Saat Trump Kaji Aksi Militer, CIA Aktif Rekrut Informan di Iran

Bagaimana bunyi unggahan CIA yang ditujukan kepada calon informan di Iran?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 25 Februari 2026, 08:59 WIB
Ilustrasi CIA ( SAUL LOEB / AFP)

Liputan6.com, Washington, DC - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) pada Selasa (24/2/2026) menawarkan bantuan kepada calon informan di Iran dengan menyediakan panduan berbahasa Farsi tentang cara menghubungi badan mata-mata AS tersebut secara aman. Langkah ini dilakukan di tengah pertimbangan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Iran.

Unggahan tersebut merupakan bagian terbaru dari serangkaian upaya rekrutmen CIA dalam berbagai bahasa, termasuk Farsi, Korea, Rusia, dan Mandarin, yang menawarkan cara-cara aman untuk menghubungi CIA. Namun, pesan berbahasa Farsi yang dipublikasikan pada Selasa melalui platform X, Instagram, dan YouTube hadir pada saat hubungan AS dan Iran berada dalam situasi yang sangat tegang, serta ketika pemerintahan teokrasi Iran menghadapi gelombang protes baru di dalam negeri.

AS telah mengerahkan kekuatan militer terbesar di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran. Pada Januari lalu, Presiden Trump mengancam akan mengambil tindakan militer sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap protes nasional. Setelah itu, fokus pemerintah AS beralih pada program nuklir Iran yang diperselisihkan, dengan peringatan agar Iran mencapai kesepakatan. Putaran baru perundingan nuklir dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini.

Tanda-tanda keresahan baru juga muncul di Iran. Pada Senin (23/2), para mahasiswa menggelar aksi protes anti-pemerintah di sejumlah universitas di Teheran.

Dalam pesan berbahasa Farsi, CIA seperti dikutip dari Associated Press menuliskan, "Halo. Badan Intelijen Pusat mendengar Anda dan ingin membantu. Berikut beberapa tips tentang cara melakukan panggilan virtual yang aman dengan kami."

Unggahan tersebut dengan cepat menarik perhatian publik. Dalam hitungan beberapa jam, pesan berbahasa Farsi itu telah ditonton jutaan kali.

CIA tidak mengungkapkan apakah video-video rekrutmen sebelumnya telah menghasilkan informasi atau sumber baru. Namun, Direktur CIA John Ratcliffe sebelumnya menyatakan bahwa kampanye tersebut memberikan dampak.

"Pada tahun lalu, kampanye video Mandarin CIA menjangkau banyak warga China dan kami tahu masih banyak lagi yang mencari cara untuk memperbaiki kehidupan mereka dan mengubah negara mereka menjadi lebih baik," kata Ratcliffe awal bulan ini ketika video baru berbahasa Mandarin dipublikasikan.

Dalam panduannya, CIA menyarankan calon informan untuk menggunakan jaringan privat virtual atau virtual private network (VPN) guna menghindari pembatasan internet dan pengawasan. Badan tersebut juga menganjurkan penggunaan perangkat sekali pakai yang tidak mudah dilacak kembali kepada pengguna.

Selain itu, CIA meminta calon informan untuk menggunakan peramban web privat dan menghapus riwayat internet mereka guna menutupi jejak digital. Instruksi tersebut mencakup pula cara mengakses CIA melalui situs web publiknya maupun melalui darknet, yaitu bagian dari internet yang hanya dapat diakses dengan alat khusus yang dirancang untuk menyembunyikan identitas pengguna. CIA juga telah memublikasikan panduan serupa dalam bahasa Rusia.

Juru bicara Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait video terbaru tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya