Angin Segar Ekonomi Indonesia di Awal 2026, Simak Indikator Positifnya

Ekonomi Indonesia 2026 dibuka dengan sentimen positif dari pasar saham, inflasi, dan arus modal asing.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 14 Januari 2026, 20:50 WIB
Pasar keuangan hingga inflasi menunjukkan sinyal optimisme ekonomi Indonesia di awal 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Indonesia mengawali tahun 2026 dengan sentimen yang relatif positif. Sejumlah indikator utama, mulai dari pasar keuangan, pasar saham, hingga inflasi, menunjukkan perbaikan dibandingkan awal tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi modal awal yang penting bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas dan arah pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.

Laporan BRI Danareksa Sekuritas menilai titik awal 2026 jauh lebih stabil dibandingkan awal 2025. Perbaikan ini didukung oleh meredanya tekanan global maupun domestik yang sempat membayangi pasar keuangan sepanjang tahun lalu.

“Starting point 2026 terlihat jauh lebih stabil dibandingkan awal 2025, dengan sejumlah headwind utama kini justru mereda,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan terbarunya, Rabu (14/1/2026).

Tekanan yang sebelumnya datang dari penguatan dolar Amerika Serikat, lonjakan imbal hasil (yield) global, serta ketatnya likuiditas kini mulai melunak. Dari sisi global, inflasi yang terus mendingin membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar, terutama dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih akomodatif dinilai dapat menekan laju penguatan dolar AS dan mempersempit diferensial suku bunga, sehingga menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

IHSG Menguat

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Likuiditas global juga masih relatif longgar. Yield jangka pendek cenderung tertahan, sementara kenaikan yield tenor panjang lebih dipicu oleh risiko fiskal dan geopolitik, bukan akibat pengetatan moneter agresif. Situasi ini memberi ruang bagi stabilitas pasar obligasi dan aset berisiko.

Sentimen positif turut tercermin di pasar saham domestik. BRI Danareksa Sekuritas mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 3,4 persen secara year to date dan sempat mencetak rekor tertinggi dengan menembus level psikologis 9.000 pada pekan pertama Januari 2026.

Secara historis, penguatan IHSG di awal tahun kerap menjadi sinyal membaiknya minat risiko investor. Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan bahwa kinerja pasar saham sepanjang tahun tetap sangat bergantung pada kondisi makro dan rotasi sektoral.

Pengalaman pada 2025 menunjukkan, penguatan IHSG juga bisa dipicu oleh reli terbatas pada saham-saham tertentu, sehingga investor tetap perlu mencermati dinamika yang berkembang.

Inflasi Terjaga

Pembeli memilih sayuran saat berbelanja di sebuah pasar di Jakarta, Rabu (1/4/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Maret 2020 terjadi inflasi sebesar 0,10 persen, salah satunya karena adanya kenaikan harga sejumlah makanan, minuman, dan tembakau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari sisi domestik, inflasi mulai bergerak menuju level yang lebih sehat. Inflasi Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen, tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini didorong oleh harga emas, kelompok volatile food, serta penyesuaian harga yang diatur pemerintah.

Inflasi inti yang meningkat secara moderat mencerminkan mulai pulihnya permintaan domestik. Di saat yang sama, kebijakan upah juga dinilai lebih seimbang. Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 rata-rata 5,82 persen dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat tanpa memberikan tekanan berlebihan bagi dunia usaha.

Di sejumlah daerah, seperti Sulawesi Tengah, kenaikan upah bahkan mencerminkan dampak positif dari hilirisasi industri, khususnya nikel.

Meski pergerakan rupiah dan yield masih berfluktuasi, arus dana asing menunjukkan sinyal konstruktif. Investor global mulai mencatatkan net inflow ke pasar obligasi dan saham di awal tahun.

Dengan kombinasi stabilitas makro, inflasi yang lebih terkendali, serta dukungan arus modal, awal kuat 2026 menjadi bekal penting bagi Indonesia dalam menjaga optimisme ekonomi nasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya