Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Selasa, meski Wall Street sebelumnya ditutup melemah akibat aksi jual besar-besaran di pasar kripto yang menekan sentimen investor.
Bitcoin anjlok sekitar 6 persen hingga diperdagangkan di bawah level USD 86.000, mencatat kinerja harian terburuk sejak Maret. Tekanan ini terjadi setelah mata uang digital tersebut gagal kembali bertahan di atas USD 90.000 sejak akhir bulan lalu.
Advertisement
Kejatuhan bitcoin turut menyeret saham terkait kripto seperti Coinbase dan Strategy yang ikut turun dalam perdagangan Senin.
Saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) juga terkoreksi, dengan Broadcom turun lebih dari 4 persen dan Super Micro Computer melemah lebih dari 1 persen, menandai aksi ambil untung lanjutan di sektor tersebut.
Mengutip CNBC, Selasa (2/12/2025), di awal perdagangan, indeks patokan Nikkei 225 Jepang naik 0,54 persen, sementara Topix menguat 0,44 persen.
Kenaikan juga terjadi pada Kospi Korea Selatan yang naik 1,02 persen, meski indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru turun tipis 0,13 persen.
Inflasi Korea Selatan
Tekanan inflasi kembali mewarnai pasar Korea Selatan. Data resmi pemerintah menunjukkan inflasi utama pada November naik 2,4 persen secara tahunan, lebih tinggi dari proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 2,35 persen. Inflasi inti—yang tidak memasukkan harga pangan segar dan energi—juga naik 2 persen.
Angka tersebut sama dengan laju inflasi pada Oktober, memperkuat pandangan bahwa Bank of Korea berpeluang mempertahankan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Bank sentral Korea Selatan pekan lalu kembali menahan suku bunga di level 2,5 persen untuk keempat kalinya berturut-turut.
Di Australia, indeks ASX/S&P 200 bergerak stabil dan naik 0,12 persen pada awal sesi.
Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng menunjukkan pembukaan lebih tinggi di level 26.219, lebih baik dibanding penutupan terakhir indeks utama tersebut di posisi 26.033,26.
Gerak Wall Street
Dari Amerika Serikat, pergerakan indeks utama Wall Street yang berbalik melemah turut menjadi perhatian pelaku pasar Asia. Aksi jual saham terjadi setelah tiga indeks besar Wall Street mencatat reli lima hari sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan Senin waktu AS, indeks S&P 500 turun 0,53 persen ke 6.812,63. Nasdaq Composite melemah 0.38 persen dan berakhir di 23.275,92. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average anjlok 427,09 poin atau 0,9 persen ke posisi 47.289,33.
Kontrak berjangka saham AS bergerak relatif datar pada awal sesi Asia, menandakan pasar masih berhati-hati setelah tekanan dari sektor kripto dan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi.
Kombinasi pelemahan Wall Street dan rebound tipis di bursa Asia menunjukkan investor tengah mencermati arah sentimen global, khususnya terkait volatilitas aset digital dan prospek inflasi di kawasan.