Yogyakarta jadi Ruang Belajar Diplomasi Pemuda Dunia Lewat Ajang Global Millennial Model United Nations

Yogyakarta bertransformasi menjadi ruang diplomasi global melalui ajang Global Millennial Model United Nations (GM MUN) 2026.

oleh Tim NewsDiterbitkan 08 Januari 2026, 20:00 WIB
Tugu Golong Gilig, sebagai ikon Kota Yogyakarta

Liputan6.com, Jakarta - Awal tahun 2026 menjadi momen istimewa bagi ratusan generasi muda dari berbagai penjuru dunia.

Selama tiga hari, 2-4 Januari 2026, Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta bertransformasi menjadi ruang diplomasi global melalui ajang Global Millennial Model United Nations (GM MUN) 2026.

Lebih dari 500 pelajar dan mahasiswa dari 10 negara berkumpul, berdiskusi, berdebat, dan bernegosiasi dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ajang ini menjadi ruang strategis bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan diplomasi, kepemimpinan, serta pemahaman isu global secara langsung dan aplikatif.

Mereka datang dengan latar belakang budaya, bahasa, dan perspektif yang beragam, namun disatukan oleh satu tujuan: belajar menjadi diplomat muda yang berpikir global dan bertindak solutif.

GM MUN 2026 menjadi salah satu forum Model United Nations berskala internasional dengan partisipasi terbesar di Indonesia, mencakup peserta pemula hingga tingkat lanjutan.

Konferensi ini diselenggarakan Globy, sebuah lembaga pembinaan yang berfokus pada pengembangan pelajar dan mahasiswa agar siap bersaing di forum internasional.

"Berbeda dari konferensi MUN pada umumnya, GM MUN dirancang beginner-friendly, namun tetap mengedepankan standar akademik global. Hal ini membuat forum ini menjadi pintu masuk ideal bagi pelajar yang baru mengenal dunia diplomasi, sekaligus ruang pengembangan bagi mereka yang telah berpengalaman," ujar Founder & CEO Globy Muflih Dwi Fikri melalui keterangan tertulis, Kamis (8/1/2026).

Dia menyebut, legitimasi GM MUN 2026 juga diperkuat dengan kurasi dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

"Dengan demikian, ajang ini tak sekadar menjadi simulasi, tetapi juga bagian dari ekosistem pengembangan prestasi pelajar nasional," kata Muflih.

 

Dampak Jangka Panjang

Yogyakarta menjadi ruang diplomasi global melalui ajang Global Millennial Model United Nations (GM MUN) 2026. (Ist)

Menurut Muflih, dalam GM MUN 2026, peserta dibagi ke dalam tiga kategori, yakni Junior Level (di bawah 15 tahun), Senior Level (15–18 tahun), dan Open Level (di bawah 30 tahun). Selama konferensi, para delegasi mengikuti simulasi sidang PBB, forum diskusi internasional, hingga kegiatan pertukaran budaya.

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah Ladosan Dhahar, tradisi penyajian makanan ala bangsawan Keraton Yogyakarta. Lewat pengalaman ini, para delegasi tidak hanya belajar diplomasi formal, tetapi juga memahami nilai budaya lokal Indonesia.

Nuansa internasional diperkuat dengan kehadiran delegasi dan dewan juri dari berbagai negara, seperti Italia, Lebanon, Singapura, dan Filipina. Keberagaman ini menghadirkan dinamika diskusi yang kaya akan sudut pandang global dan praktik diplomasi multikultural.

Muflih menilai, pengalaman mengikuti MUN memiliki dampak jangka panjang bagi masa depan akademik dan profesional peserta.

"Pengalaman MUN bukan hanya soal simulasi sidang, tetapi juga rekam jejak prestasi. Banyak peserta memanfaatkan sertifikat GM MUN sebagai nilai tambah saat mendaftar ke universitas top dunia, beasiswa, hingga jalur SNBP. Kami ingin membuka akses agar pelajar Indonesia percaya diri bersaing di level global," kata dia.

 

Antusiasme Peserta

Atmosfer positif GM MUN 2026 di Yogyakarta juga dirasakan oleh Roy El Badawi, Chair sidang asal Lebanon. Ia mengapresiasi antusiasme dan kesiapan para delegasi serta dinamika forum yang terassa hidup sejak hari pertama.

"Kembali ke Indonesia selalu menghadirkan rasa antusias dan kebahagiaan bagi saya. Energi di dalam forum sangat luar biasa dan menginspirasi melihat begitu banyak delegasi terlibat aktif," kata dia.

"Saya juga penasaran melihat perkembangan para delegasi sejak Oktober, bagaimana mereka menerima masukan, meningkatkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan baru. MUN bukan sekadar berdebat tanpa henti, tetapi tentang menjaga sikap, bekerja dalam tim, dan menciptakan lingkungan yang kolaboratif," sambung Roy.

Inspirasi juga datang dari delegasi asal Sunway College, Malaysia Maria Marcela Binti Ridwan (18) yang berhasil meraih penghargaan Best Delegate di Human Rights Council – Chamber One berkat performa dan konsistensinya selama konferensi. Namun, di balik pencapaiannya itu, Maria mengakui bahwa rasa gugup sempat menghampirinya.

"Kepada semua delegasi, percayalah pada diri sendiri dan jangan pernah menyerah. Saya juga sempat ragu di awal, tetapi ketekunan benar-benar membuat perbedaan. Bahkan di forum besar, jika kita konsisten, berusaha maksimal, dan menjaga pola pikir positif, hal-hal baik bisa terjadi," kata Maria.

Keberhasilan GM MUN 2026 tak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta, tetapi juga mempertegas komitmen Globy untuk membangun ekosistem diplomasi pemuda yang berkelanjutan.

Ke depan, Global Millennial MUN dijadwalkan kembali hadir di Jakarta pada 12–14 Juni 2026 dengan skala dan partisipasi internasional yang lebih luas.

Bagi para generasi muda, GM MUN bukan sekadar konferensi tetapi menjadi tempat belajar, bertumbuh, dan membangun kepercayaan diri untuk mengambil peran di panggung global.

Infografis Deretan Negara Berikan Makan Siang Gratis di Sekolah. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya