Ketua MPR: Ulama Jadi Penjaga Optimisme Rakyat Aceh Pascabencana

Menjelang bulan suci Ramadan, Pimpinan MPR RI juga menyerahkan bantuan simbolis berupa 15.000 paket sembako dan paket ibadah.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 11 Februari 2026, 15:04 WIB
Silaturahmi Pimpinan MPR RI dengan Ulama Aceh yang digelar di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Rabu (11/2/2026) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menegaskan bahwa ulama memiliki peran strategis sebagai penjaga optimisme dan keteguhan masyarakat Aceh pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025 lalu.

Hal itu disampaikan Muzani dalam kegiatan Silaturahmi Pimpinan MPR RI dengan Ulama Aceh yang digelar di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Rabu (11/2/2026).

“Musibah besar ini bukan hanya menguji ketahanan fisik dan ekonomi, tetapi juga menguji mental dan spiritual umat. Di sinilah peran para ulama, para abu, para masyayikh, dan pimpinan dayah menjadi sangat menentukan dalam menenangkan umat dan menjaga optimisme rakyat Aceh,” ujar Muzani.

Menurut Muzani, bantuan material dan pemulihan infrastruktur penting, namun menjaga harapan dan keyakinan masyarakat jauh lebih krusial agar Aceh tidak terjebak dalam keputusasaan pascabencana.

“Memberi bantuan material itu penting, tetapi menjaga optimisme rakyat jauh lebih penting. Selama ulama terus membimbing umat dengan keteduhan dan kebijaksanaan, Aceh akan tetap tegak dan masa depannya tetap cerah,” katanya.

Muzani menjelaskan, kunjungan Pimpinan MPR RI ke Aceh merupakan kunjungan kedua sebagai bentuk empati, solidaritas, dan dukungan moral kepada masyarakat Aceh. Pada kunjungan pertama, MPR RI telah menyerap aspirasi kepala daerah terkait percepatan pembangunan hunian sementara, pemulihan jalan nasional dan provinsi, pemulihan listrik, serta kelancaran distribusi BBM dan gas LPG 3 kilogram.

“Seluruh aspirasi itu kami sampaikan langsung kepada Presiden sepulang dari Aceh. Alhamdulillah, satu per satu sudah mulai terpulihkan. Jalur Banda Aceh–Medan kembali membaik, akses antarwilayah tersambung, dan pasokan listrik telah pulih hingga 99 persen, meskipun masih ada sekitar 23 desa yang membutuhkan penanganan lanjutan karena kondisi geografis yang berat,” jelasnya.

Selain itu, Muzani menyoroti pentingnya menjaga tradisi meugang menjelang Ramadan sebagai bagian dari kearifan lokal dan budaya keagamaan masyarakat Aceh.

“Permintaan ini akan kami sampaikan kembali kepada Presiden. Kami memahami keterbatasan populasi ternak akibat bencana, tetapi dengan ikhtiar bersama, insyaallah dapat dicarikan solusinya,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Muzani menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ulama Aceh yang telah menjadi pilar ketenangan dan optimisme umat.

“Bekal spiritual saja tidak cukup tanpa harapan dan optimisme. Para ulama memiliki peran besar untuk menjaga agar masyarakat tidak terjebak dalam keputusasaan, kemarahan, atau saling menyalahkan. Keyakinan kita mengajarkan bahwa setiap ujian datang dari Allah SWT, dan siapa yang mampu melewatinya dengan sabar, Allah akan meninggikan derajatnya,” tuturnya.

 

Bantuan

Menjelang bulan suci Ramadan, Pimpinan MPR RI juga menyerahkan bantuan simbolis berupa 15.000 paket sembako dan paket ibadah yang akan disalurkan ke delapan kabupaten terdampak. Bantuan tersebut berisi kebutuhan pokok serta perlengkapan ibadah seperti sajadah, sarung, mukena, kerudung, dan Al-Qur’an.

“Oleh-oleh ini bukan untuk menggantikan beban yang berat, melainkan sebagai tanda cinta, simpati, dan kebersamaan dari Jakarta untuk rakyat Aceh, agar Ramadan dapat disambut dengan hati yang lebih tenang,” kata Muzani.

Lebih dari itu, Ia juga menegaskan, optimisme Aceh merupakan bagian dari optimisme bangsa Indonesia.

“Sakit Aceh adalah sakit kami yang berada di Jakarta. Selama kebersamaan antara pemerintah, ulama, dan masyarakat terus terjaga, Aceh akan mampu bangkit dan melewati ujian ini dengan lebih kuat,” pungkasnya.

 

Penguatan Nilai Spiritual

Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sekaligus Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Tgk. H. Faisal Ali menekankan pentingnya penanganan bencana di Aceh yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan material, tetapi juga penguatan nilai-nilai spiritual masyarakat, terutama menjelang bulan suci Ramadan.

“Para ulama mengucapkan terima kasih atas ikhtiar yang telah dilakukan pemerintah. Kami memahami bahwa dalam penanganan bencana selalu ada keterbatasan, dan itu adalah hal yang wajar sebagai bagian dari ikhtiar manusia,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya