Polisi Sebut Terduga Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Jarang Bergaul dan Suka Konten Ekstrem

Asep menjelaskan, hasil penyelidikan sementara terduga pelaku merupakan seorang siswa SMA aktif. Dia bertindak secara mandiri dan tidak terhubung dengan jaringan teror tertentu.

oleh Tim NewsDiterbitkan 11 November 2025, 19:51 WIB
Petugas tim penjinak bom berjaga di pintu masuk SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025. Sebuah ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta di kawasan Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat 7 November 2025 siang. (CANDRA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta- Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi Suheri, menyebut terduga pelaku atau anak berkonflik dengan hukum (ABH) ledakan di SMAN 72 pada Jumat (7/11/2025) dikenal sebagai pribadi tertutup. Pelaku jarang bergaul dan menyukai konten kekerasan.

"ABH yang terlibat dalam kasus ledakan ini dikenal sebagai pribadi yang tertutup, jarang bergaul dan dia juga memiliki ketertarikan pada konten kekerasan serta hal-hal yang ekstrem," kata Asep saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Asep menjelaskan, hasil penyelidikan sementara terduga pelaku merupakan seorang siswa SMA aktif. Dia bertindak secara mandiri dan tidak terhubung dengan jaringan teror tertentu.

PPID Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana menyampaikan hal serupa. Dia mengatakan, terduga pelaku tidak terkait dengan jaringan terorisme mana pun dalam melancarkan aksinya.

"Jadi murni tindakan yang dilakukan adalah tindakan kriminal umum," ungkap Eka.

Terkait dengan nama-nama teroris pada senjata mainan yang dibawa pelaku, Eka menyebut nama dan aksi dari pelaku teror dunia tersebut menjadi inspirasi bagi ABH untuk melakukan ledakan.

"Yang bersangkutan hanya melakukan peniruan itu sebagai inspirasi yang bersangkutan melakukan tindakan," tutup Eka.

Pelaku Sering Merasa Sendirian

Polisi mengungkapkan pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta sering merasa sendirian dan tidak memiliki tempat untuk bercerita tentang keluh kesahnya, baik lingkungan keluarga atau sekolah. Masalah tersebut yang memicu dorongan bagi pelaku melancarkan aksi peledakan sekolah.

"Yang bersangkutan anak berkonflik dengan hukum terdapat dorongan untuk melakukan peristiwa hukum tersebut, dorongan yang bersangkutan merasa sendiri kemudian merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesah," kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin.

Puslabfor Mabes Polri, Ditreskrimum Polda Metro Jaya, dan Satreskrim Polres Metro Jakarta Utara telah menggeledah rumah terduga pelaku. Sebanyak 18 saksi yang terdiri dari korban, guru, siswa, hingga terduga pelaku dan keluarganya sudah diperiksa.

Asep menambahkan, seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan, yaitu Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Rumah Sakit Yarsi, Rumah Sakit Pertamina, Balai Kesehatan Lantamal, Puskesmas Kelapa Gading, dan Rumah Sakit Polri.

Data Korban

Berdasarkan data terakhir, total korban akibat peristiwa tersebut tercatat sebanyak 96 orang dengan rincian 67 orang luka ringan, 26 luka sedang, dan tiga orang luka berat.

"Bahwa 68 orang di antaranya telah diperbolehkan pulang. Sedangkan 28 orang lainnya masih menjalani perawatan," kata Asep.

Untuk 28 orang yang masih menjalani perawatan tercatat ada 13 orang di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, satu orang di Rumah Sakit Polri dan 14 orang di Rumah Sakit Yarsi.

"Sedangkan seluruh korban di Rumah Sakit Pertamina, Balai Kesehatan Lantamal dan Puskesmas Kelapa Gading sudah diperbolehkan pulang," kata Asep.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya