Liputan6.com, Jakarta - Sentimen pasar yang berada pada posisi overweight menjadi salah satu pendorong optimisme terhadap penerbitan surat utang korporasi pada 2026.PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memperkirakan nilai penerbitan obligasi korporasi tahun depan masih berada pada level yang solid, meski tidak setinggi tahun sebelumnya.
Kepala Divisi Riset Ekonomi PEFINDO, Suhindarto, menyebut penerbitan surat utang korporasi pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun. Adapun titik tengah proyeksi tersebut berada di angka Rp 175,77 triliun.
Advertisement
"Dengan sentimen yang overweight untuk tahun 2026 kami memperkirakan penerbitan surat hutang korporasi bisa mencapai antara Rp 154 sampai Rp 196,86 triliun dengan titik tengahnya di Rp 175,77 triliun," kata Suhindarto dalam Media Forum PEFINDO, Selasa (16/12/2025).
Dia menuturkan, prospek tersebut didukung oleh sentimen investor yang masih cukup kuat, seiring dengan ekspektasi kondisi ekonomi domestik yang membaik. Seiring persepsi risiko yang relatif terkendali, obligasi korporasi dinilai masih menjadi instrumen yang menarik bagi investor di tengah dinamika pasar keuangan.
Lebih Rendah dari 2025, Efek Faktor One-Off Tak Berulang
Prospek meski masih positif, PEFINDO memperkirakan penerbitan surat utang korporasi pada 2026 akan lebih rendah dibandingkan dengan realisasi 2025. Penurunan ini dinilai wajar dan tidak mencerminkan pelemahan fundamental pasar obligasi.
Suhindarto menjelaskan, tingginya penerbitan pada 2025 banyak dipengaruhi oleh sejumlah faktor one-off. Salah satunya adalah penerbitan Patriot Bond Danantara yang dilakukan melalui mekanisme tanpa penawaran umum dan berhasil menghimpun dana sekitar Rp 61 triliun sepanjang 2025.
"Memang kalau dibandingkan dengan tahun 2025 seperti saat ini, ini relatif lebih rendah. Tapi memang di tahun 2025 ini banyak sekali faktor one-off yang terjadi gitu ya, termasuk tadi penerbitan Patriot Bond Danantara yang melalui mekanisme tanpa penawaran umum dan bisa menjaring dana kalau di total sekitar Rp 61 triliun ya untuk tahun 2025 ini menjadi faktor one-off tersendiri yang kemungkinan tidak akan terulang di tahun 2026," ujar dia.
Modal Kerja Jadi Tujuan Utama Penerbitan Surat Utang
Dari sisi penggunaan dana, PEFINDO memproyeksikan, penerbitan surat utang korporasi pada 2026 akan didominasi untuk kebutuhan modal kerja.
Hal ini sejalan dengan perspektif ekonomi yang dinilai masih cukup baik dan berpotensi mengalami akselerasi dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut didukung oleh kebijakan fiskal yang ekspansioner serta kebijakan moneter yang diharapkan semakin longgar, khususnya dari sisi suku bunga.
"Maka tujuan penggunaan utama yang akan mewarnai kemungkinan besar kebanyakan akan berasal dari modal kerja, karena tadi kebijakan yang lebih favorable dari pemerintah akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan kalau pertumbuhan ekonomi lebih baik maka permintaan dari masyarakat juga membaik dan prospek bisnis dari perusahaan juga mengalami perbaikan," pungkasnya.
Pasar Obligasi 2025 Dikuasai Non-BUMN, Penerbitan Tembus Rp 133,15 Triliun
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) Irmawati Amran, menilai pasar obligasi korporasi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan pergeseran struktur pendanaan.
Hingga November 2025, nilai penerbitan surat utang korporasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai Rp 198,81 triliun. Dari total tersebut, penerbitan surat utang oleh korporasi non-BUMN mencapai Rp 133,152 triliun, jauh melampaui kontribusi BUMN yang sebesar Rp 65,658 triliun.
"Totalnya sampai dengan November itu adalah Rp 198,8 triliun. Di mana untuk BUMN yang menerbitkan surat utang itu totalnya ada Rp 65,658 triliun. Dan yang non-BUMN ini Rp 133,152 triliun," kata Irma dalam Media Forum PEFINDO, Selasa (16/12/2025).
Ia menilai dominasi non-BUMN ini sebagai sinyal positif bagi pendalaman pasar modal domestik. Menurutnya, korporasi swasta kini semakin percaya diri memanfaatkan instrumen obligasi sebagai sumber pembiayaan utama.
"Jadi, ini menunjukkan aktivitas penggalangan dana di pasar obligasi ini," ujarnya.
Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya peran sektor swasta dalam penggalangan dana jangka menengah dan panjang. Pasar obligasi tidak lagi didominasi oleh emiten pelat merah, melainkan mulai menjadi arena kompetitif bagi seluruh pelaku usaha.
"Untuk yang non-BUMN ini dari tahun ke tahun sudah menunjukkan peningkatan yang sangat baik ya cukup signifikan dibandingin tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.