Dampak Shutdown AS Mulai Terasa, Pasar Emas Terguncang

Sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed yang menunggu dan melihat setelah shutdown pemerintahan AS membuat investor melepas aset termasuk emas.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 16 November 2025, 12:15 WIB
Replika emas logam mulia di Butik Emas LM ANTAM, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas menutup pekan ini dengan posisi kurang menguntungkan setelah momentum bullish bertabrakan dengan tekanan jual teknikal yang cukup kuat. 

Sepanjang pekan, pergerakan emas cenderung tidak memiliki arah yang jelas karena investor merespons dinamika ekonomi yang berubah cepat. Situasi ini membuat pasar sulit mempertahankan optimisme yang muncul di awal pekan.

Dikutip dari Kitco.com, Minggu (16/11/2025), emas sempat menyentuh level di atas USD 4.200, namun gagal mempertahankan posisinya. Sentimen pasar berubah ketika pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve bulan depan. Kondisi ini memicu gelombang aksi ambil untung di berbagai instrumen, termasuk emas.

Meskipun pada akhirnya emas menutup pekan dengan kenaikan sekitar 2%, harga komoditas itu tetap turun lebih dari 3% dari level tertinggi minggu ini. Pergerakan tajam tersebut menunjukkan tingginya volatilitas yang dipicu kombinasi faktor teknikal dan ketidakpastian kebijakan moneter. Para analis menilai, reli emas sebelumnya memang terlalu agresif.

Namun, penurunan harga sebesar 3% hanya karena The Fed menahan diri untuk saat ini dinilai sebagian pelaku pasar sebagai reaksi berlebihan. Mereka menilai, fokus utama seharusnya tetap pada fundamental jangka panjang, bukan pada spekulasi jangka pendek terhadap keputusan satu pertemuan Federal Reserve.

Dampak Penutupan Pemerintah AS Mulai Terasa

Di sisi lain, pasar juga dibayangi oleh dampak penutupan pemerintah Amerika Serikat yang berlangsung selama 43 hari, terlama dalam sejarah negara tersebut. 

Penutupan ini menyebabkan sejumlah data ekonomi penting tidak terkumpul, termasuk inflasi konsumen (CPI) untuk bulan Oktober. Karena pengumpulan data dilakukan secara manual, sebagian data kini hilang secara permanen.

Hilangnya data ekonomi tersebut menjadi tantangan besar bagi ekonom yang mengandalkan data historis untuk membuat model dan proyeksi ekonomi. Ketiadaan data yang semestinya menjadi indikator utama membuat analisis menjadi kurang akurat dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini turut mempengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

 

 

Menanti Langkah The Fed

The Fed (www.n-tv.de)

Federal Reserve kemudian menggunakan kurangnya data akibat penutupan ini sebagai dasar untuk mempertahankan suku bunga di pertemuan Desember. 

Langkah tersebut dinilai sesuai dengan prinsip kehati-hatian bank sentral ketika menghadapi ketidakpastian. Bagi sebagian analis, keputusan ini dianggap wajar, tetapi bagi pelaku pasar jangka pendek, hal ini memicu aksi jual di berbagai aset.

Sikap “menunggu dan melihat” dari The Fed membuat sebagian investor panik hingga melepas aset-aset aman seperti emas. Padahal, jika melihat dinamika pasar secara luas, penundaan pemangkasan suku bunga ini tidak serta-merta mengubah arah kebijakan moneter dalam jangka panjang, yang tetap mengarah pada pelonggaran pada 2026.

Fundamental Emas Tetap Kuat

Ilustrasi harga emas hari ini (dok: Foto AI)

Terlepas dari gejolak harga jangka pendek, sejumlah indikator ekonomi tetap menunjukkan bahwa emas masih memiliki fundamental yang solid dalam jangka panjang. Pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai menunjukkan pelemahan signifikan, menandakan tekanan ekonomi yang meningkat. Kondisi ini biasanya menjadi sentimen positif bagi aset lindung nilai seperti emas.

Inflasi yang masih tinggi tetapi tidak meningkat lebih cepat juga memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan dalam beberapa bulan mendatang. Meski tidak terjadi pada Desember, banyak analis meyakini bahwa penurunan suku bunga tetap tidak terhindarkan pada 2026. Prospek tersebut menjadi pendukung utama bagi pasar emas.

Selain itu, tekanan politik terhadap Federal Reserve dari Presiden Donald Trump yang terus mendorong penurunan suku bunga turut membentuk ekspektasi pasar. Kebijakan suku bunga yang lebih longgar cenderung menguntungkan emas karena dapat melemahkan dolar dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven ini.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, keputusan Federal Reserve dalam satu pertemuan saja dipastikan tidak akan mengubah tren besar emas. Pelaku pasar diimbau tetap fokus pada prospek jangka panjang, bukan fluktuasi sesaat yang dipicu oleh reaksi berlebihan pasar terhadap isu kebijakan moneter jangka pendek.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya