Liputan6.com, Jakarta - Kargo Technologies menilai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berpotensi menjadi solusi efisiensi biaya di sektor logistik, khususnya untuk pengiriman dalam kota. VP Ops Kargo Technologies, Marselinus Erick, mengatakan hasil uji coba enam bulan terakhir Kargo Technologies menunjukkan penghematan signifikan dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin.
"Buat jenis blind van bensin, uang bensinnya sebulan habis di angka 4 jutaan tapi pas kita convert ke listrik, dia listriknya cuma 800 ribu, jadi sekitar 78–80%,” ujarnya kepada wartawan usai Konferensi Pers Kargo Technologies, Selasa (2/12/2025).
Advertisement
Kargo telah mencoba 20 unit EV untuk berbagai tipe operasional, terutama untuk kebutuhan e-commerce dan quick commerce di wilayah Jabodetabek. Erick mengatakan, hasil ini memperkuat keyakinan perusahaan EV dapat menjadi alat penting untuk menurunkan biaya logistik seiring meningkatnya kebutuhan pengiriman cepat di perkotaan.
Adopsi EV Masih Hadapi Tantangan
Namun, ia menegaskan adopsi EV masih menghadapi tantangan, mulai dari infrastruktur pengisian daya hingga kebutuhan modal untuk pembelian unit. Karena itu, Kargo berupaya membangun ekosistem EV yang lebih matang melalui pengoperasian armada sendiri, penyediaan skema sewa, hingga kerja sama dengan manufaktur dan pihak pembiayaan.
"Kita itu inginnya jadi ekosistem buat kendaraan EV komersial sehingga kita juga menjalankan sendiri dan kita sudah punya semua datanya dan kita percaya diri, EV yang available di Indonesia itu sudah lebih dari cukup,” tutur Erick.
Dengan efisiensi energi yang terbukti, Kargo optimistis penggunaan EV dapat menurunkan biaya logistik secara bertahap, terutama ketika kapasitas, jarak tempuh, dan ketersediaan infrastruktur semakin meningkat. Perusahaan kini memprioritaskan elektrifikasi armada internal dan menargetkan perluasan skala penggunaan pada 2026.
Kargo Technologies Bidik Pengoperasian Kendaraan Listrik 2.500 Unit
Sebelumnya, Kargo Technologies memperkenalkan program kemitraan logistik berbasis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Langkah ini menjadi bagian dari rencana perusahaan untuk memperluas penggunaan armada listrik di kawasan Asia Tenggara.
Kargo menargetkan dapat mengoperasikan lebih dari 500 unit kendaraan listrik pada 2025 dan meningkat menjadi 2.500 unit pada 2026. Target tersebut merupakan bagian dari rencana jangka panjang perusahaan yang membidik elektrifikasi penuh operasi logistik pada 2035.
Inisiatif ini sejalan dengan upaya mempercepat penggunaan kendaraan rendah emisi di sektor logistik, serta mendukung arah kebijakan pemerintah terkait energi bersih berdasarkan Permen ESDM No. 10/2025 dan Perpres No. 112/2022. Perusahaan menilai elektrifikasi dapat memperkuat efisiensi jaringan logistik yang menopang kegiatan perdagangan domestik dan regional.
“Kendaraan listrik memungkinkan kita melihat logistik bukan sekadar aktivitas pemindahan barang, tetapi sebagai sebuah sistem terintegrasi yang dapat dianalisis, diukur, dan terus ditingkatkan,” ujar CEO dan Founder Kargo Technologies, Tiger Fang dalam Konferensi Pers, Selasa (2/12/2025).
Kargo Technologies Kolaborasi dengan Perusahaan Besar
Kargo juga mulai berkolaborasi dengan beberapa perusahaan besar seperti SPX, Astro, Teleport, dan Modena untuk mengalihkan sebagian rute pengiriman mereka ke armada listrik.
Pengguna awal ini disebut mulai memasukkan rute tertentu ke dalam sistem EV perusahaan, sejalan dengan roadmap elektrifikasi 2035. Dengan peningkatan jumlah armada, perusahaan memperkirakan transisi tersebut dapat mendukung penurunan emisi serta peningkatan efisiensi operasional.
Dalam jangka panjang, Kargo menyatakan tengah membangun konsep “Electrified Silk Road”, yakni jaringan logistik berbasis teknologi dan armada listrik yang menghubungkan wilayah Asia Tenggara, China, Timur Tengah, hingga negara-negara Global South. Perusahaan menyebut langkah ini diarahkan untuk menciptakan jalur distribusi yang lebih efisien dan transparan dibandingkan model logistik konvensional.