Starbucks Bareng Kementan Tebar 1 Juta Bibit Kopi Unggul dan Latih 200 Agronomis

Starbucks dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menandatangani nota kesepahaman untuk mendorong produktivitas kopi nasional.

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 02 Desember 2025, 14:30 WIB
Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian RI, Abdul Roni Angkat dan Country Manager, Starbucks Farmer Support Center Indonesia, Maysitah Daud, tengah melakukan penandatanganan MOU untuk mendukung petani kopi Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Upaya penguatan industri kopi nasional memasuki babak baru setelah Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Starbucks menandatangani nota kesepahaman strategis yang menandai peluncuran program besar bertajuk Tekad.

Program ini menjadi wujud komitmen Starbucks untuk mendorong pertumbuhan sektor perkebunan kopi Indonesia melalui peningkatan produktivitas, edukasi berkelanjutan, hingga perluasan peluang ekonomi bagi petani di berbagai daerah.

Plt. Dirjen Perkebunan Kementan, Dr. Abdul Roni Angkat, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kemitraan lebih dari satu dekade antara pemerintah dan Starbucks Farmer Support Center Indonesia.

Lewat program Tekad yang berfokus pada empat pilar (Tani, Ekspor, Kopi, Ajar, dan Dana), Starbucks akan menggelontorkan pendanaan untuk empat program utama yang dirancang berjalan sepanjang 2026-2027.

"Program ini mencakup berbagai provinsi seperti Aceh, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan," jelas dia, Selasa (2/12/2025).

Starbucks menargetkan distribusi 1 juta bibit kopi unggul yang tahan penyakit dan perubahan iklim, serta dapat menggantikan pohon tua dengan produktivitas rendah.

Selain itu, Starbucks juga berkomitmen melatih 200 agronomis Indonesia, mendistribusikan 20 unit peralatan pemilahan kopi hemat air, dan melakukan percontohan pengendalian hama berbasis agen hayati di 500 kebun Aceh.

Kementerian Pertanian menyebut program edukasi ini memiliki anggaran sekitar Rp 1,23 triliun, dengan pengembangan lahan ditargetkan mencapai 13,5 ribu hektare pada 2025. Terdapat kanaikan signifikan menjadi 86 ribu hektare dengan pendanaan Rp 142,42 miliar, adapun pemyiapan benih kopi 86 juta batang dengan anggaran Rp 950,62 miliar.

Dengan kolaborasi ini, pemerintah dan swasta berharap dapat memperkuat rantai pasok kopi Nusantara sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

 

Selain Sebar Bibit Kopi, Starbucks juga Ajarkan Pengendalian Hama Ramah Lingkungan

Ilustrasi Starbucks. (AP)

Country Manager Starbucks Farmer Support Center Indonesia, Maysitah Daud, menjelaskan bahwa Starbucks akan menyalurkan lima varietas bibit kopi yang tengah dinilai paling sesuai untuk kebutuhan petani di berbagai daerah. Bibit tersebut meliputi Komasti, Sigarautang, Gayo 1, Gayo 2 Andung Tari, dan Gayo 3.

“Yang kita bagikan bukan hanya bibit, tapi juga ilmu dan transfer knowledge. Kita memilih varietas berdasarkan kebutuhan wilayah, sehingga benar-benar sesuai bagi petani,” ujarnya.

Untuk pengendalian hama, Starbucks memperkenalkan Beauveria bassiana, agen hayati yang efektif melawan penggerek buah kopi — salah satu hama paling merusak dalam industri kopi dunia. Penerapannya akan dilakukan sebagai percontohan di 500 kebun di Aceh.

 

 

 

Target Pelatihan 200 Agronomis dan Pendampingan 15.000 Petani per Tahun

Ilustrasi agronomis ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion

Maysitah juga mengungkapkan bahwa Starbucks menargetkan 200 agronomis lokal untuk dilatih agar mampu memperluas penerapan praktik agronomi berkelanjutan. Melalui sistem pelatihan berantai, setiap agronomis ditargetkan dapat membagikan ilmunya kepada ribuan petani lain.

“Dengan pelatihan ini, kami berharap dapat membantu sekitar 15 ribu petani setiap tahunnya untuk mengadopsi teknik agronomi terbaru,” ujarnya.

Pelatihan tersebut dilakukan melalui integrasi keahlian agronomi internal Starbucks dengan lembaga penelitian seperti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka).

60.000 Petani Sudah Bermitra, Starbucks Klaim Fokus pada Dampak

Petani kopi di Jayawijaya saat memperlihatkan hasil pertanian kopinya. (KabarPapua.co/Katharina)

Maysitah menyebut sampai saat ini terdapat sekitar 60 ribu petani yang memenuhi standar verifikasi melalui audit independen per tahun.

“Kami terbuka untuk semua petani yang ingin bermitra. Mekanismenya bukan langsung ke Starbucks, tapi melalui supplier dan kontak agronomis yang bekerja sama dengan kami,” jelasnya.

Ia memastikan bahwa seluruh petani yang mengikuti standar C.A.F.E Practices berpeluang menjadi mitra pemasok kopi Starbucks.

Maysitah tidak menyebutkan nilai pasti ketika ditanya mengenai jumlah total pendanaan untuk empat program yang diluncurkan, namun ia menekankan bahwa Starbucks lebih memprioritaskan dampak yang diterima oleh petani dan komunitas.

“Impact-nya yang mau kita tonjolkan — ke petaninya, produktivitasnya, dan knowledge yang mereka dapatkan,” ujarnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya