Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah resmi membuka program pelatihan vokasi untuk masyarakat lulusan SMA dan SMK. Total ada kuota sebanyak 20.000 orang pada pelatihan gelombang pertama. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menuturkan program pelatihan vokasi ini berikan pemerintah secara gratis.
"Bersama Menteri Ketenagakerjaan, hari ini diluncurkan program Pelatihan Vokasi Nasional di tahun 2026 yang seluruh rangkaiannya diselenggarakan oleh pemerintah secara gratis," kata Airlangga di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Advertisement
Dia menuturkan, program ini disusun untuk mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, etos kerja, dan untuk dapat bekerja. Fokus program ini menyasar hard skill dan soft skill para lulusan SMA/SMK tiga tahun terakhir untuk sanggup masuk ke dunia kerja.
"Program ini mengedepankan link and match, kurikulum pelatihan yang kuat dan dekat dengan dunia usaha ataupun industri, dan diharapkan lulusan bisa langsung sesuai dengan tuntutan pasar kerja," sebutnya.
Dia mencatat, dalam data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), jumlah lulusan SMA/SMK di tahun 2024-2025 ini ada 3,28 juta. Dan lulusan SMA-nya sekitar 31,05 juta pekerja atau 20% dari total pekerja nasional sebesar 148 juta orang. Sedangkan SMK berkontribusi pada 20,8 juta atau 14% sehingga yang kita kejar di sini adalah 35%.
"Dari 35% ini yang ditargetkan oleh Kementerian Tenaga Kerja untuk di-reskilling dan upskilling," tegasnya.
Dibuka Buat 20.000 Orang
Senada, Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli mengatakan gelombang I pelatihan vokasi akan menyasar 20.000 lulusan SMA/SMK di seluruh Indonesia.
"Salah satu program yang tadi kami banyak diskusikan dan mendapatkan arahan dari beliau terkait dengan program Pelatihan Vokasi Nasional batch 1 sebanyak 20.000 orang, khusus untuk lulusan SMA/SMK dalam tiga tahun terakhir," ujar dia.
"Harapan kami tentu ini bisa dioptimalkan. Jadi selain ada program magang nasional untuk lulusan perguruan tinggi, kita juga memberikan alternatif program untuk lulusan SMA dan SMK," Yassierli menambahkan.
Cara Daftar
Para lulusan SMA/SMK dalam rentang waktu tiga tahun terakhir bisa mengakses melalui laman resmi Kementerian Ketenagakerjaan.
Langkah pertama, calon pendaftar bisa membuka laman skillhub.kemnaker.go.id. Kemudian, calon pendaftar akan diminta memasukkan sejumlah persyaratan dan tahapam pendaftaran. Nantinya para pendaftar akan diseleksi oleh tim internal Kemnaker sebelum dinyatakan lolos untuk ikut pelatihan.
Waktu pelatihan pun akan dijalankan dalam jangka waktu tertentu. Menaker Yassierli menyatakan, jangka waktunya mulai dari satu bulan hingga enam bulan, tergantung pada jenis pelatihannya.
Proses pelatihan akan dijalankan di balai pelatihan vokasi milik Kemnaker di berbagai provinsi seluruh Indonesia. Peserta yang lolos akan mendaparkan sertifikasi resmi yang dikeluarkan Kemnaker.
Mantap, Lulusan Vokasi Kemenperin Bisa Langsung Kerja di Industri
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat capaian positif dalam tingkat penyerapan kerja dari para lulusan pendidikan vokasi di bawah naungannya, baik di tingkat menengah maupun pendidikan tinggi.
Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas penerapan pendidikan vokasi berbasis kompetensi yang selama ini dijalankan melalui sinergi erat antara dunia pendidikan dan dunia industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa capaian tinggi dalam serapan lulusan menjadi bukti nyata keberhasilan strategi pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul dan kompetitif.
“Tingkat serapan yang tinggi menunjukkan bahwa lulusan vokasi Kemenperin memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan siap berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (7/10
Menurut Menperin, keberhasilan ini juga tidak lepas dari komitmen Kemenperin dalam memperkuat ekosistem pendidikan vokasi yang adaptif terhadap dinamika kebutuhan industri. Melalui kolaborasi erat dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), kurikulum pendidikan terus disesuaikan agar relevan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pasar kerja.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap lulusan vokasi memiliki daya saing global dan menjadi bagian penting dari transformasi industri nasional,” tegasnya.