Liputan6.com, Jakarta - Tiga remaja berinsial ASR (15), FS (13) dan ANA (15) di Desa Tambirejo, Grobogan, Jawa Tengah, nyaris tewas akibat terkena ledakan petasan, Minggu 15 Februari 2026.
Tiga korban mengalami luka serius akibat mencoba meracik bahan kimia untuk dijadikan bahan membuat petasan.
Advertisement
"Akibat ledakan hebat itu, mengakibatkan ketiga korban terluka dan harus dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat," kata Kapolsek Toroh AKP Joko Ismanto saat dikonfirmasi, Senin (16/2/2026).
Disebutkan korban FS mengalami luka bakar di bagian kaki, tangan, muka, dan dada kiri korban terluka. Sedangkan ANA mengalami luka bakar di tangan kiri dan kedua pahanya, di mana mereka dirawat di S Panti Rahayu atau Yakkum Purwodadi.
Sementara korban ASR mengalami trauma berat dan syok, di mana masih dirawat di klinik Purwodadi.
Joko menuturkan, dari hasil penyelidikan awal polisi, bahan-bahan pembuat obat mercon dibeli oleh salah satu korban melalui aplikasi online. Mereka pun mencoba mencampur bahan tersebut secara manual dan menggunakan wadah plastik.
Dalam proses mengayak dan mengaduk campuran kimia bahan peledak itu, ketiga korban hanya menggunakan gagang kayu.
Petaka itu pun datang, saat korban melakukan proses pencampuran bahan bahan kimia. Tanpa disangka mereka, mendadak campuran bahan itu meledak.
Ledakan tersebut memiliki daya ledak kuat, hingga merontokan dinding kayu, atap dan lantai rumah.
Bukan insiden Pertama
Sebelumnya, pernah terjadi ledakan akibat petasan di Godong, Grobogan pada Sabtu 10 Januari 2025, di mana dua remaja menjadi korban.
Kapolsek Godong AKP Muh Suharto mengatakan, dua bocah yang terkena ledakan mengalami luka pada kaki dan tangan. Bahkan salah satu korban harus mendapat 42 jahitan atas luka yang dialaminya.
Kronologinya, saat korban AL dan saksi MF membeli bahan kimia untuk membuat petasan melalui media sosial. Bahan bahan pembuatan petasan itu mereka beli secara terpisah.
AR, AL dan MF mencampurnya untuk dijadikan bahan membuat petasan. Proses pengayakan serbuk petasan ini menggunakan saringan teh dari alumunium.
Usai tercampur, bahan bahan petasan itu selanjutnya dimasukan ke dalam kaleng. Selanjutnya, korban membuat petasan dari bahan yang telah diracik mereka.
Korban kemudian menyalakan petasan di area saluran irigasi pada Jumat Jumat 9 Januari 2026. Sedangkan sisa bahan untuk membuat petasan, disimpan di rumah AR.
Besoknya, korban AL kembali mendatangi rumah AR. Ia meminta bahan petasan dan ditaruh di depan rumah AR.
AL kemudian membeli kertas bekas, namun tidak langsung menggunakannya untuk membuat selongsong petasan. Korban justru membakar kertas bekas tersebut.
Petaka itu pun datang, nyala api merembet ke kaleng penyimpan bahan petasan hingga memicu ledakan. Korban mengalami luka pada bagian tangan dan kaki.
Awalnya warga mengira suara ledakan itu berasal dari ban pecah. Namun saat mendatangi sumber suara ledakan, ternyata berasal dari bahan untuk membuat petasan.
Melihat AR dan AL mengalami luka, warga kemudian membawa keduanya ke RS PKU Muhammadiyah. Korban AR harus mendapat 42 jahitan akibat luka ledakan bahan petasan.
Selain korban luka dua anak laki-laki, bangunan rumah milik Suwarno (61) rusak akibat ledakan tersebut.