Ekonom Sebut Indonesia IndonesiaTerancam Krisis, Purbaya: Coba Lihat Data yang Betul

Sejumlah pihak menyebut ekonomi Indonesia sedang berada dalam kondisi krisis.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 16 Maret 2026, 19:45 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat acara Semangat Awal Tahun 2026, di Menara Global, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons sejumlah pihak yang menyebut ekonomi Indonesia sedang berada dalam kondisi krisis. Ia menilai pernyataan tersebut tidak sesuai dengan data yang ada. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons sejumlah pihak yang menyebut ekonomi Indonesia sedang berada dalam kondisi krisis. Ia menilai pernyataan tersebut tidak sesuai dengan data yang ada.

Menurutnya, berbagai indikator ekonomi justru menunjukkan kondisi perekonomian yang membaik dan tetap tumbuh.

Purbaya menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level yang cukup kuat. Ia menyebut ekonomi Indonesia pada periode sebelumnya tumbuh 5,39% dan memperkirakan pertumbuhan pada triwulan ini bisa mencapai sekitar 5,5% atau lebih.

“Terus apa lagi? Semua indikator-indikator. Orang bilang itu karangan purbaya aja. Nggak. Itu BPS. Terus ada PMI. Itu lembaga lain yang mensurvei, kan? Ada konsumen confidence yang survei BI sama LPS. Itu lembaga yang terpisah. Sama, naik semua,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (16/3/2026).

Selain itu, indikator lain seperti retail sales index dari Bank Indonesia, penjualan mobil dari asosiasi industri, hingga Mandiri Spending Index juga menunjukkan peningkatan yang mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin kuat.

Purbaya juga menyinggung pihak-pihak yang menyebarkan narasi negatif mengenai kondisi ekonomi Indonesia tanpa didukung data yang jelas.

“Mereka nggak pernah belajar ekonomi, nggak pernah kuliah ekonomi. Di mana debatnya? Saya debat sama orang pinggir jalan yang nggak jelas jadinya,” ujarnya.

 

Kondisi Ekonomi

Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 ke angka di bawah 5,1 persen, seiring dengan memburuknya situasi ekonomi global. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia juga menjelaskan alasan tidak mengajak pihak-pihak tersebut untuk berdiskusi atau berdebat mengenai kondisi ekonomi.

“Kenapa nggak saya ajak debat? Apa yang didebatin? Dia nggak punya data,” tuturnya.

Purbaya menilai penilaian terhadap kondisi ekonomi seharusnya didasarkan pada data dan indikator yang terukur, bukan sekadar sentimen atau opini.

“Coba lihat data yang betul. Suruh belajar yang betul. Kalau emang jelek, kita betulin. Tapi kalau udah bagus, kita betulin sebelah mana. Dia cuma menemukan sensasi negatif aja, menemukan sentimen negatif ke ekonomi. Mungkin dia terlambat kemarin beli saham, jadi pengen beli di bawah,” tuturnya.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya