Turis Asing Dikenai Biaya Masuk Tambahan Rp1,7 Juta, Berlaku di 11 Taman Nasional Terpopuler di Amerika Serikat

Pemerintahan Donald Trump beralasan menaikkan biaya masuk ke taman nasional Amerika Serikat itu untuk mengutamakan 'kepentingan keluarga Amerika'.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 01 Desember 2025, 08:00 WIB
Taman Nasional Grand Canyon (AFP Photo)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintahan Donald Trump benar-benar merealisasikan rencana menaikkan biaya tiket masuk ke taman-taman nasional di Amerika Serikat, termasuk Grand Canyon dan Yellowstone. Kenaikan harga tiket masuk yang berlaku untuk turis asing itu tidak hanya untuk tiket per kunjungan, tetapi juga tiket tahunan.

AFP melaporkan, dikutip Kamis, 27 November 2025, Departemen Dalam Negeri yang mengelola taman-taman nasional AS menyatakan bahwa mulai 2026, turis asing harus membayar biaya tambahan USD 100 dolar (sekitar Rp1,7 juta) di luar harga tiket masuk taman nasional. Kebijakan itu berlaku untuk 11 destinasi terpopuler dalam sistem tersebut.

Sementara, biaya tiket masuk tahunan untuk semua taman nasional akan meningkat lebih dari tiga kali lipat, menjadi USD 250 (sekitar Rp4,2 juta), untuk non-penduduk. Biaya standar tiket masuk taman nasional AS yang dijuluki America the Beautiful yang menawarkan akses tahunan tak terbatas saat ini adalah USD 80 per orang.

"Kepemimpinan Presiden Trump selalu mengutamakan keluarga Amerika," kata Menteri Dalam Negeri Doug Burgum dalam sebuah pernyataan, Selasa, 25 November 2025.

"Kebijakan ini memastikan bahwa para pembayar pajak AS, yang telah mendukung Sistem Taman Nasional, terus menikmati akses yang terjangkau, sementara pengunjung internasional berkontribusi secara adil untuk memelihara dan meningkatkan taman-taman kita bagi generasi mendatang."

Untuk penggunaan harian, beberapa taman mengenakan biaya per kendaraan, dan yang lainnya per orang -- tiket tahunan mencakup semua penumpang ditambah pemegang tiket, atau hingga empat orang dewasa.

WN AS dan Penduduk Tetap Tak Terkena Kenaikan Biaya Masuk

Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat. (dok. NATALIE BEHRING / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Berdasarkan pengumuman, penduduk non-AS yang membeli tiket tahunan tidak akan dikenakan biaya tambahan USD100 untuk masuk ke taman-taman yang paling banyak dikunjungi, termasuk Everglades di Florida, Acadia di Maine, dan Yosemite di California, tetapi biaya tersebut akan berlaku untuk semua pengunjung asing lainnya.

Biaya tambahan yang signifikan bagi sebagian besar orang asing -- warga negara AS dan penduduk tetap tidak akan terdampak -- mengikuti perintah eksekutif Presiden Donald Trump pada bulan Juli yang bertujuan untuk "melestarikan" taman-taman tersebut bagi "keluarga Amerika."

"Warga non-penduduk akan membayar tarif yang lebih tinggi untuk membantu mendukung perawatan dan pemeliharaan taman-taman Amerika," demikian pernyataan Departemen Dalam Negeri.

Departemen tersebut juga menekankan "hari-hari bebas biaya patriotik" bagi warga yang mencakup Hari Presiden, Hari Veteran, dan ulang tahun Trump, yang kebetulan jatuh pada peringatan tahunan Hari Bendera. AS memiliki 63 taman nasional yang menerima ratusan juta pengunjung setiap tahunnya -- hampir 332 juta pada 2024, menurut Dinas Taman Nasional.

Kunjungan Turis Asing ke AS Menurun

Sejumlah turis mengambil foto di depan Air Terjun Niagara, Ontario, Kanada, Senin (9/1). Air terjun Niagara adalah salah satu tempat wisata andalan Amerika Utara. (Geoff Robins/AFP)

Melansir CNN, Selasa, 8 April 2025, di tengah upaya AS mendapatkan pundi-pundi uang dari sektor pariwisata, tingkat kunjungan wisatawan asing ke negeri Paman Sam nyatanya tak seperti yang diharapkan. Data dari Tourism Economics menunjukkan bahwa kunjungan dari wisatawan internasional ke AS diperkirakan turun 5,1 persen, dengan pengeluaran yang menurun sebesar 11 persen.

Penurunan ini mengindikasikan kerugian ekonomi yang signifikan, diperkirakan mencapai 18 miliar dolar AS, sekitar Rp304 ribu. Sierra Malone, seorang spesialis hubungan masyarakat dan pemasaran digital, adalah salah satu dari banyak warga Amerika yang merasakan kecemasan ini.

"Terakhir kali (Trump menjabat), rasanya memalukan; kali ini terasa menakutkan," kata Malone. Dia merasa lebih gugup dari biasanya menjelang perjalanan panjangnya ke Eropa, meski sebelumnya ia adalah pelancong berpengalaman yang pernah tinggal di Inggris selama tiga tahun.

Warga AS Enggan ke Luar Negeri

Bagi kamu yang akan berlibur ke Amerika, bacalah panduan makanan dan barang apa saja yang tidak boleh di bawa dari Transportation Security Administration (TSA) terlebih dahulu, ya! (Foto dok: Freepik/vwalakte).

Perubahan persepsi global terhadap Amerika Serikat juga memengaruhi bagaimana warga Amerika dipandang saat bepergian. Menurut data YouGov, dukungan terhadap AS di Eropa telah menurun drastis sejak Trump menjabat kedua kalinya.

Misalnya, hanya 20 persen warga Denmark yang menyatakan pandangan mendukung AS, turun dari 48 persen pada Agustus 2024. Penurunan ini mencerminkan kekritisan warga Eropa terhadap kebijakan pemerintahan Trump, termasuk posisinya terhadap Ukraina.

Lisa VanderVeen, seorang administrator sekolah dan pelancong yang gemar menghabiskan waktu di luar negeri, merasakan dampak dari kebijakan global pemerintahan saat ini. Kebijakan perdagangan yang kacau dan ancaman tarif tinggi terhadap produk Eropa menambah sorotan negatif terhadap warga Amerika yang bepergian ke luar negeri.

Keengganan warga AS untuk bepergian ke luar negeri dan penurunan jumlah turis asing yang berkunjung ke AS menunjukkan dampak nyata dari kebijakan internasional yang kontroversial. Beberapa negara Eropa bahkan menyarankan warga trans dan non-biner untuk menghindari AS, menambah ketegangan dalam hubungan internasional.

Infografis Taman Nasional di Indonesia yang Termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya