Liputan6.com, Jakarta - Pasar diprediksi lebih tenang pada pekan ini setelah pekan lalu ramai dengan berita emiten dan laporan keuangan.
Mengutip Yahoo Finance, Senin (10/11/2025), saham teknologi pekan lalu mengalami salah satu periode terburuk pada 2025. Hal ini ditunjukkan dengan koreksi saham Palantir dan Nvidia yang mendorong indeks Nasdaq merosot 3%. Indeks ini mencatat pekan terburuknya sejak “Hari Pembebasan”, meski sempat bangkit pada akhir sesi perdagangan.
Advertisement
Indeks S&P 500 melemah 1,7% dan indeks Dow Jones turun mendekati 1,3% pada pekan lalu.
Di sisi lain, penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) atau shutdown pemerintah AS resmi menjadi yang terpanjang dalam pekan lalu dan akan terus berlanjut hingga pekan keena,.
Penutupan pemerintah AS meski terus menghambat rilis data ekonomi resmi pemerintah AS, sumber-sumber industri swasta menunjukkan dampak penutupan pemerintah AS membebani prospek ekonomi.
Sentimen konsumen AS anjlok pada November, mencapai titik terendah dalam tiga tahun terakhir. Hal ini karena kekhawatiran masyarakat Amerika Serikat terhadap dampak penutupan pemerintah terhadap perekonomian dan keuangan pribadi mereka.
Data swasta yang dirilis pekan lalu juga menunjukkan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober mencapai level tertinggi sejak 2003.
Pekan ini, investor akan hadapi sejumlah laporan keuangan hingga kuartal III. Di sektor teknologi, CoreWeave, Oklo, dan Rocket Lab akan merilis laporan keuangan.
Pasar juga akan mencermati laporan keuangan the Walt Disney Company, Paramount Skydance, Brookfield Corporation dan sejumlah perusahaan lainnya.
Dari data ekonomi, penutupan pemerintah yang sedang berlangsung akan menunda rilis laporan Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen dari Biro Statistik Tenaga Kerja yang seharusnya menjadi berita utama data pekan ini, serta data harga ritel dan klaim pengangguran.
Hal ini membuat pekan ini menjadi pekan yang sangat sepi bagi investor dalam hal data. Indeks optimisme usaha kecil dari National Federation of Independent Business dan data pengajuan hipotek dari Mortgage Bankers Association jadi perhatian.
Wall Street Beragam, Kinerja Indeks Nasdaq Terburuk Sejak April 2025
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Jumat, 7 November 2025. Pergerakan wall street yang terjadi seiring saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) cenderung melemah. Selain itu, rilis data ekonomi terbaru juga menambah kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.
Indeks Nasdaq turun 0,21% ke posisi 23.004,54. Hal ini seiring tekanan di saham AI. Berlawanan dengan dua indeks saham acuan lainnya, indeks S&P 500 dan Dow Jones menguat. Indeks S&P 500 menguat tipis 0,13% ke posisi 6.728,80 dan indeks Dow Jones bertambah 74,80 poin atau 0,16% ke posisi 46.987,10. Demikian mengutip CNBC, Sabtu (8/11/2025).
Selama sepekan, tiga indeks acuan di wall street melemah. Hal ini seiring kekhawatiran terhadap valuasi sektor teknologi. Indeks Nasdaq merosot 3%, dan catat kinerja terburuk dalam sepekan sejak 4 April, saat indeks turun 10%. Indeks S&P 500 dan Dow Jones masing-masing melemah lebih dari 1% dalam sepekan.
Kekhawatiran Investor
Saham-saham melonjak dari level terendah setelah Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer menawarkan rencana baru kepada Partai Republik yang akan mengakhiri penutupan pemerintah Amerika Serikat yang memecahkan rekor.
Berdasarkan proposal itu pendanaan jangka pendek akan disediakan untuk operasional pemerintah federal dengan imbalan perpanjangan satu tahun kredit pajak undang-undang perawatan terjangkau yang ditingkatkan.
Di tengah penghentian itu, kekhawatiran investor terhadap kekuatan ekonomi Amerika Serikat semakin meningkat. Sebuah survei dari Universitas Michigan mengungkapkan pada Jumat kalau sentimen konsumen telah mendekati level terendahnya.
Data itu muncul hanya sehari setelah perusahaan Challenger, Gray & Christmas melaporkan pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober mencapai level tertinggi untuk bulan tersebut dalam 22 tahun.
Dampak Shutdown
Investor hanya mendapatkan sedikit informasi mengenai data ekonomi karena penutupan yang sedang berlangsung. Biro Statistik Tenaga Kerja seharusnya merilis laporan penggajian nonpertanian pada Jumat.
Namun, untuk bulan kedua berturut-turut, mereka tidak dapat melakukannya. Para ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan laporan tersebut akan menunjukkan penurunan 60.000 lapangan kerja dan peningkatan tingkat pengangguran menjadi 4,5%.
Senat diperkirakan memberikan suara pada Jumat untuk memajukan langkah pendanaan sementara yang telah disahkan DPR. Kesenjangan pendanaan federal terlama yang pernah ada ini telah menimbulkan ancaman bagi aktivitas ekonomi, termasuk menyebabkan gangguan penerbangan akibat kekurangan pengendali lalu lintas udara, yang telah bekerja tanpa bayaran sejak Oktober.