Liputan6.com, Jakarta - Kandungan fitoestrogen pada kedelai sebagai bahan dasar tempe dianggap dapat mengganggu keseimbangan hormon pria.
Terkait anggapan ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Prof Ahmad Sulaeman, menjelaskan bahwa senyawa dalam tempe memang memiliki struktur kimia yang mirip hormon estrogen, tetapi tidak memiliki fungsi yang sama di dalam tubuh manusia.
Advertisement
“Sebetulnya itu senyawa yang rumus kimianya mirip estrogen, tetapi tidak sama. Senyawa isoflavon seperti daidzein dan genistein strukturnya memang mirip, tetapi tidak otomatis memiliki fungsi seperti estrogen,” ujarnya mengutip laman IPB, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, kesalahpahaman sering muncul karena masyarakat hanya melihat kemiripan nama atau struktur senyawa tanpa memahami mekanisme biologisnya. Ia menegaskan bahwa fitoestrogen dari tumbuhan tidak bekerja seperti hormon estrogen pada manusia.
Ahmad menjelaskan bahwa kadar fitoestrogen dalam tempe bahkan lebih rendah dibandingkan produk olahan kedelai lain seperti susu kedelai atau suplemen berbasis kedelai. Proses fermentasi pada tempe membantu memecah senyawa kompleks menjadi bentuk yang lebih mudah dicerna tubuh.
Selain itu, tempe mengandung protein tinggi, vitamin B12 hasil fermentasi, zat besi, serta serat yang berperan penting bagi kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh.
“Tidak ada batasan khusus karena ini bukan food additive. Konsumsinya mengikuti angka kecukupan gizi saja, sesuai kebutuhan protein masing-masing,” jelasnya.
Pilihan yang Baik bagi Vegan
Ahmad menambahkan, tempe menjadi pilihan pangan yang sangat baik bagi vegetarian dan vegan karena mengandung vitamin B12 yang umumnya hanya ditemukan pada pangan hewani.
Dia menegaskan bahwa tempe tidak berbahaya bagi pria. Justru, kandungan gizinya menjadikan tempe sebagai pangan sehat yang dapat dikonsumsi semua kalangan selama diolah dengan cara yang tepat dan dikonsumsi dalam jumlah wajar.
“Tempe tidak berbahaya bagi pria. Justru dengan kandungan protein dan gizinya yang lengkap, tempe merupakan pilihan pangan sehat yang dapat dikonsumsi semua kalangan,” ujarnya.
Bisa Jadi Pilihan Menu Sahur dan Buka
Alih-alih memicu gangguan hormon pada pria, tempe justru dapat menjadi pilihan menu sahur dan buka puasa. Menurut Ahmad, tempe merupakan pangan sederhana yang mudah didapat. Konsumsi tempe juga bisa dipadukan dengan kurma.
Kurma dan kedelai, khususnya dalam bentuk tempe, dinilai sebagai pilihan pangan yang tepat untuk dikonsumsi saat sahur dan berbuka karena kaya gizi serta mudah dicerna.
Pakar gizi dan keamanan pangan itu mengatakan, kurma dan kedelai dapat menjadi sumber energi yang baik dan seimbang selama berpuasa, terutama bila dikonsumsi pada waktu sahur dan berbuka.
“Dalam 100 gram kurma atau sekitar 13 butir, tergantung ukurannya, terkandung sekitar 299 kalori. Sementara kedelai, seperti pada tempe, tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga mengandung protein nabati berkualitas, lemak dengan asam lemak esensial, vitamin B, serat, serta isoflavon yang bermanfaat bagi kesehatan,” jelasnya.
Ahmad menambahkan, dalam 100 gram tempe segar terdapat sekitar 200 kalori. Dengan demikian, kombinasi kurma dan tempe dalam jumlah yang sesuai dapat membantu memenuhi kebutuhan energi harian selama menjalankan puasa.
Menurutnya, perpaduan kedua bahan pangan tersebut dapat memberikan asupan energi sekaligus zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh untuk tetap beraktivitas sepanjang hari.