Isu Independensi Bank Sentral Bayangi Kepercayaan Investor di Pasar Keuangan

Hubungan fiskal dan moneter seperti gas dan rem, di mana bank sentral wajib menjaga stabilitas agar ekonomi tidak mengalami overheating atau gelembung (bubble).

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 23 Januari 2026, 20:10 WIB
Karyawan beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (13/3/2024). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Isu independensi bank sentral menjadi salah satu perhatian utama investor global dalam menilai risiko pasar keuangan, termasuk di Indonesia. Di tengah ketidakpastian global dan pelebaran defisit fiskal, persepsi terhadap independensi otoritas moneter dinilai sangat menentukan arah aliran modal asing, baik ke pasar saham maupun pasar obligasi.

Co-Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menegaskan bahwa bank sentral harus berdiri independen agar mampu menjaga keseimbangan kebijakan ekonomi, terutama ketika pemerintah mendorong pertumbuhan melalui stimulus fiskal.

Hans menjelaskan, hubungan antara kebijakan fiskal dan moneter ibarat gas dan rem dalam perekonomian. Ketika pemerintah agresif mendorong pertumbuhan, bank sentral berperan menjaga stabilitas agar tidak memicu gelembung ekonomi yang berujung krisis.

“Ini seperti rem dan gas. Kalau pemerintah fiskal itu cenderung nge-gas, moneter itu harus nge-rem supaya ekonomi tidak overheating, tidak terjadi bubble,” tutur Hans dalam Edukasi Wartawan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI, Jumat (23/1/2026).

 

Potensi di Indonesia

Pekerja tengah melintas di bawah layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Selasa (16/5/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam konteks Indonesia, Hans menilai masih terdapat potensi capital inflow di pasar saham, namun risiko outflow di pasar obligasi tetap perlu dicermati. Kekhawatiran investor asing muncul seiring proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berpotensi melebar. Jika defisit meningkat, pemerintah harus menerbitkan lebih banyak obligasi, yang pada akhirnya menekan harga obligasi dan mendorong kenaikan imbal hasil (yield).

Selain faktor fiskal, persepsi terhadap independensi Bank Indonesia (BI) juga menjadi perhatian investor asing. Kekhawatiran tersebut muncul seiring dinamika pencalonan pejabat moneter, meski Hans menilai hal tersebut masih sebatas spekulasi pasar. Menurutnya, independensi BI tetap menjadi prinsip yang harus dijaga untuk mempertahankan kepercayaan investor.

“Tapi kami meyakini harusnya Pak Thomas ini bisa independen. Jadi dia sudah mundur dari partai dan orang tuanya juga bekas di BI. Jadi dia harus menyadari BI ini harus independen,” jelas Hans.

 

Pasar Obligasi

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hans menyebut, kombinasi kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan independensi bank sentral dapat mendorong investor asing mengurangi kepemilikan obligasi domestik. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penyesuaian yield yang sebelumnya berada di level relatif rendah, sehingga harga obligasi tertekan dan imbal hasil bergerak naik.

Di sisi lain, pasar saham masih menyimpan peluang meski diwarnai volatilitas tinggi. Fluktuasi diperkirakan akan meningkat pada 2026 seiring berbagai isu global dan domestik, mulai dari kebijakan perdagangan internasional hingga dinamika moneter.

Investor juga mencermati rencana perubahan perhitungan free float oleh MSCI yang dinilai dapat berdampak pada saham-saham berkapitalisasi besar, meskipun peluang perubahan kebijakan tersebut dinilai masih terbatas.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya