Sindiran Telak Purbaya ke Ekonom dan Analis yang Sebut Ekonomi Indonesia Resesi

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyindir sejumlah ekonom dan analis yang menyebut ekonomi Indonesia menuju resesi.

oleh Septian DenyDiterbitkan 13 Maret 2026, 22:50 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengunjungi Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyindir sejumlah ekonom dan analis yang menyebut perekonomian Indonesia sedang menuju resesi. Menurutnya, narasi tersebut tidak sejalan dengan berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan kondisi relatif kuat hingga awal tahun.

Purbaya mengatakan dari sisi produksi atau supply, aktivitas ekonomi masih menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Salah satu indikator yang ia soroti adalah Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur pada Februari yang berada di level tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan aktivitas industri yang terus berkembang.

Selain itu, sejumlah indikator konsumsi juga menunjukkan tren positif. Indeks belanja masyarakat yang tercermin dalam Mandiri Spending Index berada di level tinggi dengan tren meningkat. Sementara itu, penjualan mobil pada Februari juga tumbuh dua digit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Purbaya juga menyinggung meningkatnya penjualan ritel yang menunjukkan aktivitas konsumsi rumah tangga tetap kuat. Ia menilai berbagai indikator tersebut memperlihatkan bahwa baik sisi produksi maupun permintaan masih berada dalam kondisi sehat.

Di tengah berbagai data tersebut, Purbaya menilai munculnya narasi resesi justru tidak didasarkan pada data ekonomi yang komprehensif.

“Ekonomi-ekonomi yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi tinggal hancurnya,” ujar Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).

Ia menambahkan, berbagai pernyataan yang menyebut kondisi ekonomi Indonesia memburuk banyak beredar di media sosial. Namun menurutnya, sebagian analis yang menyampaikan pandangan tersebut tidak melihat data secara utuh sebelum menyampaikan kesimpulan.

“Jadi yang analis-analis yang di TikTok, di Youtube yang bilang data hancur, itu sama sekali nggak pernah ngelihat data Pak,” tuturnya.

 

 

Indikator Lain

Sebelumnya, sampai 31 Agustus 2025, APBN mengalami defisit Rp 321,6 triliun. Realisasi itu setara dengan 1,35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). (merdeka.com/Arie Basuki)

Menurut Purbaya, indikator lain seperti keyakinan konsumen juga menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Indeks kepercayaan konsumen berada di level tinggi yang mencerminkan perbaikan daya beli masyarakat secara umum.

Selain itu, ia juga menyoroti stabilitas pasar keuangan yang masih terjaga. Spread obligasi pemerintah terhadap US Treasury hanya mengalami perubahan terbatas, sementara aliran modal asing ke pasar keuangan domestik masih mencatatkan inflow dalam beberapa bulan terakhir.

Purbaya menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor global masih memiliki kepercayaan terhadap fondasi ekonomi Indonesia. Ia juga menegaskan pemerintah terus melakukan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya