Gedung Putih Bantah Angkatan Laut AS Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz

Bantahan ini muncul menyusul klaim bertentangan dari menteri energi AS.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 11 Maret 2026, 09:49 WIB
Dua perahu tradisional berlayar melewati sebuah kapal kontainer besar di Selat Hormuz, Jumat, 19 Mei 2023. (AP/Jon Gambrell)

Liputan6.com, Washington, DC - Gedung Putih menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) belum melakukan pengawalan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, membantah klaim yang kini telah dihapus dari Menteri Energi AS Chris Wright. Pernyataan ini disampaikan ketika Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa kampanye militer terhadap Iran dapat meningkat dalam beberapa hari ke depan.

"Saya dapat mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun hingga saat ini, meskipun tentu saja itu merupakan salah satu opsi," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada para wartawan pada Selasa (10/3/2026), ketika perang dengan Iran memasuki hari ke-11 seperti dikutip dari kantor berita TRT.

Leavitt mengatakan unggahan itu telah segera dihapus, seraya menegaskan bahwa keputusan untuk mengerahkan pengawalan laut berada di tangan presiden.

"Itu adalah opsi yang telah disampaikan presiden akan benar-benar digunakan jika dan ketika diperlukan pada waktu yang tepat," ujarnya.

Klarifikasi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar jalur laut sempit di dekat Iran itu, yang dilalui sekitar seperlima aliran minyak dunia.

Pengiriman melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti selama perang Iran berlangsung, sehingga mendorong kenaikan tajam harga minyak global.

"Militer AS sedang menyusun opsi tambahan mengikuti arahan presiden untuk terus menjaga Selat Hormuz tetap terbuka," tutur Leavitt.

"Saya tidak akan mengungkap seperti apa opsi-opsi tersebut, tetapi ketahuilah bahwa presiden tidak takut untuk menggunakannya."

Pada Senin, harga minyak mentah melonjak melampaui 119 dolar AS per barel, level tertinggi sejak 2022, yang memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi global.

Leavitt berusaha meyakinkan konsumen AS bahwa lonjakan tersebut tidak akan berlangsung lama.

"Kepada rakyat Amerika, kenaikan harga minyak dan gas baru-baru ini bersifat sementara dan operasi ini akan menghasilkan harga bensin yang lebih rendah dalam jangka panjang," klaimnya.

 

Menargetkan Infrastruktur Rudal

Menurut Leavitt, operasi militer berjalan sesuai rencana dengan fokus pasukan AS menargetkan infrastruktur produksi rudal serta aset militer lainnya sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mempertahankan pertempuran.

"Militer AS sedang bergerak untuk menghancurkan infrastruktur produksi rudal," ujarnya.

Trump, tambahnya, tetap yakin bahwa tujuan operasi akan tercapai dengan cepat.

"Begitu tujuan keamanan nasional tercapai, harga minyak akan turun," kata Leavitt. 

Di balik pesan tersebut terdapat garis waktu yang lebih luas yang menurut pejabat pemerintahan telah berjalan selama beberapa minggu.

Para perencana militer mulai menempatkan aset lebih awal sebelum konflik meningkat, termasuk penempatan rudal dan tambahan kapal perusak angkatan laut di kawasan tersebut sebagai bagian dari jendela operasi empat hingga enam minggu yang dirancang oleh tim keamanan nasional Trump.

Presiden pada Senin menyatakan bahwa perang dapat berakhir dalam waktu sangat dekat, meskipun pejabat Pentagon mengatakan bahwa fase berikutnya kemungkinan melibatkan serangan paling intens sejauh ini.

Gelombang Serangan Lebih Besar

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Selasa mengatakan bahwa gelombang serangan berikutnya akan menjadi salah satu yang terberat dalam perang ini.

Hegseth menekankan skala dan intensitas serangan tersebut, yang ia klaim sebagai upaya terfokus untuk melemahkan target strategis sambil melindungi pasukan AS.

Meski eskalasi akan terjadi, Gedung Putih menegaskan bahwa tujuan akhirnya jelas.

"Pada akhirnya, operasi ini akan berakhir ketika panglima tertinggi menentukan bahwa tujuan militer telah tercapai dan Iran berada dalam posisi menyerah sepenuhnya dan tanpa syarat—baik mereka mengatakannya atau tidak," beber Leavitt.

Untuk saat ini, AS mengatakan prioritasnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka sambil menghindari langkah-langkah yang dapat memperluas konflik.

"Jika mereka melakukan apa pun untuk menghentikan aliran minyak atau barang di Selat Hormuz," kata Leavitt, "mereka akan dihantam oleh militer paling kuat di dunia."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya