Saham BBNI Menghijau pada Sesi Pertama Hari Ini 11 Maret 2026

Berikut pergerakan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada sesi pertama perdagangan saham, Rabu (11/3/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 Maret 2026, 13:37 WIB
Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat pada sesi pertama perdagangan saham Rabu, (11/3/2026)(Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat pada sesi pertama perdagangan saham Rabu, (11/3/2026) di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun tipis.

Mengutip data RTI, harga saham BBNI ditutup menguat 1,17% ke posisi Rp 4.310 per saham pada sesi pertama. Harga saham BBNI dibuka menguat 40 poin ke posisi Rp 4.300 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 4.260 per saham.

Harga saham BBNI berada di level tertinggi Rp 4.330 dan level terendah Rp 4.280 per saham. Total frekuensi perdagangan 6.949 kali dengan volume perdagangan saham 266.730 saham. Nilai transaksi Rp 114,9 miliar.

Dalam lima hari terakhir, harga saham BBNI naik 2,13%, berdasarkan data Google Finance.

Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis. IHSG merosot 0,04% ke posisi 7.437,80. Indeks LQ45 terpangkas 0,47% ke posisi 756,35. Sebagian besar indeks saham acuan melemah.

Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 7.527,31 dan level terendah 7.427,08. Sebanyak 405 saham menguat sehingga tahan koreksi IHSG. 270 saham melemah dan 141 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.088.742 kali dengan volume perdagangan saham 18,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 16.849).

Sektor saham bervariasi. Sektor saham basic turun 1,05% dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi terpangkas 0,37%, sektor saham industri turun 0,42%, dan sektor saham kesehatan merosot.

BNI Bakal Sebar Dividen Rp 13 Triliun

Gedung BNI (Dok: BNI)

Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 13,03 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang berlangsung pada Senin (9/3/2026). Nilai dividen tersebut setara dengan 65% dari laba bersih konsolidasian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 20,04 triliun.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan keputusan itu menunjukkan komitmen perseroan dalam memberikan nilai kepada pemegang saham sekaligus menjaga kesehatan fundamental perusahaan melalui penguatan struktur permodalan.

“Sejumlah keputusan strategis yang disepakati dalam RUPST ini merupakan bagian dari upaya menjaga kinerja berkelanjutan serta memperkuat fondasi permodalan Perseroan ke depan,” ujar Okki dalam keterangan tertulis.

Selain dividen, pemegang saham juga menyetujui penetapan 35% laba bersih atau sekitar Rp 7,01 triliun sebagai saldo laba ditahan. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung ekspansi usaha sekaligus memperkuat kapasitas permodalan BNI di tengah dinamika industri perbankan.

Dalam rapat yang sama, perseroan juga memperoleh persetujuan untuk melaksanakan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai transaksi maksimal Rp 905,48 miliar termasuk biaya transaksi, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di pasar modal.

Okki menjelaskan kebijakan buyback merupakan salah satu instrumen perusahaan untuk menjaga stabilitas harga saham serta memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan struktur modal.

“Keputusan buyback ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang Perseroan sekaligus memberikan ruang fleksibilitas dalam penguatan permodalan,” kata Okki.

 

Hasil Buyback Saham

Gedung BNI (Foto:BNI)

Saham hasil buyback nantinya akan dicatat sebagai saham tresuri (treasury stock). Saham tersebut dapat dialihkan melalui penjualan kembali di Bursa Efek Indonesia maupun di luar bursa, serta dimanfaatkan untuk pelaksanaan Program Kepemilikan Saham bagi Pegawai dan/atau Pengurus Perseroan.

RUPST juga menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan terkait reklasifikasi saham Seri B milik BP BUMN menjadi saham Seri A Dwiwarna. Reklasifikasi tersebut mencakup 223.783.877 lembar saham sebagai bentuk penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.

Okki menuturkan penyesuaian tersebut merupakan bagian dari kepatuhan perusahaan terhadap regulasi terbaru sekaligus upaya memperkuat tata kelola sebagai BUMN.

“Penyesuaian ini merupakan bagian dari kepatuhan Perseroan terhadap regulasi yang berlaku sekaligus memastikan tata kelola perusahaan tetap berjalan optimal,” ujarnya.

 

 

Penggunaan Laba Bersih

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kini mencapai usianya yang ke-73 tahun. Sebuah ikon baru diresmikan sabagai salah satu kado istimewa pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) BNI tersebut, yaitu Gedung Menara BNI di kawasan Pejompongan, Jakarta, pada Jumat (5 Juli 2019).

Selain agenda penggunaan laba bersih, buyback saham, dan perubahan Anggaran Dasar, pemegang saham juga menyetujui sejumlah mata acara lainnya. Di antaranya pengesahan laporan tahunan dan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025, penetapan remunerasi Direksi dan Dewan Komisaris untuk tahun buku 2026, penunjukan akuntan publik tahun buku 2026, serta pendelegasian kewenangan persetujuan Rencana Kerja Jangka Panjang (RJPP) 2026–2030 dan RKAP 2027.

Rapat juga menerima laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum Sustainability Bond Tahap I Tahun 2025 serta penegasan kembali pelimpahan kewenangan RUPS kepada Dewan Komisaris terkait perubahan peraturan Dana Pensiun Perseroan.

Berbagai keputusan dalam RUPST tersebut diharapkan dapat memperkuat fundamental bisnis BNI sekaligus menjaga momentum pertumbuhan perusahaan di tengah persaingan industri keuangan yang semakin ketat.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya