China Disorot atas Klaim Keunggulan Sistem Pertahanan di Tengah Konflik Global

Sistem pertahanan buatan China kembali menjadi perbincangan setelah konflik yang melibatkan beberapa negara pengguna teknologi tersebut.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 15 Maret 2026, 15:59 WIB
Ilustrasi bendera Republik China. (Pixabay)

Liputan6.com, Beijing - Sejumlah sistem pertahanan udara buatan China kembali menjadi sorotan setelah dinilai tidak menunjukkan kinerja optimal dalam beberapa konflik yang melibatkan negara pengguna senjata tersebut. Sistem rudal pertahanan udara HQ-9B dan radar JY-27A disebut-sebut gagal menunjukkan efektivitas yang selama ini dipromosikan oleh Beijing.

Sistem HQ-9B, yang juga dikenal sebagai “Red Flag 9”, selama ini dipamerkan sebagai salah satu sistem pertahanan udara paling canggih milik China. Secara teknis, sistem tersebut dirancang untuk melacak dan menargetkan beberapa objek sekaligus dengan dukungan radar terintegrasi.

Namun sejumlah analis menilai kinerjanya di medan konflik belum sepenuhnya memenuhi klaim tersebut, dikutip dari The Hill, Senin (16/3/2026).

HQ-9B kerap dibandingkan dengan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat, MIM-104 Patriot, serta sistem Rusia S-300 missile system. Beberapa pengamat militer menyebut teknologi tersebut memiliki kemiripan konsep, meskipun masing-masing dikembangkan dengan pendekatan berbeda.

Performa sistem buatan China itu kembali menjadi perbincangan setelah konflik yang melibatkan beberapa negara pengguna teknologi tersebut, termasuk Pakistan, Venezuela, dan Iran.

Dalam sejumlah laporan militer dan analisis pertahanan, sistem radar jarak jauh JY-27A yang dirancang untuk mendeteksi pesawat tempur siluman disebut tidak mampu memberikan peringatan dini secara efektif dalam beberapa operasi militer.

Radar ini sebelumnya dipromosikan mampu mendeteksi target udara pada jarak sekitar 280 hingga 390 kilometer, termasuk pesawat tempur generasi kelima seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Meski demikian, sejumlah pakar menilai performa sistem radar dan pertahanan udara sering kali sangat bergantung pada kondisi operasi, integrasi sistem, serta kemampuan personel yang mengoperasikannya.

 

Posisi AS

Ilsutrasi bendera China dan Amerika Serikat (AP/Andy Wong)

Sementara itu, Amerika Serikat terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan militer paling maju di dunia. Pemerintahan Presiden Donald Trump dalam beberapa kesempatan menekankan keunggulan teknologi militer AS, termasuk dalam penggunaan pesawat tempur, pembom strategis, dan sistem peperangan elektronik.

Persaingan teknologi pertahanan antara Washington dan Beijing juga tercermin dalam pasar persenjataan global. Sejumlah negara di Amerika Latin, seperti Argentina dan Peru, memilih pesawat tempur F-16 Fighting Falcon buatan AS dibandingkan jet tempur China-Pakistan JF-17 Thunder.

Di kawasan yang sama, Uruguay juga mengadopsi kendaraan militer produksi perusahaan Amerika Oshkosh Corporation untuk memperkuat armada kendaraan lapis bajanya.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, para analis menilai persaingan teknologi militer antara Amerika Serikat, China, dan Rusia akan terus memengaruhi dinamika keamanan global, termasuk pilihan sistem persenjataan oleh negara-negara berkembang.

Meski China tetap menjadi kekuatan ekonomi besar dunia, persaingan di bidang teknologi pertahanan menunjukkan bahwa kredibilitas sistem senjata dan efektivitasnya di medan konflik nyata akan terus menjadi faktor penting dalam menentukan pengaruh militer global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya