Thailand Berlakukan Jam Malam Saat Bentrokan dengan Kamboja Belum Mereda

Daerah mana di Thailand yang diberlakukan jam malam? Berikut penjelasannya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 15 Desember 2025, 07:00 WIB
Petani Thailand, Pratuan Chuawong, duduk di dalam bunker dekat sebuah kuil selama bentrokan di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja di Provinsi Sa Kaeo, Thailand, pada Rabu 10 Desember 2025. Lebih dari 500.000 orang telah mengungsi ke tempat aman di Thailand dan Kamboja sejak dimulainya kembali konflik perbatasan. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Liputan6.com, Bangkok - Thailand mengumumkan pemberlakuan jam malam di Provinsi Trat pada Minggu (14/12/2025), setelah pertempuran dengan Kamboja meluas ke wilayah pesisir di kawasan perbatasan yang disengketakan. 

Kedua negara tetangga di Asia Tenggara ini telah beberapa kali menggunakan kekuatan bersenjata sepanjang tahun ini sejak seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan pada Mei lalu, yang kembali memicu konflik dan menyebabkan ratusan ribu orang di kedua sisi perbatasan mengungsi.

"Secara keseluruhan, bentrokan terus terjadi," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand Laksamana Muda Surasant Kongsiri dalam konferensi pers di Bangkok setelah pengumuman jam malam seperti dilansir CNA, meskipun Kamboja kembali menegaskan keterbukaannya terhadap gencatan senjata pada Sabtu (13/12).

Ia mengatakan Thailand terbuka terhadap solusi diplomatik, "Namun, Kamboja harus menghentikan permusuhan terlebih dahulu sebelum kami bisa bernegosiasi."

 

Jam malam di Thailand diberlakukan di lima distrik di Provinsi Trat yang berbatasan dengan Koh Kong, tidak termasuk pulau-pulau wisata Koh Chang dan Koh Kood.

Menurut laporan The Nation, penduduk dilarang keluar rumah antara pukul 19.00 hingga 05.00 di Khlong Yai, Bo Rai, Laem Ngop, Khao Saming, dan Mueang Trat.

Militer sebelumnya juga telah memberlakukan jam malam di empat distrik di Provinsi Sa Keo, yakni Ta Phraya, Khok Sung, Aranyaprathet dan Khlong Hat, yang hingga kini masih berlaku.

Thailand dan Kamboja telah saling menembakkan senjata berat di berbagai titik sepanjang perbatasan mereka yang membentang sejauh 817 kilometer sejak Senin (8/12), dalam salah satu pertempuran paling intens sejak bentrokan selama lima hari pada Juli lalu yang berakhir dengan mediasi Donald Trump dan Malaysia selaku ketua bergilir ASEAN.

 

Thailand Bantah soal Gencatan Senjata

Gelombang pengungsian menjadi konsekuensi paling mengerikan dari eskalasi konflik Kamboja dan Thailand. Tampak dalam foto, para pengungsi berkumpul di kamp sementara di provinsi Banteay Meanchey, Kamboja, pada Sabtu 13 Desember 2025, di tengah bentrokan di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand. (TANG CHHIN SOTHY/AFP)

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa ia telah menyerukan kepada kedua negara agar menghentikan permusuhan lintas batas paling lambat pukul 22.00 waktu setempat pada Sabtu, serta mengusulkan pengerahan tim pengamat ASEAN untuk memantau pelaksanaan gencatan senjata di lapangan.   

Namun, pada Sabtu malam, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul  kembali menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata yang telah dicapai dengan Kamboja. 

Sementara itu, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dalam pernyataannya di Facebook pada Sabtu, mengatakan bahwa ia menyambut baik usulan yang disampaikan oleh Anwar.

Kamboja sendiri telah menutup seluruh perlintasan perbatasannya dengan Thailand. Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyatakan penutupan akan diberlakukan hingga waktu yang belum ditentukan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya