahnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, Larijani terlihat aktif di ruang publik. Ia sempat berjalan bersama massa dalam aksi pro-pemerintah di Teheran, menunjukkan sikap perlawanan terhadap Israel dan AS.
Jika kematiannya terkonfirmasi, hal ini diyakini akan menjadi pukulan besar bagi Republik Islam Iran. Larijani dinilai sebagai figur penting yang mampu menjembatani kepentingan ideologi dan diplomasi.
Peran Strategis dalam Kebijakan Nuklir
Larijani dikenal sebagai tokoh yang mampu menyeimbangkan loyalitas ideologis dengan pendekatan pragmatis dalam pemerintahan. Sebelum perang, ia berperan penting dalam kebijakan nuklir dan diplomasi strategis Iran.
Pria berusia 68 tahun itu memiliki hubungan dekat dengan mendiang Khamenei dan membangun karier panjang di bidang militer, media, serta legislatif.
Pada 2025, setelah konflik bersenjata antara Iran, Israel, dan AS, ia kembali diangkat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, jabatan yang pernah dipegangnya hampir dua dekade sebelumnya. Dalam posisi tersebut, ia mengoordinasikan strategi pertahanan dan mengawasi kebijakan nuklir Iran.
Larijani juga aktif dalam diplomasi, termasuk melakukan kunjungan ke negara-negara Teluk seperti Oman dan Qatar, ketika Iran mencoba menjajaki kembali negosiasi nuklir yang akhirnya gagal akibat pecahnya perang.
Analis International Crisis Group, Ali Vaez, menyebut Larijani sebagai figur inti dalam lingkaran kekuasaan yang memahami cara kerja sistem politik Iran.
Latar Belakang dan Karier
Larijani lahir di Najaf, Irak, pada 1957, dari keluarga ulama syiah yang dekat dengan pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Ruhullah Khomeini. Keluarganya dikenal berpengaruh dalam sistem politik Iran, meskipun beberapa anggotanya pernah menghadapi tuduhan korupsi yang mereka bantah.
Ia meraih gelar doktor di bidang Filsafat Barat dari Universitas Teheran dan pernah bertugas di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selama Perang Iran-Irak.
Larijani memimpin lembaga penyiaran negara IRIB selama satu dekade sejak 1994, sebelum menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran pada 2008–2020.
Pada 1996, ia ditunjuk sebagai perwakilan Ayatullah Khamenei di SNSC. Ia kemudian menjadi sekretaris dewan tersebut sekaligus kepala negosiator nuklir Iran, memimpin perundingan dengan Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia pada 2005–2007.
Ia mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2005, namun kalah dari Mahmoud Ahmadinejad, yang kemudian berbeda pandangan dengannya terkait diplomasi nuklir. Larijani juga didiskualifikasi dari pencalonan presiden pada 2021 dan 2024.
Kembalinya ia sebagai kepala SNSC dipandang mencerminkan pendekatan konservatif yang dipadukan dengan pragmatisme.
Larijani mendukung kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia, yang kemudian runtuh pada 2018 setelah AS di bawah Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian tersebut.
Pada Maret 2025, ia memperingatkan bahwa tekanan eksternal yang berkelanjutan dapat memengaruhi sikap Iran terhadap program nuklirnya. Ia menyatakan Iran tidak bergerak menuju senjata nuklir, namun tekanan dapat mendorong perubahan kebijakan demi pertahanan diri.
Ia juga menegaskan bahwa negosiasi dengan AS seharusnya terbatas pada isu nuklir dan mempertahankan hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.
Sanksi dan Tuduhan Represi
Pada Januari, AS menjatuhkan sanksi terhadap Larijani atas tuduhan terlibat dalam tindakan represif terhadap masyarakat Iran menyusul gelombang protes nasional akibat meningkatnya biaya hidup.
Kelompok hak asasi manusia melaporkan ribuan orang tewas dalam penindakan tersebut. Larijani mengakui tekanan ekonomi memicu protes, namun menilai kekerasan yang terjadi dipicu oleh campur tangan asing, termasuk dari AS dan Israel.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Iran terkait laporan kematian Larijani, sementara pada saat bersamaan, Israel mengklaim juga menewaskan Komandan Pasukan Basij, unit paramiliter yang berada di bawah naungan IRGC, Gholamreza Soleimani.
Kantor berita Tasnim dan Fars, yang berafiliasi dengan militer Iran, secara resmi telah merilis pernyataan dari IRGC yang mengonfirmasi bahwa Gholamreza Soleimani gugur sebagai martir.