PBB: 6,5 Juta Warga Somalia Alami Kelaparan Akut

PBB menyebut, angka 6,5 juta setara dengan sepertiga populasi di Somalia.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 27 Februari 2026, 09:02 WIB
Warga Somalia mengantre untuk mendapat makanan di kamp pengungsian sementara di daerah Tabelaha di pinggiran Mogadishu, Somalia (30/3). Kekeringan ini mengancam setengah dari penduduk negara Somalia. (AP Photo/Farah Abdi Warsameh)

Liputan6.com, Mogadishu - Sekitar 6,5 juta orang atau kurang lebih sepertiga populasi Somalia, akan menghadapi tingkat kelaparan yang kritis pada Maret. Angka ini meningkat 1,7 juta orang sejak Januari, demikian disampaikan sejumlah pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (25/2/2026).

Saat berbicara kepada wartawan di markas besar PBB melalui tautan video, Direktur Kesiapan dan Tanggap Darurat Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) Ross Smith mengatakan laporan terbaru Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC) untuk Somalia, yang dirilis pada Selasa (24/2), mengonfirmasi kekhawatiran bahwa situasi kemanusiaan di Somalia memburuk secara signifikan.

"Dari jumlah tersebut, 2 juta perempuan dan anak-anak yang paling rentan diperkirakan akan menghadapi kelaparan parah, dengan lebih dari 1,8 juta anak balita diperkirakan akan mengalami malanutrisi akut pada 2026," ungkap Smith, dikutip dari laman Antara News, Jumat (26/2).

Smith mengatakan Somalia sedang menghadapi krisis kelaparan yang sangat kompleks, di mana dua musim hujan berturut-turut tidak menghasilkan curah hujan yang cukup, konflik serta kerawanan terus berlanjut, dan ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka untuk mencari tempat berlindung, makanan, dan layanan dasar.

Sementara itu, sejumlah badan di Somalia, termasuk WFP, menghadapi kekurangan sumber daya yang parah, kata Smith memperingatkan.

Dia menambahkan bahwa tanpa pendanaan segera, dukungan bantuan pangan dan nutrisi darurat penyelamat nyawa dari WFP Somalia bagi kelompok yang paling rentan akan terpaksa dikurangi dan pada akhirnya akan segera dihentikan.

Rein Paulsen, direktur Kantor Kedaruratan dan Ketahanan (Office of Emergencies and Resilience) di Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), menyoroti kekeringan yang berdampak dahsyat terhadap sektor pertanian Somalia.

"Secara konkret, hal ini berarti kerugian tanaman dan ternak yang meluas, serta pengungsian penduduk berskala besar," katanya.

 

Urgensi Bantuan di Somalia

Dengan curah hujan di atas normal yang diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2023. Hal ini akan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah parah, dimana 4,3 juta orang, seperempat dari populasi diperkirakan akan menghadapi kelaparan tingkat krisis atau lebih buruk lagi pada akhir tahun 2023. (AP Photo)

Akibat kekeringan tersebut, panen serealia utama terakhir Somalia 83 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata jangka panjang antara 1995 hingga 2025, dan angka kelahiran ternak juga menurun, tutur Paulsen.

Dia menekankan urgensi bantuan penyelamat nyawa guna melindungi hidup warga dan tindakan untuk mencegah hancurnya mata pencaharian pertanian dan peternakan di pedesaan.

Untuk menanggapi situasi ini, FAO membutuhkan 85 juta dolar AS guna mendukung 1 juta warga pedesaan yang paling rentan, berisiko tinggi, dan kurang terlayani saat ini, tetapi hingga kini baru tersedia 6 juta dolar AS, ujar Paulsen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya