Menu Buka Puasa untuk Pasien Kanker: Karbohidrat, Protein, dan Vitamin Tetap Dibutuhkan

Menu buka puasa untuk pasien kanker harus bergizi seimbang. Dokter ungkap pentingnya karbohidrat, protein, dan vitamin.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 11 Maret 2026, 06:15 WIB
Dokter jelaskan menu buka puasa yang tepat untuk pasien kanker, mulai dari karbohidrat, protein hingga vitamin. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Ramadan sering menimbulkan pertanyaan bagi pasien kanker, terutama terkait pola makan saat sahur dan berbuka puasa. Banyak yang khawatir apakah menu buka puasa tertentu aman dikonsumsi atau justru berisiko memperburuk kondisi kesehatan.

Menurut dokter spesialis bedah konsultan onkologi dari RS EMC Alam Sutera, dr. Denni Joko Purwanto, pasien kanker sebenarnya tidak perlu bingung menentukan menu sahur maupun buka puasa selama Ramadan. Hal terpenting adalah memastikan makanan yang dikonsumsi memiliki gizi seimbang.

"Yang penting makanannya itu seimbang, bergizi, memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, tidak berlebihan, artinya kita perlu tenaga, tenaga itu dari karbohidrat, kita perlu zat-zat pembangun dari protein," kata Denni kepada Health Liputan6.com dalam sebuah kesempatan di KLY KAPANLAGI YOUNIVERSE Head Office, Gondangdia, Jakarta Pusat.

Menurut Denni, tubuh tetap membutuhkan sumber energi yang cukup meskipun sedang menjalani puasa. Karbohidrat menjadi salah satu komponen penting yang sebaiknya tetap ada dalam menu buka puasa pasien kanker.

Karbohidrat dapat diperoleh dari berbagai makanan seperti nasi, roti, kentang, hingga ketela. Nutrisi ini berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Selain karbohidrat, pasien kanker juga membutuhkan protein yang berperan sebagai zat pembangun tubuh. Protein membantu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak, termasuk sel yang mengalami kerusakan akibat penyakit atau proses terapi.

"Perbaikan sel selain didapat dari istirahat, perlu pula dibantu asupan protein hewani dari ikan, telur, dan daging. Asal tidak berlebihan itu boleh, protein nabati juga ada seperti jamur," ujar Denni.

Tak hanya karbohidrat dan protein, vitamin juga memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh. Vitamin membantu proses regulasi berbagai sistem di dalam tubuh sehingga metabolisme tetap berjalan dengan baik.

Denni menekankan pentingnya vitamin D bagi pasien kanker, terutama bagi mereka yang menjalani puasa. Vitamin ini dapat diperoleh dari produk susu, paparan sinar matahari, serta aktivitas fisik.

"Vitamin perlu juga karena itu untuk meregulasi tubuh kita. Jangan lupa kita perlu vitamin D, vitamin D memang banyaknya dari susu, produk susu dibantu sinar matahari dan aktivitas fisik. Walau puasa kita harus terus bergerak," ujarnya.

 

Aktivitas Fisik bagi Pasien Kanker

Dokter jelaskan menu buka puasa yang tepat untuk pasien kanker, mulai dari karbohidrat, protein hingga vitamin. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Dia juga mengingatkan bahwa aktivitas fisik tetap penting selama Ramadan. Menurut Denni, tubuh yang aktif bergerak akan membantu menjaga keseimbangan kesehatan.

Denni bahkan mengibaratkan kehidupan seperti bersepeda yang membutuhkan gerakan agar tetap seimbang. "Life is like riding bicycle, if you want to keep balance you must keep moving," kata Denni.

Selain menjaga pola makan, pasien kanker juga dianjurkan untuk mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup guna membantu produksi vitamin D. Waktu terbaik untuk berjemur adalah pada pagi hari sekitar pukul 08.00 hingga 10.00, serta sore hari antara pukul 16.00 hingga 18.00.

"Karena memang ultravioletnya tidak terlalu merusak menembus sel kulit, tapi juga efek vitamin D-nya bagus," ujar Denni.

Durasi berjemur yang disarankan sekitar 30 menit. Namun, Denni mengingatkan agar tetap menggunakan perlindungan seperti tabir surya, terutama pada area wajah, untuk mencegah kerusakan kulit.

Lebih lanjut, Denni menjelaskan bahwa puasa Ramadan juga memiliki potensi manfaat bagi pasien kanker payudara. Meski bukan terapi utama, beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat memengaruhi lingkungan biologis tubuh.

"Puasa itu memang bukan terapi utama, tapi penelitian menunjukkan bahwa puasa bisa memengaruhi lingkungan biologis, jadi waktu puasa itu sel-sel kita resting zone, enggak tumbuh cepat, sehingga meningkatkan respons terapi," ujarnya.

 

Puasa Turunkan Peradangan Kronis

Dokter jelaskan menu buka puasa yang tepat untuk pasien kanker, mulai dari karbohidrat, protein hingga vitamin. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Menurut Denni, puasa juga dapat membantu menurunkan peradangan kronis dan meningkatkan sistem imun tubuh. Hal ini membuat tubuh memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melawan penyakit.

Meski demikian, pasien kanker yang sedang menjalani terapi intensif seperti kemoterapi, radioterapi, atau persiapan operasi sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Dengan pengaturan menu buka puasa yang tepat dan gizi seimbang, pasien kanker tetap dapat menjalani ibadah Ramadan dengan aman sekaligus menjaga kesehatan tubuh.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya