Kongres Peru Nyatakan Presiden Meksiko sebagai Persona Non Grata

Apa yang memicu Kongres Peru menetapkan presiden Meksiko sebagai persona non grata?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 08 November 2025, 07:01 WIB
Claudia Sheinbaum tercatat sejarah sebagai presiden perempuan pertama Meksiko. Dia juga merupakan Yahudi pertama yang memimpin negara di Amerika Utara itu. (Dok. Eduardo Verdugo)

Liputan6.com, Lima - Kongres Peru telah memutuskan untuk menyatakan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum sebagai persona non grata atau tidak diterima di negara tersebut. Keputusan ini diambil hanya beberapa hari setelah Peru memutuskan hubungan diplomatik dengan Meksiko, menyusul langkah pemerintah Meksiko yang memberikan suaka politik kepada mantan Perdana Menteri Peru Betssy Chavez, yang menghadapi tuduhan terkait upaya kudeta pada tahun 2022.

Chavez, yang saat ini berlindung di Kedutaan Besar Meksiko di Lima, membantah keterlibatannya dalam rencana mantan Presiden Pedro Castillo untuk membubarkan kongres. Pemerintah Meksiko menegaskan bahwa pemberian suaka tersebut dilakukan sesuai hukum internasional, serta menolak tuduhan Peru yang menyebut langkah itu sebagai tindakan tidak bersahabat.

Melansir BBC, deklarasi yang menyatakan Sheinbaum sebagai persona non grata disetujui melalui pemungutan suara 63 mendukung dan 33 menolak di Kongres Peru. Dalam sesi tersebut, beberapa anggota legislatif juga menuduh Sheinbaum memiliki hubungan dengan perdagangan narkoba, meskipun tanpa bukti yang mendukung klaim tersebut.

Chavez sebelumnya ditahan pada Juni 2023 atas tuduhan pemberontakan terhadap kekuasaan negara dan konspirasi terkait rencana Castillo membubarkan lembaga legislatif Peru. Ia kemudian dibebaskan dengan jaminan pada September 2023 dan tetap membantah seluruh tuduhan. Jaksa penuntut umum Peru kini menuntut hukuman 25 tahun penjara atas tuduhan tersebut.

 

 

 

Jejak Ketegangan di Masa Lalu

Menteri Luar Negeri Peru Hugo de Zela mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa para ahli hukum sedang meninjau Konvensi Caracas tahun 1954 tentang suaka diplomatik, yang digunakan Meksiko untuk membenarkan pemberian suaka kepada Chavez.

Awal pekan ini, de Zela menyatakan bahwa Meksiko berusaha menggambarkan para pelaku upaya kudeta sebagai korban.

"Kenyataannya, rakyat Peru hidup dan ingin terus hidup dalam demokrasi, sebagaimana diakui oleh seluruh negara di dunia, dengan satu-satunya pengecualian yaitu Meksiko," ujarnya.

Pemerintah Peru juga menuduh Meksiko telah berulang kali mencampuri urusan dalam negeri Peru, baik oleh presiden saat ini maupun presiden sebelumnya.

Pada tahun 2022, Lima mengusir duta besar Meksiko setelah negara itu memberikan suaka kepada istri dan anak-anak Castillo menyusul penangkapannya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya