Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya memiliki persediaan senjata yang sangat besar dan mampu mendukung perang dalam jangka waktu sangat lama. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran yang berpotensi berkembang menjadi konflik regional lebih luas.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa stok amunisi Amerika berada pada level yang sangat tinggi.
Advertisement
“Persediaan amunisi Amerika Serikat, pada tingkat menengah dan menengah atas, tidak pernah setinggi atau sebaik ini,” tulisnya, dikutip dari laman Forbes, Kamis (5/2/2026).
Trump juga mengklaim AS memiliki persediaan senjata yang “hampir tak terbatas”. Menurutnya, kemampuan tersebut membuat Amerika dapat mempertahankan operasi militer dalam waktu sangat lama.
“Perang dapat dilakukan ‘selamanya’, dan sangat berhasil, hanya dengan menggunakan persediaan ini,” tulis Trump.
Meski demikian, ia mengakui bahwa untuk kategori senjata paling canggih, stok yang dimiliki AS masih belum mencapai tingkat yang diinginkan, meskipun disebutnya masih berada pada kondisi “baik”.
Dalam pernyataannya, Trump juga melontarkan kritik kepada pendahulunya, Joe Biden. Ia menuding pemerintahan sebelumnya terlalu banyak mengalokasikan dana dan perlengkapan militer untuk membantu Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Trump bahkan menyebut bantuan tersebut sebagai upaya “memberikan segalanya” kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tanpa diimbangi dengan upaya mengisi kembali stok persenjataan Amerika.
Sebelumnya, laporan The Wall Street Journal pada Minggu menyebut para pejabat militer AS sempat mengkhawatirkan ketersediaan sejumlah amunisi penting ketika merencanakan operasi militer terhadap Iran.
Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan stok rudal pencegat pertahanan udara yang digunakan untuk menghadapi kemungkinan serangan drone dan rudal balistik Iran terhadap negara-negara Timur Tengah tempat pasukan AS ditempatkan.
Upaya Pengisian Kembali Rudal AS
Salah satu sistem yang menjadi sorotan adalah Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), sistem pertahanan rudal balistik yang saat ini telah ditempatkan di Israel dan Yordania. Laporan tersebut menyebut Pentagon mulai mencemaskan jumlah rudal pencegat THAAD yang tersedia.
Militer AS juga disebut tengah berupaya mengisi kembali persediaan rudal pencegat untuk sistem Patriot Missile System serta rudal Standard yang dapat digunakan untuk menghadapi rudal balistik di luar atmosfer Bumi.
Meski Trump menyatakan AS mampu berperang “selamanya”, belum jelas apakah pernyataan itu menandakan kemungkinan konflik berkepanjangan dengan Iran.
Dalam sejumlah wawancara pada Minggu, Trump memperkirakan kampanye militer tersebut dapat berlangsung sekitar empat hingga lima minggu. Namun sehari kemudian ia menyatakan konflik bisa berakhir lebih cepat.
“Kami berharap tidak akan berlangsung terlalu lama. Kami bahkan sedikit lebih cepat dari jadwal,” kata Trump dalam wawancara dengan CNN.
Saat berbicara dalam upacara Medal of Honor di Gedung Putih, Trump kembali menyebut perkiraan durasi empat hingga lima minggu, tetapi menegaskan Amerika memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama jika diperlukan.
Dalam wawancara terpisah dengan New York Post, Trump juga mengatakan dirinya tidak memiliki “kegugupan” terkait kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran, meskipun ia menilai operasi militer tersebut kemungkinan tidak akan memerlukannya.