Liputan6.com, Jakarta - Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada kondisi saat ini memberi tekanan psikologis yang cukup kuat terhadap pergerakan IHSG.
"Secara mekanisme pasar, pelemahan rupiah biasanya langsung dibaca investor sebagai sinyal meningkatnya risiko makro, khususnya terkait stabilitas eksternal dan arus modal asing," kata Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (13/1/2026).
Advertisement
Dia menuturkan, dalam jangka pendek efeknya memang lebih bersifat sentimen, karena investor asing cenderung menahan inflow bahkan melakukan aksi jual untuk menghindari risiko kurs.
"Hal ini yang membuat IHSG rentan terkoreksi meski secara fundamental banyak emiten belum menunjukkan penurunan kinerja," ujarnya.
Namun, apabila tekanan rupiah berlangsung cukup lama dan disertai volatilitas global yang tinggi, koreksi IHSG berpotensi menjadi lebih dalam karena investor mulai memasukkan faktor risiko nilai tukar ke dalam valuasi saham, terutama saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus dana asing.
Anomali yang Penting dicermati
Hendra menuturkan, melemahnya rupiah justru terjadi saat dolar AS global relatif melemah, ini menjadi anomali yang penting dicermati.
Secara teori, pelemahan dolar AS seharusnya memicu aliran dana masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga mata uangnya menguat.
"Namun dalam kasus Indonesia, faktor domestik justru lebih dominan dibanding sentimen global.
Kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan, kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar, serta persepsi risiko kebijakan ke depan membuat investor asing cenderung selektif," ujarnya.
Perbandingan dengan Negara Tetangga
Hal ini berbeda dengan negara antara lain Malaysia, Thailand, dan Singapura yang mata uangnya relatif menguat karena dianggap memiliki stabilitas eksternal lebih kuat, cadangan devisa yang solid, serta kebijakan moneter yang lebih konsisten di mata investor global.
"Artinya, pelemahan rupiah saat ini bukan semata karena dolar AS, tetapi karena kombinasi faktor domestik dan preferensi risiko investor," ujar dia.
Ternyata Ini Biang Kerok Saham IHSG Anjlok
Sebelumnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah melemah dan sempat anjlok 1% pada perdagangan saham sesi kedua, Senin, (12/1/2026). Koreksi IHSG terjadi di tengah 444 saham melemah.
Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai pelemahan IHSG lebih disebabkan oleh faktor teknikal dibanding sentimen fundamental.
"Lebih ke profit taking, IHSG kan sudah naik lama. Regional juga rata-rata merah kemarin sore," kata Wafi kepada Liputan6.com, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, pasar sudah berada di level jenuh beli setelah reli berkepanjangan, sehingga koreksi menjadi hal yang sulit dihindari.
Selain faktor domestik, tekanan juga datang dari pergerakan bursa regional yang kompak melemah. Kondisi tersebut ikut memengaruhi psikologis investor di pasar saham domestik, sehingga mempercepat aksi jual pada saham-saham yang sebelumnya mencatat kenaikan signifikan.
Koreksi Masih Wajar
IHSG meski sempat turun ke level 8.887 dengan 444 saham melemah, Wafi menegaskan koreksi ini masih tergolong sehat. Secara teknikal, tren jangka menengah IHSG dinilai masih berada dalam fase bullish selama indeks mampu bertahan di atas area 8.750.
Ia menambahkan, pergerakan pasar ke depan cenderung mengarah ke fase konsolidasi. Di tengah volatilitas indeks acuan, pelaku pasar diperkirakan mulai melakukan rotasi sektor, terutama dari saham-saham konglomerasi yang telah naik kencang tahun lalu menuju saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.
Buka Peluang Indeks Saham Unggulan
Rotasi tersebut membuka peluang pada indeks saham unggulan seperti LQ45 dan IDX30.
"Masih koreksi wajar, secara tren turun samapai 8.750 itu masih bullish. Lebih ke konsolidasi, ada potensi rotasi sektor balik ke LQ45/IDX30 dari saham konglo yang tahun lalu sudah naik kenceng dan valuasi sekarang sudah relatif mahal," pungkasnya.
IHSG Tergelincir ke 8.864, Transaksi Harian Saham Tembus Rp 40 Triliun
Sebelumnya, Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona merah pada perdagangan saham Senin, (12/1/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah transaksi harian saham tembus Rp 40 triliun.
Mengutip data RTI,IHSG hari ini ditutup merosot 0,58% ke posisi 8.884,72. Indeks saham LQ45 turun 0,17% ke posisi 866,55. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.
Pada awal pekan ini, IHSG sempat sentuh level tertinggi 9.000,96. Namun, pada sesi kedua, IHSG berbalik arah melemah. IHSG menyentuh level terendah 8.715,41.