Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan tujuan dari Cek Kesehatan Gratis (CKG) bukan untuk mendapatkan peserta sebanyak-banyak tapi menyehatkan masyarakat Indonesia. Maka dari itu pada pelaksanaan CKG 2026 peserta yang masuk kategori kurang sehat (rapor kuning) dan tidak sehat (rapor merah) akan segera ditindaklanjuti agar kondisi kesehatannya membaik.
“Orang yang kita identifikasi kurang sehat atau rapor kuning, tidak sehat atau rapor merah itu harus ditindaklanjuti, ditatalaksana agar kembali sehat hingga rapor hijau,” kata Budi dalam konferensi pers evaluasi dan capaian CKG, Jumat (23/1/2026).
Advertisement
Di kesempatan yang sama Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi menyebutkan bahwa pada CKG 2025 pada peserta yang terdeteksi hipertensi dan diabetes akan diedukasi. Namun, pada pelaksanaan mulai tahun ini akan langsung diobati.
Bila hasil CKG menunjukkan peserta mengalami masalah kesehatan seperti hipertensi maka dokter yang menangani akan langsung memberikan obat.
"Tidak perlu bulan depan atau minggu depan tapi hari itu sebelum pulang peserta akan dapat obat," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes drg. Murti Utami di kesempatan yang sama.
Hipertensi, kata Murti, bila tidak segera diobati bisa meningkatkan risiko pasien mengalami stroke. Bila sudah kena stroke, yang menderita bukan cuma peserta tapi juga keluarga.
"Maka hipertensi harus ditemukan, harus diobati," kata Murti.
Penanganan Lanjutan di 15 Hari Pertama Gratis
Bila peserta CKG memiliki masalah kesehatan maka penanganan lanjutan selama 15 hari akan gratis.
"Jadi bukan hanya CKG yang gratis tapi penanganannya pun gratis. Cuma catatannya di 15 hari pertama untuk seluruh 280 juta rakyat Indonesia," tutur Budi.
Setelah 15 hari, pembiayaan pengobatan akan dengan skema BPJS Kesehatan bagi peserta JKN. Namun yang bukan peserta JKN harus membayar.
"Sisanya, harus dikomunikasikan, yang punya BPJS itu gratis tapi kalau masyarakatnya enggak punya BPJS ya bayar," tutur Budi.
Ia pun menyarankan kepada masyarakat Indonesia yang belum menjadi peserta JKN untuk segera mengaktifkan BPJS Kesehatan.
"Itulah saran saya cepat untuk mengaktifkan BPJS, karena bayaranya saya lupa berapa puluh ribu rupiah sebulan, harusnya jauh lebih sedikit dari rokok," lanjutnya.