Liputan6.com, Washington, DC - Sedikitnya 200 tentara Amerika Serikat (AS) mengalami luka-luka dalam perang Iran. Demikian disampaikan oleh seorang juru bicara militer AS pada Senin (16/3/2026).
Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, mengatakan kepada The Guardian melalui email bahwa sejak dimulainya Operasi Epic Fury, sekitar 200 personel militer AS telah terluka. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar dari cedera tersebut tergolong ringan dan sebanyak 180 prajurit telah kembali bertugas.
Advertisement
Namun, Hawkins tidak memberikan rincian lebih lanjut ketika diminta menjelaskan jenis luka yang dialami para personel maupun penyebabnya.
Sebelumnya berdasarkan keterangan seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, ABC News melaporkan bahwa jenis cedera yang dialami mencakup luka bakar, luka akibat serpihan, serta cedera otak traumatis (traumatic brain injuries/TBI). Dari total 200 korban luka, setidaknya 10 personel militer dilaporkan mengalami luka serius, sebagaimana sebelumnya juga disampaikan oleh Hawkins kepada media tersebut.
Selain korban luka, hingga Senin tercatat sebanyak 13 anggota militer AS tewas dalam perang melawan Iran. Enam di antaranya merupakan awak pesawat pengisian bahan bakar militer AS yang tewas setelah pesawat mereka jatuh di wilayah bagian barat Irak pada pekan lalu.
Enam personel militer AS lainnya tewas ketika sebuah drone Iran menghantam pusat operasi di sebuah pelabuhan sipil di Kuwait. Sementara itu, satu anggota militer AS lainnya tewas setelah sebelumnya mengalami luka dalam serangan terhadap pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi.
Di pihak Iran, duta besar negara tersebut untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam pembaruan pekan lalu menyebutkan bahwa lebih dari 1.300 orang tewas. Selain itu, ratusan warga sipil juga dilaporkan tewas di Lebanon, serta 15 orang di Israel.
Di tengah perang, Donald Trump menyampaikan pernyataan yang dinilai saling bertentangan. Ia sebelumnya mendesak sekutu Barat untuk ikut terlibat dalam perang dan melindungi Selat Hormuz di tengah kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global. Namun di sisi lain, ia juga menyatakan bahwa AS tidak perlu melakukan upaya militer untuk melindungi selat tersebut karena negara tersebut memiliki cadangan minyak yang besar.