Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani tak khawatir dengan ketakutan banjir produk impor Amerika Serikat (AS) ke Indonesia. Menurut dia, produk lokal masih tetap akan bersaing.
Setelah kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS dalam Agreement on Resiprocal Trade (ART), kata Shinta, akan ada penyesuaian beberapa produk yang berhadapan langsung dengan barang asal AS di pasar domestik.
Advertisement
"Adapun untuk sektor yang lebih berorientasi pada pasar domestik dan berhadapan langsung dengan produk AS, dinamika kompetisinya tentu akan mengalami penyesuaian. Namun demikian, tidak semua produk AS berpotensi menjadi tekanan," kata Shinta saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (21/2/2026).
Di sisi lain, ada impor yang membantu perkembangan industri Tanah Air. Misalnya untuk impor kapas, kedelai, dan gandum, impor yang justru berfungsi menopang industri nasional. "Dalam konteks ini, pembebasan tarif justru dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi domestik," tegas dia.
Dia berharap momentum ini dimanfaatkan sebagai agenda debottlenecking yang terstruktur dan holistik. Baik oleh pemerintah selaku regulator maupun pelaku usaha sendiri.
"Dunia usaha masih terhambat oleh kondisi biaya berusaha yang masih tinggi, perizinan yang kompleks, ketidakpastian regulasi, hambatan penyediaan bahan baku, serta tantangan lainnya. Tanpa pembenahan faktor domestik tersebut, ruang yang terbuka dari sisi eksternal berisiko tidak termanfaatkan secara optimal," tandas Shinta.
Gandum-Kedelai Bebas Bea Masuk RI
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan ada produk pertanian Amerika Serikat (AS) yang akan dibebaskan bea masuk ke Indoneisa. Utamanya, yakni gandum dan kacang kedelai.
Dia mengatakan, hal tersebut tertuang dalam perjanjian kesepakatan tarif resiprokal AS atau Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto.
"Indonesia juga komitmen untuk memberikan fasilitas untuk produk Amerika dengan tarif 0 persen, karena utamanya Indonesia mengimpor produk pertanian, wheat, kemudian juga soya bean," kata Airlangga dalam konferensi per daring, Jumat, 20 Februari 2926.
Bahan Baku Industri
Dia menjelaskan, gandum sendiri menjadi bahan baku untuk tepung atau mi. Sedangkan, kedelai menjadi bahan baku utama untuk tahu dan tempe. "Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat," ucapnya.
Airlangga juga mengatakan, pemerintah Indonesia akan memberikan kemudahan perizinan impor dan standardisasi barang. Meskipun, belum ada rincian lebih lengkah mengenai hal tersebut.
"Indonesia akan memberikan kemudahan untuk perizinan import dan juga standarisasi barang, baik itu industri maupun perusahaan asal Amerika. Indonesia juga komitmen untuk mengurangi hambatan tarif dan non-tarif, dan juga memberikan kepastian terutama di sektor ICT, kesehatan, dan farmasi," jelas dia.
Minyak Sawit RI Bebas Tarif Masuk AS
Sebelumnya, Sejumlah komoditas pertanian hingga produk manufaktur asal Indonesia tak akan dikenakam tarif bea masuk ke Amerika Serikat (AS). Ada minyak kelapa sawit, kakao, hingga tekstil dan garmen RI yang dibebaskan dari tarif resiprokal AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, hal tersebut tertuang dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Total ada, 1.819 pos tarif yang diatur dalam beleid tersebut, minyak sawit, kopi hingga kakao dibebaskan dari tarif.
"Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen," ungkap Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).