Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno: Keberhasilan Proyek Waste to Energy Harus Didukung Kesiapan Daerah

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menekankan pentingnya kesiapan daerah untuk keberhasilan proyek Waste to Energy dan pengelolaan sampah berkelanjutan.

oleh Khamelia MarshaDiterbitkan 08 Januari 2026, 17:15 WIB
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno. (Tim Humas MPR RI)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Eddy Soeparno menekankan bahwa keberhasilan proyek Waste to Energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) sangat bergantung pada kesiapan pemerintah daerah. 

Proyek yang dijadwalkan dilaksanakan di 34 titik yang dicanangkan pemerintah. Ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi energi, tetapi juga menjadi terobosan dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Masa transisi perlu dipersiapkan selama pelaksanaan program WTE. Persiapan ini mencakup penguatan sistem pengelolaan sampah dari pengumpulan hingga pemrosesan agar setiap tahap dapat berjalan efektif.

Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi lonjakan sampah yang biasanya terjadi menjelang Lebaran atau hari-hari besar lainnya.

Dengan kesiapan yang matang, proyek diharapkan mampu meminimalkan dampak lingkungan sekaligus memastikan energi yang dihasilkan tetap optimal.

"Persiapan masa transisi ini dapat dilakukan dengan penguatan layanan dasar pengelolaan sampah, optimalisasi pengangkutan sampah, penataan tempat penampungan sementara, serta penertiban praktik pembuangan liar," kata Eddy, melansir Antara, Kamis (8/1/2026). 

Langkah seperti penataan pengangkutan, penertiban pembuangan liar, dan penguatan fasilitas dasar,, menurut Eddy, dinilai penting untuk menjaga pengelolaan sampah di daerah tetap tertib dan efektif.

Kesiapan Daerah jadi Kunci WTE

PLN membina masyarakat mengelola sampah menjadi sumber energi alternatif yang dapat menghasilkan listrik. (Dok PLN)

Dalam fase persiapan WTE, Eddy berdialog dengan Wali Kota dari beberapa daerah prioritas untuk menyelaraskan kapasitas pengolahan dan strategi perubahan perilaku masyarakat.

Tujuannya, kata dia, agar program berjalan efektif dan berdampak positif bagi lingkungan 

Menurut Eddy, banyak aspirasi yang disampaikan kepala daerah terkait pelaksanaan program ini, mulai dari Wali Kota Bandung, Palembang, Tangerang Selatan, Yogyakarta, Manado, Balikpapan, hingga Denpasar.

"Berbagai aspirasi disampaikan seperti misalnya mengenai upaya memaksimalkan kapasitas 1.000 ton hingga bagaimana agar program WTE ini sejalan dengan upaya mengubah perilaku masyarakat di hulunya," kata dia. 

Aspirasi Wali Kota dari kota-kota prioritas, mulai dari Bandung hingga Denpasar, dianggap penting untuk memperkuat strategi pengelolaan sampah dan memastikan program berjalan efektif.

Program WTE Didukung Penuh untuk Atasi Sampah dan Hasilkan Energi

Ilustrasi sampah. (dok. Unsplash.com/Markus Spiske @markusspiske)

Dukungan penuh diberikan terhadap program WTE, yang dianggap sebagai langkah strategis untuk menangani masalah sampah di Indonesia. 

Selama bertahun-tahun, persoalan sampah di Indonesia belum menemukan solusi menyeluruh, sehingga program ini menjadi upaya penting untuk mengatasi tantangan tersebut.

"Terobosan Presiden Prabowo dengan program WTE menjadi kebijakan penting dalam memenuhi hak warga untuk lingkungan hidup yang bersih dan sehat sekaligus menghasilkan energi terbarukan,” terang Eddy.

Selain itu, ia menyebut telah ikut memberikan  sejumlah masukan dalam penyusunan Perpres 109 Tahun 2025 terkait WTE, guna memastikan pelaksanaan program berjalan lancar di lapangan.

"Dalam pembahasan Perpres 109/2025 kami ikut memberikan masukan agar program ini bisa sinergi dengan kesiapan daerah mulai dari pemda, perangkat hingga warga dalam implementasinya," tandas Eddy.

Infografis Journal_ Sisa Makanan Jadi Sampah Dominan di Indonesia (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya