Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dan harga perak mencapai rekor tertinggi baru pada hari Senin (Selasa waktu Jakarta), karena investor berbondong-bondong ke aset safe-haven di tengah meningkatnya ketegangan, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan pada negara-negara Eropa terkait perebutan kendali atas Greenland.
Dikutip dari CNBC, Selasa, (20/1/2026), harga emas naik 1,5% menjadi USD 4.663,37 per ons, setelah mencapai titik tertinggi sepanjang masa di USD 4.689,39. Sedangkan harga emas AS untuk pengiriman bulan Februari, harga naik 1,6% menjadi USD 4.669,90 per ons.
Advertisement
Pada hari Sabtu, Trump bersumpah untuk menerapkan gelombang peningkatan tarif pada sekutu Eropa hingga Amerika Serikat diizinkan untuk membeli Greenland, yang memicu eskalasi perselisihan mengenai masa depan pulau Arktik Denmark yang luas itu.
Para duta besar Uni Eropa mencapai kesepakatan luas pada hari Minggu untuk mengintensifkan upaya membujuk Trump agar tidak memberlakukan tarif pada sekutu Eropa, sekaligus mempersiapkan langkah-langkah pembalasan jika bea masuk tersebut tetap diberlakukan.
“Ketegangan geopolitik telah memberi para pelaku pasar emas alasan lain untuk mendorong harga logam mulia ini ke level tertinggi baru,” kata Analis Senior StoneX, Matt Simpson.
“Dengan Trump yang memberlakukan tarif, jelas bahwa ancamannya terhadap Greenland itu nyata, dan kita bisa selangkah lebih dekat menuju berakhirnya NATO dan ketidakseimbangan politik di Eropa," kata dia.
Kontrak berjangka saham AS dan dolar AS merosot karena ancaman tarif terbaru Trump meningkatkan selera investor terhadap emas, yen, dan franc Swiss sebagai aset aman, dalam pergerakan penghindaran risiko yang luas di seluruh pasar.
Lonjakan Harga Emas dan Perak
Emas yang tidak memberikan imbal hasil berkembang pesat dalam lingkungan suku bunga rendah dan selama ketidakpastian ekonomi. Harga perak dan harga emas naik 3,3% menjadi USD 92,93 per ons, setelah mencapai rekor tertinggi USD 94,08.
“Mengenai perak, narasi jangka menengah tetap konstruktif, didukung oleh defisit fisik yang terus berlanjut, permintaan industri yang tangguh, dan permintaan sebagai aset safe-haven,” kata Christopher Wong, seorang ahli strategi di OCBC.
“Namun, laju perpanjangan baru-baru ini mungkin memerlukan kehati-hatian taktis dalam jangka pendek,” kata Wong.
Dia mencatat bahwa rasio emas-perak menurun tajam dari titik tertinggi mendekati 105 pada akhir tahun 2025 menjadi sekitar 50-an, yang menandakan kinerja perak yang luar biasa dibandingkan emas.
Pada logam mulia lainnya, harga spot platinum Harga emas naik 0,9% menjadi $2.348,32 per ons, sementara paladium naik 0,5% menjadi $1.808,46 per ons.
Harga Emas Dunia dan Logam Mulia Bisa Tembus Segini Pekan Ini
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dunia dan logam mulia masih berpotensi bergerak fluktuatif pada pekan ini. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknikal dan tekanan sentimen global yang masih kuat.
“Saya melihat untuk harga emas dunia kemarin ditutup di USD 4.595, kemudian logam mulianya ditutup di Rp 2.688.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Senin (19/1/2026).
Dari sisi teknikal, Ibrahim menjelaskan bahwa jika harga emas dunia mengalami koreksi, level support pertama berada di kisaran USD 4.553 per troy ons, dengan potensi harga logam mulia turun ke sekitar Rp 2.638.000. Apabila tekanan berlanjut hingga support kedua di USD 4.489 per troy ons, harga logam mulia berpeluang turun ke kisaran Rp 2.560.000.
Sebaliknya, jika terjadi penguatan, emas dunia berpeluang menguji resistance pertama di USD 4.655 per troy ons, yang diperkirakan mendorong harga logam mulia ke sekitar Rp 2.700.000. Pada resistance kedua, penguatan emas dunia berpotensi mencapai USD 4.706 per troy ons, dengan harga logam mulia berpeluang bergerak hingga Rp 2.820.000.
Ia menilai pergerakan harga emas dunia dan logam mulia tersebut turut dipengaruhi oleh kembali meningkatnya ketegangan perang dagang global. Kebijakan tarif antara Uni Eropa, Tiongkok, dan Amerika Serikat dinilai memperbesar ketidakpastian ekonomi global yang mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai.
Selain itu, dinamika politik di Amerika Serikat serta eskalasi geopolitik di sejumlah kawasan seperti Eropa dan Timur Tengah juga memberi tekanan pada pasar keuangan global. Kondisi tersebut mendorong bank sentral global meningkatkan kepemilikan logam mulia sebagai langkah antisipasi risiko.
“Kondisi terjadi di Eropa, di Timur Tengah membuat Bank Sentral Global kembali melakukan pembelian terhadap logam mulia secara besar-besaran,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, di dalam negeri, pergerakan harga logam mulia juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga harga emas domestik cenderung bergerak lebih sensitif terhadap tekanan eksternal.
Prediksi Harga Emas Pekan Ini Dibayangi Data Ekonomi AS
Ketegangan geopolitik global yang diikuti gejolak domestik mendorong harga emas menembus rekor tertinggi pekan lalu, seiring volatilitas yang kembali menguat di pasar logam mulia.
Melansir Kitco News, Senin (19/1/2026), harga emas spot mengawali pekan di level USD 4.529,89 per ons. Setelah kabar gugatan Departemen Kehakiman AS terhadap Federal Reserve merebak, harga emas melonjak tajam dan mencapai puncak USD 4.591,53 pada Minggu malam sekitar pukul 19.30.
Harga emas spot diperdagangkan sedikit di bawah USD 4.600 per ons. Setelah sempat terkoreksi ke area support penting di sekitar USD 4.582, pasar AS dibuka dengan sentimen baru terkait langkah pemerintahan Trump yang menyerang The Fed.
Volatilitas tinggi terlihat sejak awal perdagangan. Harga emas spot sempat menembus USD 4.600 dan menyentuh level tertinggi harian di kisaran USD 4.616. Namun, harga kemudian turun tajam ke sekitar USD 4.586 menjelang pembukaan bursa saham, sebelum kembali menguat hingga USD 4.630.