Liputan6.com, Tashkent - Pemerintah Uzbekistan menargetkan kedatangan 100.000 wisatawan dari Malaysia dan Indonesia untuk wisata ziarah pada periode 2026–2027 melalui Program "Umrah Plus". Target tersebut tertuang dalam resolusi Kabinet Menteri Uzbekistan yang dipublikasikan pada 9 Januari 2026.
Dalam peta jalan program tersebut, pemerintah Uzbekistan menyiapkan berbagai langkah untuk mendorong wisatawan Malaysia dan Indonesia menghabiskan libur Idulfitri dan Iduladha di Uzbekistan. Upaya ini akan dilakukan melalui kampanye promosi pariwisata tematik di kedua negara. Demikian seperti dikutip dari laporan Daryo.
Advertisement
Beberapa kampanye yang akan digelar antara lain bertajuk "Following the Footsteps of Imam Bukhari" dan "Spend Ramadan in Uzbekistan". Khusus di Malaysia, pemerintah Uzbekistan berencana menyelenggarakan roadshow terpisah di wilayah dengan populasi muslim yang besar, seperti Kelantan, Kedah, dan Terengganu.
Rute wisata dalam program "Umrah Plus" akan mencakup sejumlah fasilitas dan destinasi di Kota Tashkent serta wilayah Samarkand dan Bukhara. Untuk mendukung pelaksanaan program ini, Komite Pariwisata Uzbekistan akan memberikan subsidi sebesar USD 100 per wisatawan kepada operator tur yang berhasil mendatangkan wisatawan dari Malaysia dan Indonesia.
Pendanaan subsidi tersebut akan bersumber dari Dana Dukungan Pariwisata. Jumlah wisatawan yang berhak menerima insentif serta mekanisme pembayarannya akan ditetapkan oleh Komite Pariwisata bersama kementerian dan lembaga terkait dalam waktu satu bulan.
Komite Pariwisata, bersama kelompok kerja yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Jamshid Khodjaev, akan menyelesaikan finalisasi program "Umrah Plus" dalam waktu dua minggu, dengan melibatkan operator tur lokal. Selain itu, Badan Warisan Budaya, bekerja sama dengan khokimiyat (pemerintah daerah) Tashkent, Samarkand, dan Bukhara, akan memperkenalkan potongan harga khusus yang diberikan secara sukarela untuk situs warisan budaya, hotel, layanan katering, dan berbagai jasa lainnya bagi peserta program.
Diskon tersebut akan diberlakukan pada periode di luar musim ramai wisata, yaitu pada musim dingin 20 November–20 Februari serta pada musim panas bulan Juli.
Sementara itu, Kementerian Transportasi Uzbekistan, bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Komite Pariwisata, diberi tenggat waktu dua minggu untuk memastikan ketersediaan 10 pesawat dari maskapai lokal maupun asing guna mendukung program ini, termasuk melalui skema penyewaan.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan akses, sejak Agustus 2025, maskapai penerbangan Indonesia telah diberikan hak untuk mengoperasikan penerbangan ke seluruh bandara internasional di Uzbekistan, sehingga mempermudah akses bagi wisatawan asal Indonesia.